Langsung ke konten

Gangguan Tiroid

Hipertiroidisme

Hyperthyroidism / Overactive Thyroid

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis kelenjar tiroid yang membesar dan terlalu aktif terhubung ke jantung berdebar cepat, dengan inset yang menunjukkan fibrilasi atrium serta folikel tiroid yang melepaskan banyak hormon ke aliran darah.
Ilustrasi Hipertiroidisme

Jawaban singkat

Apa Itu Hipertiroidisme?

Hipertiroidisme adalah keadaan ketika kelenjar tiroid membuat hormon terlalu banyak, sehingga kerja tubuh dan jantung menjadi terlalu cepat. Keluhannya antara lain berdebar, tangan gemetar, berat badan turun, dan mudah berkeringat.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Denyut sangat cepat atau tidak teratur disertai pusing atau hampir pingsan
  • Nyeri dada, atau sesak napas saat istirahat atau berbaring
  • Demam tinggi disertai gelisah berat, bingung, atau mengigau
  • Muntah, diare berat, atau kulit dan mata menguning
  • Kelemahan otot mendadak pada kedua tungkai sampai tidak bisa berdiri
  • Lemah satu sisi tubuh, wajah mencong, atau bicara pelo

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Hipertiroidisme perlu diobati karena kelebihan hormon yang berlangsung lama dapat memicu fibrilasi atrium, stroke, gagal jantung, dan pengeroposan tulang. Dengan pengobatan, kadar hormon umumnya dapat dikendalikan dan banyak keluhan jantung ikut membaik.

Mengenal Hipertiroidisme

Hipertiroidisme adalah keadaan ketika kelenjar tiroid di leher bagian depan membuat hormon tiroid (T4 dan T3) lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh. Karena hormon ini mengatur kecepatan kerja sel, kelebihannya membuat tubuh seperti terus dipacu: jantung berdenyut cepat, energi cepat terbakar, berat badan turun, dan tubuh mudah kepanasan. Istilah tirotoksikosis dipakai untuk semua keadaan kelebihan hormon tiroid, termasuk yang tidak berasal dari kelenjar yang terlalu aktif, misalnya akibat peradangan tiroid atau obat hormon tiroid yang berlebih. Hipertiroidisme termasuk kelompok gangguan tiroid, yang dibahas di halaman Gangguan Tiroid.

Penyebab yang Umum

Penyebab yang banyak dijumpai adalah penyakit Graves, yaitu penyakit autoimun ketika antibodi terus merangsang kelenjar tiroid. Graves dapat disertai gangguan mata, seperti mata menonjol, terasa berpasir, atau penglihatan ganda. Penyebab lain adalah benjolan tiroid yang bekerja sendiri (adenoma toksik atau gondok multinodul toksik), peradangan tiroid yang membuat hormon simpanan bocor ke darah, kelebihan yodium, dan obat seperti amiodaron.

Dampak pada Jantung

Kelebihan hormon tiroid langsung memengaruhi jantung. Denyut saat istirahat sering lebih dari 100 kali per menit, dan debar dapat terasa sepanjang hari. Sebagian orang, terutama lansia, mengalami fibrilasi atrium: irama serambi jantung yang tidak teratur dan dapat memicu stroke. Keadaan ini dibahas di halaman Fibrilasi Atrium. Tekanan darah atas cenderung naik, sementara tekanan bawah tetap atau turun. Jantung yang terus dipacu lama-kelamaan dapat kelelahan sampai terjadi gagal jantung, dan pada penyandang penyakit jantung koroner nyeri dada lebih mudah muncul.

Dapat Dikendalikan

Hipertiroidisme umumnya dapat dikendalikan dengan obat antitiroid, terapi iodium radioaktif, atau operasi. Sambil menunggu hormon turun, obat penyekat beta membantu meredakan debar dan gemetar. Bila TSH rendah tetapi FT4 dan FT3 masih normal, keadaannya disebut hipertiroidisme subklinis; dokter menimbang usia, keadaan jantung, dan kepadatan tulang sebelum memutuskan perlu tidaknya pengobatan. Setelah kadar hormon normal, banyak orang dengan fibrilasi atrium akibat hipertiroidisme kembali ke irama normal, dan kekuatan pompa jantung dapat pulih. Karena itu, mengenali dan mengobati hipertiroidisme lebih awal ikut melindungi jantung.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Jantung berdebar atau denyut cepat, juga saat istirahat
  • Tangan gemetar
  • Berat badan turun meski nafsu makan bertambah
  • Mudah kepanasan dan banyak berkeringat
  • Cemas, gelisah, mudah marah, atau sulit tidur
  • Otot lengan dan paha terasa lemah, mudah lelah
  • Buang air besar lebih sering
  • Leher membesar atau mata tampak menonjol

Gejala pada Perempuan Dewasa

  • Haid lebih sedikit, lebih jarang, atau berhenti
  • Sulit hamil
  • Berdebar, gelisah, dan berat badan turun dalam beberapa bulan setelah melahirkan

Gejala pada Lansia

Pada lansia, debar dan gemetar bisa tidak menonjol; keluhan lebih sering berupa lemas dan gangguan jantung.

