Langsung ke konten

Penyakit Arteri Perifer

Klaudikasio Intermiten

Intermittent Claudication

Ditinjau secara medis olehdr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D., Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi penyakit arteri perifer dengan klaudikasio intermiten, memperlihatkan arteri paha yang menyempit akibat plak, aliran darah ke tungkai berkurang, dan otot betis terasa kram saat berjalan lalu membaik ketika beristirahat.
Ilustrasi Klaudikasio Intermiten

Jawaban singkat

Apa Itu Klaudikasio Intermiten?

Klaudikasio intermiten adalah nyeri, kram, atau pegal di otot kaki yang muncul saat berjalan dan reda setelah istirahat beberapa menit. Keluhan ini merupakan gejala khas penyakit arteri perifer dan dapat membaik dengan latihan berjalan yang teratur.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri kaki saat istirahat atau pada malam hari
  • Jarak berjalan sebelum nyeri muncul memendek dengan cepat
  • Luka di kaki atau jari yang tidak sembuh
  • Jari kaki berubah kebiruan atau hitam
  • Kaki mendadak dingin, pucat, dan sangat nyeri
  • Kaki mendadak kebas, lemah, atau sulit digerakkan

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Klaudikasio tidak mengancam tungkai dalam waktu dekat, tetapi menandakan penyakit arteri perifer dan risiko serangan jantung serta stroke yang lebih tinggi, sehingga perlu diperiksa dan diobati. Nyeri saat istirahat, luka kaki, atau kaki yang mendadak dingin dan pucat perlu segera diperiksa.

Mengenal Klaudikasio Intermiten

Klaudikasio intermiten berasal dari kata Latin claudicare yang berarti pincang, sedangkan intermiten berarti hilang timbul. Keluhannya berupa nyeri, kram, pegal, atau rasa berat di otot kaki yang muncul setelah Anda berjalan sejauh tertentu, memaksa Anda berhenti, lalu reda dalam sekitar 10 menit setelah berdiri diam. Saat berjalan lagi, nyeri muncul kembali pada jarak yang kurang lebih sama.

Penyebabnya di Arteri

Klaudikasio adalah gejala khas penyakit arteri perifer, yang dibahas di halaman Penyakit Arteri Perifer. Plak aterosklerosis menyempitkan arteri tungkai. Saat istirahat, aliran darah masih cukup, tetapi saat otot bekerja kebutuhannya naik dan arteri yang sempit tidak mampu menambah pasokan. Letak nyeri memberi petunjuk letak penyempitan: nyeri betis umumnya berasal dari arteri paha atau lutut, sedangkan nyeri bokong dan paha dari arteri di panggul.

Tidak Selalu dari Pembuluh Darah

Nyeri kaki saat berjalan juga dapat berasal dari penyempitan saluran saraf tulang belakang, radang sendi, atau gangguan vena. Nyeri karena saraf tulang belakang biasanya baru reda bila Anda duduk atau membungkuk, sedangkan klaudikasio reda cukup dengan berdiri diam. Pemeriksaan Ankle-Brachial Index (ABI) membantu membedakannya.

Bagaimana Perjalanannya

Pada sebagian besar orang, keluhan tetap stabil selama bertahun-tahun, dan hanya sebagian kecil yang berlanjut menjadi iskemia ekstremitas kritis, yang dibahas di halaman Iskemia Ekstremitas Kritis. Kemungkinan perburukan lebih besar pada orang yang tetap merokok atau diabetesnya tidak terkendali. Hal yang lebih perlu diwaspadai adalah risiko serangan jantung dan stroke, karena plak yang sama sering ada di arteri jantung dan otak.

Latihan Berjalan sebagai Terapi Utama

Pedoman ESC 2024 dan ACC/AHA 2024 menganjurkan latihan berjalan terstruktur, sebaiknya dengan pengawasan, sebagai langkah pertama bersama berhenti merokok dan obat pelindung pembuluh darah. Latihan teratur membuat otot memakai oksigen lebih efisien, memperbaiki fungsi lapisan dalam pembuluh darah, dan dapat merangsang tumbuhnya pembuluh kecil di sekitar sumbatan. Bila setelah sekitar tiga bulan keluhan tetap mengganggu pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, dokter dapat mempertimbangkan pembukaan arteri lewat kateter atau operasi.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Nyeri, kram, atau pegal di betis saat berjalan
  • Nyeri di paha atau bokong saat berjalan cepat atau menanjak
  • Keluhan muncul setelah jarak berjalan yang kurang lebih sama
  • Nyeri reda dalam beberapa menit setelah berdiri diam
  • Kaki terasa berat atau cepat lelah saat naik tangga
  • Kaki yang sakit lebih dingin atau lebih pucat dari sisi lain
  • Denyut nadi di punggung kaki lemah
  • Gangguan ereksi pada laki-laki bila penyempitan ada di arteri panggul
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Aterosklerosis yang menyempitkan arteri di panggul, paha, atau belakang lutut
  • Penyempitan arteri betis, sering pada penyandang diabetes
  • Penyempitan ulang pada stent atau bypass yang pernah dipasang
  • Penyakit Buerger (tromboangiitis obliterans) pada perokok usia muda, meski jarang
  • Jepitan arteri di belakang lutut oleh otot pada orang muda yang aktif berolahraga, meski jarang

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Merokok sangat erat kaitannya dengan klaudikasio, dan berhenti merokok membantu memperlambat penyempitan. Kurang bergerak membuat otot makin cepat lelah dan jarak berjalan makin pendek.

Medis

Diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol LDL tinggi, dan penyakit ginjal kronis mempercepat penyempitan arteri tungkai.

Usia

Keluhan lebih sering muncul setelah usia 50 tahun dan makin sering seiring bertambahnya usia.

Genetik

Riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau pembuluh darah di usia muda, termasuk kolesterol tinggi bawaan, menambah kerentanan.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Perokok dan Mantan Perokok: Rokok merusak lapisan dalam arteri tungkai. Nyeri kaki saat berjalan pada perokok perlu diperiksa, bukan dianggap pegal biasa.
  • Penyandang Diabetes: Penyempitan sering mengenai arteri betis, dan gangguan saraf dapat membuat keluhan terasa samar.
  • Lansia: Keluhan sering dianggap tanda usia atau nyeri sendi, padahal dapat berasal dari arteri yang menyempit.
  • Penyandang Penyakit Jantung Koroner atau Stroke: Plak di satu wilayah arteri sering disertai plak di arteri tungkai, sehingga keluhan berjalan perlu ditanyakan kepada dokter.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dokter menanyakan letak nyeri, jarak berjalan sampai nyeri muncul, berapa lama sampai reda, dan apakah Anda perlu duduk atau cukup berdiri diam. Pemeriksaan fisik meliputi perabaan denyut nadi kaki, warna dan suhu kulit, serta pemeriksaan saraf dan sendi untuk menyingkirkan penyebab lain.

Ankle-Brachial Index (ABI) memastikan apakah keluhan berasal dari arteri. Bila ABI saat istirahat normal tetapi keluhannya khas, ABI diukur ulang setelah Anda berjalan di treadmill atau melakukan latihan sederhana; tekanan kaki yang turun setelah latihan mendukung diagnosis. Uji jalan ini juga mencatat jarak berjalan Anda sebagai patokan untuk menilai hasil terapi.

USG dupleks atau CT angiografi diperlukan bila tindakan membuka arteri dipertimbangkan, bukan untuk semua pasien. Tes darah kolesterol, gula darah, dan fungsi ginjal membantu menyusun terapi pencegahan.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Wawancara pola nyeri dan jarak berjalan, perabaan denyut nadi kaki, serta pemeriksaan saraf dan sendi untuk membedakan penyebab lain.

  2. Tes Ankle-Brachial Index / ABI

    Membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan. Nilai 0,90 atau kurang mendukung penyakit arteri perifer.

  3. ABI setelah latihan dan uji jalan: ABI diukur ulang setelah berjalan di treadmill bila ABI istirahat normal, sekaligus mencatat jarak berjalan sebagai patokan terapi.

  4. Tes Toe-Brachial Index / TBI

    Dipakai bila arteri kaki kaku karena diabetes atau penyakit ginjal, sehingga hasil ABI kurang dapat diandalkan.

  5. USG Dupleks

    Memetakan letak dan beratnya penyempitan tanpa radiasi, terutama bila tindakan dipertimbangkan.

  6. CT Angiografi Perifer / CTA Perifer

    Gambaran arteri dari perut sampai kaki bila pembukaan arteri lewat kateter atau operasi direncanakan.

  7. Pemeriksaan Laboratorium

    Tes darah kolesterol, gula darah atau HbA1c, dan fungsi ginjal untuk menilai faktor risiko dan menyusun terapi.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Latihan Berjalan Terstruktur

Berjalan sampai nyeri terasa sedang, istirahat sampai reda, lalu lanjutkan. Sesi 30 sampai 60 menit, minimal tiga kali seminggu selama 12 minggu atau lebih, sebaiknya dengan pengawasan.

Berhenti Merokok

Langkah penting untuk memperlambat penyempitan arteri. Dokter dapat membantu dengan konseling dan obat penunjang berhenti merokok.

Obat Pelindung Pembuluh Darah

Obat penurun kolesterol golongan statin dan obat antiplatelet untuk menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan perburukan tungkai. Jenis dan dosisnya ditentukan dokter.

Obat untuk Menambah Jarak Berjalan

Pada sebagian pasien, dokter dapat memberi obat golongan penghambat fosfodiesterase-3 untuk menambah jarak berjalan. Obat ini tidak dipakai pada penyandang gagal jantung.

Pengendalian Faktor Risiko

Tekanan darah, gula darah, dan berat badan dikendalikan sesuai target yang ditetapkan dokter.

Revaskularisasi

Angioplasti, stent, atau operasi bypass dipertimbangkan bila keluhan tetap membatasi aktivitas setelah sekitar tiga bulan latihan dan obat, dengan menimbang manfaat dan risikonya.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Penurunan Kemampuan Berjalan

Keluhan membuat Anda mengurangi aktivitas, sehingga otot melemah dan jarak berjalan makin pendek.

Serangan Jantung dan Stroke

Plak di arteri kaki menandakan plak di arteri lain, sehingga risiko kejadian jantung dan otak lebih tinggi daripada orang tanpa klaudikasio.

Iskemia Ekstremitas Kritis

Sebagian kecil berlanjut menjadi nyeri saat istirahat, luka, atau gangren. Dibahas di halaman Iskemia Ekstremitas Kritis.

Sumbatan Mendadak di Tungkai

Bekuan dapat tiba-tiba menutup arteri yang sudah sempit, sehingga kaki mendadak dingin, pucat, dan nyeri. Keadaan ini perlu ditangani di IGD.

Penurunan Kualitas Hidup

Keterbatasan berjalan dapat mengganggu pekerjaan, kegiatan sosial, dan kemandirian sehari-hari.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok orang lain.
  • Berjalan kaki secara teratur sesuai arahan dokter, meski keluhan muncul.
  • Catat jarak atau waktu berjalan sampai nyeri muncul untuk memantau perkembangan.
  • Kendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sesuai target dari dokter.
  • Minum obat secara teratur dan jangan menghentikannya tanpa berkonsultasi.
  • Periksa kaki setiap hari dan pakai sepatu yang nyaman dan pas.
  • Pilih pola makan kaya sayur, buah, dan ikan, serta batasi lemak jenuh dan garam.

Kapan Harus ke Dokter?

Buat janji dengan dokter bila nyeri, kram, atau pegal di kaki muncul berulang saat berjalan dan reda saat istirahat. Keluhan ini perlu diperiksa meski terasa ringan, karena dapat menjadi tanda penyakit arteri perifer. Segera ke IGD bila kaki mendadak dingin, pucat, kebas, atau sangat nyeri.

  • Nyeri kaki berulang saat berjalan yang reda saat berdiri diam
  • Jarak berjalan Anda makin pendek
  • Keluhan mengganggu pekerjaan atau kegiatan sehari-hari
  • Nyeri juga muncul saat istirahat atau pada malam hari
  • Ada luka di kaki yang lambat sembuh

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang klaudikasio intermiten.

Apakah klaudikasio sama dengan kram otot biasa?

Tidak. Kram otot biasa sering muncul tiba-tiba, kadang saat istirahat atau malam hari, dan otot terasa mengeras sesaat. Klaudikasio muncul saat berjalan, biasanya setelah jarak yang kurang lebih sama, lalu reda dalam beberapa menit setelah Anda berdiri diam. Pola yang berulang seperti ini perlu diperiksa dengan ABI.

Kalau berjalan membuat kaki nyeri, mengapa justru dianjurkan berjalan?

Latihan berjalan terstruktur terbukti menambah jarak berjalan tanpa nyeri. Caranya, berjalan sampai nyeri terasa sedang, beristirahat sampai reda, lalu berjalan lagi. Rasa nyeri ini tidak merusak otot. Latihan membuat otot memakai oksigen lebih efisien. Namun, bila ada luka di kaki atau nyeri sudah muncul saat istirahat, tanyakan dulu kepada dokter.

Berapa lama latihan berjalan mulai terasa hasilnya?

Perbaikan umumnya mulai terasa setelah beberapa minggu, dan program yang dianjurkan pedoman berlangsung minimal 12 minggu, setidaknya tiga kali seminggu. Program dengan pengawasan memberi hasil lebih baik daripada sekadar saran untuk berjalan. Manfaatnya bertahan bila latihan diteruskan, jadi jadikan berjalan kebiasaan jangka panjang.

Apakah saya perlu pasang stent?

Tidak selalu. Kebanyakan penyandang klaudikasio membaik dengan latihan, berhenti merokok, dan obat. Tindakan seperti angioplasti, stent, atau bypass dipertimbangkan bila keluhan tetap mengganggu pekerjaan atau kegiatan sehari-hari setelah sekitar tiga bulan terapi. Tindakan tidak menggantikan obat dan latihan, karena keduanya tetap dibutuhkan untuk melindungi jantung dan otak.

Apakah klaudikasio bisa membuat kaki diamputasi?

Jarang. Pada sebagian besar orang, keluhan tetap stabil selama bertahun-tahun. Risiko perburukan lebih tinggi bila tetap merokok atau diabetes tidak terkendali. Yang perlu diwaspadai adalah tanda perburukan, seperti nyeri saat istirahat, luka yang tidak sembuh, atau jari kaki yang berubah warna, karena tanda itu perlu segera diperiksa.

Apa yang perlu saya catat sebelum ke dokter?

Catat letak nyeri, jarak atau waktu berjalan sampai nyeri muncul, berapa lama sampai reda, dan apakah Anda perlu duduk atau cukup berdiri diam. Bawa juga daftar obat, hasil tes darah terakhir, dan riwayat merokok, diabetes, tekanan darah, serta penyakit jantung. Catatan ini membantu dokter memastikan diagnosis dan menilai hasil terapi.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D..

  1. Mazzolai L, Teixido-Tura G, Lanzi S, Boc V, Bossone E, Brodmann M, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of peripheral arterial and aortic diseases. Eur Heart J. 2024;45(36):3538-700.
  2. Gornik HL, Aronow HD, Goodney PP, Arya S, Brewster LP, Byrd L, et al. 2024 ACC/AHA/AACVPR/APMA/ABC/SCAI/SVM/SVN/SVS/SIR/VESS Guideline for the Management of Lower Extremity Peripheral Artery Disease: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2024;149(24):e1313-410.
  3. Nordanstig J, Behrendt CA, Baumgartner I, Belch J, Back M, Fitridge R, et al. European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2024 Clinical Practice Guidelines on the Management of Asymptomatic Lower Limb Peripheral Arterial Disease and Intermittent Claudication. Eur J Vasc Endovasc Surg. 2024;67(1):9-96.
  4. Treat-Jacobson D, McDermott MM, Bronas UG, Campia U, Collins TC, Criqui MH, et al. Optimal Exercise Programs for Patients With Peripheral Artery Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2019;139(4):e10-33.
  5. Hageman D, Fokkenrood HJ, Gommans LN, van den Houten MM, Teijink JA. Supervised exercise therapy versus home-based exercise therapy versus walking advice for intermittent claudication. Cochrane Database Syst Rev. 2018;4(4):CD005263.
  6. Lane R, Harwood A, Watson L, Leng GC. Exercise for intermittent claudication. Cochrane Database Syst Rev. 2017;12(12):CD000990.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Klaudikasio Intermiten

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi