Perjalanan perawatan
Cerita Bapak Suyanto.
Selama bertahun-tahun, Pak Suyanto merasa tubuhnya baik-baik saja dan tidak pernah merasakan keluhan pada jantung. Justru dari pemeriksaan kesehatan rutin yang ia jalani setiap tahun, terungkap adanya gangguan irama jantung yang perlu ditangani lebih lanjut.
Temuan dari MCU Berkala
Pak Suyanto terbiasa menjalani medical check-up (MCU) setiap tahun. Pada salah satu pemeriksaan, hasil elektrokardiogram (EKG), yaitu rekaman aktivitas listrik jantung, menunjukkan pola yang tidak biasa. Dari pemeriksaan lanjutan, Pak Suyanto diketahui mengalami aritmia atau gangguan irama jantung, dengan diagnosis Sindrom Brugada.
Sindrom Brugada adalah kelainan pada sistem listrik jantung yang dapat memicu irama bilik jantung yang sangat cepat dan tidak teratur. Pada sebagian orang, kondisi ini tidak menimbulkan gejala sama sekali, tetapi membawa risiko henti jantung mendadak. "Ternyata ada gangguan pada jantung saya, yaitu aritmia yang bisa membuatnya berhenti tiba-tiba," kata Pak Suyanto.
Menimbang Keputusan Bersama Keluarga
Dokter menyarankan pemasangan S-ICD (subcutaneous implantable cardioverter defibrillator), alat kecil yang ditanam di bawah kulit untuk memantau irama jantung dan memberikan kejutan listrik bila muncul irama yang berbahaya. Berbeda dengan ICD konvensional, kabel S-ICD diletakkan di bawah kulit, bukan di dalam jantung. Tujuannya adalah perlindungan: alat ini berjaga bila sewaktu-waktu jantung mengalami irama yang dapat berujung henti jantung.
Pak Suyanto tidak langsung setuju. "Awal mulanya sebenarnya saya juga menolak," ujarnya. Karena merasa sehat dan tidak punya keluhan, ia butuh waktu untuk memahami mengapa alat ini perlu dipasang. Ia lalu meminta pertimbangan keluarga. Setelah memahami penjelasan dokter tentang risiko jantung berhenti mendadak, ia memutuskan untuk menjalani tindakan. Meski terasa berat, ia memandangnya sebagai langkah berjaga-jaga.
Menjalani Pemasangan dan Hidup Bersama S-ICD
Pemasangan S-ICD dilakukan di Heartology pada 9 Maret 2024. Bagi Pak Suyanto, prosesnya tidak serumit yang ia bayangkan. Ia juga merasa alat ini tidak menuntut perawatan khusus dalam kesehariannya.
Saat video direkam, Pak Suyanto merasa dalam keadaan baik dan menyampaikan terima kasih kepada tim Heartology yang membantunya menangani masalah ini. Pengalamannya menunjukkan bahwa gangguan irama jantung tidak selalu memberi tanda, sehingga pemeriksaan rutin dapat membantu menemukannya lebih awal.
Pesannya untuk Anda sederhana: jangan menunggu keluhan untuk memeriksakan diri. "Kalau mau mengetahui kondisi badan kita, ya check up rutin tiap tahun," katanya. Bila hasil pemeriksaan Anda menunjukkan sesuatu yang tidak biasa, diskusikan dengan dokter jantung untuk menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.
Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.
Dengarkan langsung
Cerita dalam Suaranya Sendiri.
Pemasangan S-ICD pada Pasien Sindrom Brugada: Kisah Pak Suyanto
Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 2 menit 20 detik.
Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.