  • Lemas, lesu, dan kurang bersemangat
  • Berat badan dan nafsu makan turun
  • Denyut tidak teratur akibat fibrilasi atrium
  • Sesak napas atau bengkak tungkai karena gagal jantung
  • Nyeri dada yang baru muncul atau memburuk
  • Bingung atau sulit berkonsentrasi
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Penyakit Graves: antibodi merangsang kelenjar tiroid membuat hormon terus-menerus
  • Gondok multinodul toksik, yaitu beberapa benjolan tiroid yang membuat hormon sendiri
  • Adenoma toksik, yaitu satu benjolan tiroid yang terlalu aktif
  • Tiroiditis, yaitu peradangan tiroid setelah infeksi virus, setelah melahirkan, atau tanpa nyeri, yang membuat hormon bocor ke darah
  • Kelebihan yodium, misalnya dari obat amiodaron, zat kontras, atau suplemen
  • Minum obat hormon tiroid melebihi kebutuhan
  • Tumor kelenjar hipofisis yang membuat TSH berlebihan (jarang)

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Penyakit autoimun lain seperti diabetes tipe 1, vitiligo, atau anemia pernisiosa, benjolan tiroid yang sudah ada, serta pemakaian amiodaron atau zat kontras beryodium.

Genetik

Riwayat penyakit Graves atau tiroiditis autoimun pada orang tua atau saudara kandung.

Gaya Hidup

Merokok meningkatkan risiko penyakit Graves dan memperberat gangguan mata akibat Graves. Suplemen yodium berlebihan dapat memicu hipertiroidisme pada kelenjar yang berbenjol.

Usia

Penyakit Graves banyak muncul pada usia dewasa muda sampai paruh baya, sedangkan gondok multinodul toksik lebih banyak pada usia di atas 60 tahun.

Lainnya

Perempuan lebih sering mengalami hipertiroidisme dibandingkan laki-laki. Satu tahun setelah melahirkan juga dapat memicu tiroiditis atau kambuhnya penyakit Graves.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Perempuan Usia Subur: Penyakit Graves dan tiroiditis setelah melahirkan lebih banyak dialami perempuan, sehingga debar setelah persalinan perlu diperiksa.
  • Lansia: Hipertiroidisme pada lansia sering samar, tetapi lebih mudah memicu fibrilasi atrium dan gagal jantung.
  • Pengguna Amiodaron: Obat irama jantung ini mengandung banyak yodium dan dapat memicu tiroid terlalu aktif, sehingga fungsi tiroid perlu dipantau berkala.
  • Penyandang Benjolan Tiroid: Benjolan tiroid dapat menjadi terlalu aktif, terutama setelah mendapat yodium dalam jumlah besar, misalnya dari zat kontras.
  • Penyandang Penyakit Jantung: Kelebihan hormon tiroid dapat memperberat angina, gagal jantung, dan gangguan irama yang sudah ada.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dokter menanyakan keluhan, lama gejala, obat dan suplemen yang diminum, riwayat kehamilan, serta riwayat keluarga, lalu memeriksa nadi, tekanan darah, leher, mata, kulit, dan gemetar pada tangan. Diagnosis dipastikan dengan tes darah: TSH yang rendah disertai FT4 atau FT3 yang tinggi menunjukkan hipertiroidisme.

Langkah berikutnya mencari penyebab, karena penanganan penyakit Graves, benjolan yang terlalu aktif, dan tiroiditis berbeda. Tes antibodi TRAb, USG tiroid, dan pemindaian tiroid membantu membedakannya. Bersamaan dengan itu, jantung dinilai dengan EKG, rekaman irama bila debar hilang timbul, dan ekokardiografi bila ada sesak atau fibrilasi atrium. Pada fibrilasi atrium, dokter juga menghitung risiko stroke untuk memutuskan perlu tidaknya obat pengencer darah.

  1. Pemeriksaan Fungsi Tiroid

    Tes darah TSH, FT4, dan FT3. TSH rendah dengan FT4 atau FT3 tinggi memastikan hipertiroidisme; TSH rendah dengan FT4 dan FT3 normal disebut hipertiroidisme subklinis.

  2. Tes antibodi reseptor TSH (TRAb) untuk memastikan penyakit Graves.

  3. USG tiroid dengan Doppler untuk menilai ukuran kelenjar, aliran darahnya, dan benjolan.

  4. Pemindaian tiroid kedokteran nuklir untuk membedakan Graves, benjolan yang terlalu aktif, dan tiroiditis. Pemeriksaan ini tidak dilakukan saat hamil atau menyusui.

  5. Elektrokardiogram / EKG

    EKG untuk melihat denyut cepat, fibrilasi atrium, atau gangguan irama lain.

  6. Pemantauan Holter

    Rekaman irama 24 sampai 48 jam bila debar datang dan pergi, untuk menangkap gangguan irama yang tidak terekam pada EKG biasa.

  7. Ekokardiografi

    Ekokardiografi untuk menilai kekuatan pompa, ukuran serambi, dan tekanan paru bila ada fibrilasi atrium, sesak, atau tanda gagal jantung.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Obat Penyekat Beta

Meredakan debar, gemetar, dan gelisah dengan memperlambat denyut jantung, sambil menunggu pengobatan lain menurunkan hormon. Jenis obat dipilih dokter sesuai keadaan jantung dan paru.

Obat Antitiroid

Obat golongan tionamida menekan pembuatan hormon tiroid. Pada penyakit Graves biasanya diminum 12 sampai 18 bulan dengan tes darah berkala. Hubungi dokter hari itu juga bila muncul demam atau sakit tenggorokan.

Terapi Iodium Radioaktif

Kapsul atau cairan iodium radioaktif diminum untuk mengecilkan jaringan tiroid yang terlalu aktif. Setelahnya sering timbul hipotiroidisme yang diatasi dengan hormon pengganti. Tidak diberikan saat hamil atau menyusui.

Operasi Tiroid

Pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar, dipertimbangkan pada gondok besar, benjolan yang dicurigai, penyakit mata Graves sedang sampai berat, atau bila obat tidak cocok.

Penanganan Irama dan Pencegahan Stroke

Pada fibrilasi atrium, dokter jantung mengendalikan denyut dan menilai perlunya obat pengencer darah. Bila irama tidak kembali normal setelah hormon terkendali, kardioversi atau ablasi dapat dipertimbangkan.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Fibrilasi Atrium

Irama serambi yang tidak teratur, lebih sering pada lansia. Banyak kasus kembali ke irama normal setelah hormon terkendali, tetapi sebagian menetap dan perlu penanganan irama.

Stroke

Bekuan darah dapat terbentuk di serambi selama fibrilasi atrium lalu terbawa ke otak. Risiko ini dinilai dokter untuk menentukan perlunya obat pengencer darah.

Gagal Jantung

Denyut yang terus cepat membuat otot jantung kelelahan. Pompa jantung sering membaik setelah kadar hormon normal dan denyut terkendali.

Krisis Tiroid

Lonjakan hormon yang ekstrem, biasanya dipicu infeksi, operasi, persalinan, atau obat antitiroid yang dihentikan mendadak. Ditandai demam tinggi, denyut sangat cepat, dan gelisah berat, dan perlu perawatan intensif.

Pengeroposan Tulang

Kelebihan hormon dalam waktu lama mempercepat hilangnya kepadatan tulang, terutama pada perempuan setelah menopause, sehingga tulang lebih mudah patah.

Penyakit Mata Graves

Peradangan jaringan di belakang bola mata yang membuat mata menonjol, merah, berair, atau penglihatan ganda. Merokok memperberat keadaan ini.

Paralisis Periodik Tirotoksik

Serangan lemah otot mendadak akibat kalium darah turun, lebih banyak dialami laki-laki Asia. Kalium yang rendah juga dapat mengganggu irama jantung.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Jangan minum suplemen yodium, kapsul rumput laut, atau suplemen kelenjar tanpa saran dokter
  • Berhenti merokok untuk menurunkan risiko Graves dan melindungi mata
  • Bila minum obat hormon tiroid, ikuti dosis dari dokter dan cek TSH berkala
  • Beri tahu dokter tentang benjolan tiroid sebelum pemeriksaan dengan zat kontras
  • Periksakan fungsi tiroid berkala bila Anda minum amiodaron
  • Jangan menghentikan obat antitiroid sendiri karena dapat memicu kambuh atau krisis tiroid
  • Periksakan diri bila berdebar dan berat badan turun dalam setahun setelah melahirkan

Kapan Harus ke Dokter?

Buat janji dengan dokter bila Anda mengalami beberapa keluhan berikut selama lebih dari dua minggu, atau bila keluhan mengganggu aktivitas.

  • Jantung berdebar atau denyut saat istirahat terasa cepat
  • Berat badan turun tanpa diet
  • Tangan gemetar, mudah berkeringat, dan sulit tidur
  • Benjolan atau pembesaran leher
  • Mata menonjol, terasa berpasir, atau penglihatan ganda
  • Demam atau sakit tenggorokan saat minum obat antitiroid: hubungi dokter hari itu juga

Segera ke IGD bila denyut sangat cepat disertai nyeri dada, sesak, atau hampir pingsan, bila demam tinggi disertai gelisah atau bingung, atau bila tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tungkai.

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang hipertiroidisme dan dampaknya pada jantung.

Apakah hipertiroidisme bisa menyebabkan fibrilasi atrium?

Bisa. Kelebihan hormon tiroid membuat serambi jantung mudah mengalami irama tidak teratur, terutama pada lansia dan orang yang sudah memiliki penyakit jantung. Karena itu, fungsi tiroid diperiksa pada setiap fibrilasi atrium yang baru ditemukan. Setelah kadar hormon normal, banyak orang kembali ke irama normal dalam beberapa bulan. Sementara itu, dokter menilai risiko stroke dan perlunya obat pengencer darah.

Apakah debar jantung akan hilang setelah tiroid diobati?

Pada kebanyakan orang, ya. Obat penyekat beta biasanya meredakan debar dalam beberapa hari, sementara obat antitiroid menurunkan hormon dalam beberapa minggu. Bila debar menetap setelah hormon normal, dokter jantung akan mencari gangguan irama lain dengan EKG atau rekaman irama selama beberapa hari, karena penyebabnya mungkin bukan hanya tiroid.

Bagaimana memilih antara obat, iodium radioaktif, dan operasi?

Tidak ada satu pilihan yang cocok untuk semua orang. Obat antitiroid sering dicoba lebih dulu pada penyakit Graves dan dapat membuat penyakit mereda. Iodium radioaktif dan operasi memberi hasil yang lebih menetap, tetapi umumnya membuat Anda perlu hormon pengganti seumur hidup. Dokter mempertimbangkan penyebab, usia, ukuran gondok, keadaan mata, rencana kehamilan, dan pilihan Anda.

Apakah hipertiroidisme bisa kambuh?

Bisa, terutama pada penyakit Graves. Sekitar separuh orang dengan Graves kambuh setelah obat antitiroid dihentikan, umumnya dalam satu sampai dua tahun pertama. Risiko kambuh lebih tinggi pada gondok besar, kadar antibodi TRAb yang tinggi, dan perokok. Karena itu, tes darah tetap dilakukan berkala setelah pengobatan selesai, dan debar yang muncul kembali sebaiknya segera diperiksakan.

Bolehkah berolahraga saat hipertiroidisme belum terkendali?

Sebaiknya tunda olahraga berat sampai denyut jantung dan kadar hormon terkendali, karena jantung sudah bekerja lebih keras dari biasanya. Aktivitas ringan seperti berjalan santai umumnya boleh selama tidak menimbulkan debar berat, nyeri dada, atau sesak. Tanyakan kepada dokter kapan Anda dapat kembali berolahraga seperti biasa.

Bagaimana jika hipertiroidisme terjadi saat hamil?

Hipertiroidisme saat hamil perlu ditangani bersama dokter penyakit dalam dan dokter kandungan. Pilihan obat antitiroid disesuaikan dengan usia kehamilan, dan iodium radioaktif tidak boleh diberikan. Mual muntah berat di awal kehamilan kadang membuat hormon tiroid naik sementara tanpa penyakit tiroid. Bila Anda memiliki riwayat Graves dan merencanakan kehamilan, konsultasikan lebih dulu.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Ross DS, Burch HB, Cooper DS, Greenlee MC, Laurberg P, Maia AL, et al. 2016 American Thyroid Association guidelines for diagnosis and management of hyperthyroidism and other causes of thyrotoxicosis. Thyroid. 2016;26(10):1343-421.
  2. Kahaly GJ, Bartalena L, Hegedüs L, Leenhardt L, Poppe K, Pearce SH. 2018 European Thyroid Association guideline for the management of Graves' hyperthyroidism. Eur Thyroid J. 2018;7(4):167-86.
  3. Wiersinga WM, Poppe KG, Effraimidis G. Hyperthyroidism: aetiology, pathogenesis, diagnosis, management, complications, and prognosis. Lancet Diabetes Endocrinol. 2023;11(4):282-98.
  4. Lee SY, Pearce EN. Hyperthyroidism: a review. JAMA. 2023;330(15):1472-83.
  5. Van Gelder IC, Rienstra M, Bunting KV, Casado-Arroyo R, Caso V, Crijns HJGM, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of atrial fibrillation developed in collaboration with the European Association for Cardio-Thoracic Surgery (EACTS). Eur Heart J. 2024;45(36):3314-414.
  6. Razvi S, Jabbar A, Pingitore A, Danzi S, Biondi B, Klein I, et al. Thyroid hormones and cardiovascular function and diseases. J Am Coll Cardiol. 2018;71(16):1781-96.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Hipertiroidisme

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi