Langsung ke konten

Prosedur medis · Tindakan non-bedah

Dialisis Peritoneal

Peritoneal Dialysis

Cuci darah lewat rongga perut dengan cairan khusus yang dimasukkan dan dikeluarkan lewat kateter, sehingga dapat dilakukan sendiri di rumah untuk membuang racun dan cairan berlebih.

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui5 Oktober 2026
Ilustrasi prosedur dialisis peritoneal pada rongga perut dengan kateter, cairan dialisat, kantong cairan masuk, dan kantong pembuangan.
Ilustrasi Dialisis Peritoneal
Kelompok prosedur
Terapi Medis & Manajemen Penyakit
Durasi tindakan
1 jam
Anestesi
Lokal
Rawat inap
Direncanakan

Jawaban singkat

Apa Itu Dialisis Peritoneal?

Dialisis peritoneal adalah cara cuci darah yang memakai selaput rongga perut (peritoneum) sebagai penyaring. Cairan khusus dimasukkan ke rongga perut lewat kateter, didiamkan beberapa jam untuk menarik racun dan cairan berlebih, lalu dikeluarkan. Setelah dilatih, pasien atau keluarga dapat melakukannya sendiri di rumah.

Sumber informasi

Mengenal Dialisis Peritoneal

Apa Itu Dialisis Peritoneal

Bila ginjal tidak lagi mampu menyaring darah, racun dan cairan menumpuk di tubuh. Dialisis peritoneal membersihkan darah dengan memanfaatkan peritoneum, yaitu selaput tipis yang melapisi rongga perut dan kaya pembuluh darah. Cairan dialisis dimasukkan ke rongga perut lewat selang lunak (kateter) yang dipasang permanen, lalu racun dan cairan berlebih berpindah dari darah ke cairan tersebut sebelum cairan dikeluarkan.

Cara Kerja dalam Satu Siklus

Setiap siklus terdiri dari tiga tahap: cairan lama dikeluarkan dari rongga perut, cairan baru dimasukkan, lalu cairan didiamkan beberapa jam sambil Anda beraktivitas.

  • CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis): pergantian cairan dilakukan secara manual, umumnya 3 sampai 5 kali sehari. Setiap pergantian memerlukan sekitar 30 sampai 40 menit.
  • APD (automated peritoneal dialysis): mesin kecil melakukan pergantian cairan secara otomatis saat Anda tidur, umumnya 8 sampai 10 jam setiap malam.

Dialisis Peritoneal dan Jantung

Penyakit ginjal kronis dan penyakit jantung sering berjalan bersama. Karena dialisis peritoneal bekerja perlahan dan terus-menerus, perubahan cairan dan tekanan darah umumnya lebih stabil, sehingga cocok untuk sebagian pasien jantung. Pada sebagian pasien gagal jantung berat dengan gangguan ginjal dan penumpukan cairan yang sulit diatasi obat, dialisis peritoneal juga dapat dipertimbangkan untuk membantu membuang cairan berlebih.

Dialisis Peritoneal atau Hemodialisis

Hemodialisis menyaring darah dengan mesin di unit dialisis, biasanya 2 sampai 3 kali seminggu. Dialisis peritoneal dilakukan di rumah setiap hari, tanpa jarum, dan lebih leluasa mengatur jadwal, tetapi memerlukan kedisiplinan menjaga kebersihan. Pilihan cara dialisis dibicarakan bersama dokter berdasarkan keadaan kesehatan, kemampuan merawat diri, dan keadaan rumah Anda.

Kapan Tindakan Ini Dipertimbangkan?

Dokter dapat mempertimbangkan tindakan ini pada keadaan berikut. Keputusan selalu ditetapkan setelah evaluasi menyeluruh.

  • Gagal Ginjal Tahap AkhirFungsi ginjal sudah sangat menurun sehingga racun dan cairan tidak lagi dapat dibuang dengan baik, dan diperlukan terapi pengganti ginjal.
  • Memilih Dialisis di RumahPasien yang ingin menjalani dialisis di rumah dengan jadwal lebih leluasa, dan mampu merawat kateter sendiri atau dibantu keluarga.
  • Tekanan Darah atau Jantung yang Kurang StabilPembuangan cairan yang perlahan dan terus-menerus dapat lebih mudah ditoleransi daripada hemodialisis pada sebagian pasien jantung.
  • Gagal Jantung dengan Penumpukan CairanPada gagal jantung berat dengan gangguan ginjal dan cairan yang sulit dibuang dengan obat, dialisis peritoneal dapat dipertimbangkan setelah evaluasi tim jantung dan ginjal.
  • Menjaga Sisa Fungsi GinjalDialisis peritoneal cenderung membantu mempertahankan sisa fungsi ginjal lebih lama.
Tidak setiap pasien memerlukan tindakan ini. Tanyakan tujuan tindakan dan bagaimana hasilnya memengaruhi rencana perawatan Anda.
Keadaan yang Perlu Dipertimbangkan Lebih Dulu
  • Riwayat Operasi Perut yang LuasPerlengketan di rongga perut dapat mengganggu aliran cairan. Dokter menilai apakah dialisis peritoneal masih memungkinkan.
  • Hernia yang Belum DiperbaikiCairan di rongga perut menambah tekanan, sehingga hernia biasanya diperbaiki lebih dulu.
  • Belum Ada yang Dapat Melakukan Pergantian CairanBila pasien tidak mampu melakukannya sendiri, perlu anggota keluarga atau pendamping yang dilatih.
  • Keadaan Rumah yang Sulit Dijaga KebersihannyaPergantian cairan memerlukan ruang bersih dan tempat menyimpan perlengkapan. Tim dapat membantu menilai dan menyiapkannya.
  • Penyakit Paru Berat atau Radang Usus AktifKeadaan tertentu membuat dialisis peritoneal kurang sesuai dan perlu dipertimbangkan bersama dokter.

Apa yang Perlu Disiapkan?

Persiapan meliputi pemasangan kateter dan pelatihan. Tim akan memberikan instruksi tertulis.

Menentukan letak kateter. Sebelum pemasangan, tim menandai letak lubang keluar kateter di kulit perut, disesuaikan dengan garis ikat pinggang dan kebiasaan berpakaian Anda.

Membersihkan usus. Anda mungkin diberi obat pencahar sehari sebelumnya, karena usus yang penuh dapat mengganggu posisi kateter.

Obat dan puasa. Bawa daftar semua obat. Pengencer darah mungkin perlu disesuaikan. Ikuti instruksi puasa dari tim, dan jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter.

Kebersihan. Mandi dan bersihkan area perut sesuai instruksi tim pada hari tindakan.

Menyiapkan rumah. Siapkan ruangan yang bersih dan terang untuk pergantian cairan, serta tempat kering untuk menyimpan kantong cairan.

Pendamping dan pelatihan. Ajak anggota keluarga yang akan membantu, karena pelatihan pergantian cairan biasanya berlangsung sekitar satu sampai dua minggu.

Belum jelas dengan instruksi persiapan? Tanyakan kepada tim sebelum menjalani tindakan.

Bagaimana Tindakan Dilakukan?

Dialisis peritoneal dimulai dengan pemasangan kateter di rumah sakit, lalu dilanjutkan dengan pelatihan dan pergantian cairan rutin di rumah.

Pemasangan Kateter

Kateter lunak dipasang melalui dinding perut ke rongga perut. Tindakan umumnya memakan waktu sekitar satu jam, dengan bius lokal disertai obat penenang, atau bius umum bila dipasang dengan teknik laparoskopi. Ujung luar kateter keluar dari kulit di samping pusar.

Masa Penyembuhan

Bila memungkinkan, kateter dibiarkan sekitar dua minggu supaya luka pulih sebelum dipakai rutin. Pada keadaan mendesak, dialisis dapat dimulai lebih awal dengan volume cairan kecil.

Pelatihan

Perawat dialisis melatih Anda dan keluarga cara mencuci tangan, mengganti cairan, merawat lubang keluar kateter, dan mengenali tanda infeksi, sampai Anda siap melakukannya sendiri.

Pergantian Cairan di Rumah

Pada setiap pergantian, cairan lama dialirkan keluar ke kantong kosong, lalu cairan baru dialirkan masuk dari kantong lain. Pada APD, langkah ini dilakukan mesin saat Anda tidur.

Kontrol Berkala

Anda kontrol ke dokter dan perawat dialisis secara berkala untuk pemeriksaan darah, penilaian kecukupan dialisis, dan penyesuaian resep cairan.

Manfaat dan Risiko Perlu Dibahas Bersama.

Setiap tindakan medis memiliki manfaat dan risiko. Dokter menjelaskan keduanya sesuai keadaan Anda sebelum tindakan.

Manfaat yang Dapat Diharapkan

  • Dilakukan di RumahTidak perlu datang ke unit dialisis beberapa kali seminggu, sehingga lebih mudah menyesuaikan dengan pekerjaan dan kegiatan.
  • Tanpa Jarum Setiap Kali DialisisPergantian cairan dilakukan lewat kateter yang sudah terpasang.
  • Pembuangan Cairan Lebih StabilBekerja perlahan setiap hari, sehingga perubahan tekanan darah dan beban jantung umumnya lebih kecil.
  • Membantu Menjaga Sisa Fungsi GinjalSisa fungsi ginjal cenderung bertahan lebih lama, yang bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang.
  • Pola Makan Lebih LeluasaPembatasan cairan dan makanan umumnya tidak seketat pada hemodialisis, walau tetap perlu diatur bersama tim.

Manfaat tindakan bukan janji kesembuhan. Tanyakan bagaimana hasilnya memengaruhi rencana perawatan Anda.

Risiko yang Perlu Diketahui

  • Infeksi Rongga Perut (Peritonitis)Risiko utama. Tandanya cairan keruh, nyeri perut, atau demam, dan perlu segera diobati. Risikonya jauh berkurang dengan teknik yang bersih.
  • Infeksi Lubang Keluar KateterKemerahan, bengkak, atau nanah di kulit sekitar kateter, yang umumnya dapat diobati bila ditemukan dini.
  • Gangguan KateterKateter dapat bergeser, tersumbat, atau bocor, sehingga kadang perlu diperbaiki atau diganti.
  • HerniaCairan di rongga perut menambah tekanan pada dinding perut, sehingga dapat muncul hernia.
  • Kenaikan Gula Darah dan Berat BadanCairan dialisis mengandung gula yang sebagian terserap tubuh. Gula darah dan berat badan perlu dipantau, terutama pada diabetes.
  • Kehilangan ProteinSebagian protein ikut terbuang ke cairan dialisis, sehingga asupan protein perlu diatur bersama ahli gizi.

Risiko setiap orang dapat berbeda. Penjelasan lengkap dan persetujuan tindakan diberikan setelah evaluasi individual.

Bagaimana Pemulihannya?

Setelah pemasangan kateter, kebanyakan pasien dirawat satu malam atau pulang di hari yang sama.

Merawat luka dan kateter. Jaga balutan tetap kering dan bersih. Jangan berendam atau berenang sampai dokter mengizinkan, dan ikuti instruksi tentang cara mandi.

Aktivitas. Hindari mengangkat beban berat selama beberapa minggu supaya luka pulih dan tidak terjadi hernia.

Buang air besar teratur. Sembelit dapat mengganggu aliran cairan, jadi cukupi serat dan minum obat pencahar bila dianjurkan.

Kebiasaan harian. Setelah dialisis berjalan, catat berat badan, tekanan darah, dan jumlah cairan yang keluar setiap hari, serta rawat lubang keluar kateter sesuai pelatihan.

Tanda yang perlu diwaspadai. Segera hubungi tim dialisis atau ke IGD bila Anda mengalami:

  • Cairan yang keluar tampak keruh
  • Nyeri perut atau demam
  • Kemerahan, bengkak, atau nanah di lubang keluar kateter
  • Cairan tidak mau keluar atau masuk
  • Berat badan naik cepat, bengkak, atau sesak napas

Kenali Tanda yang Perlu Segera Ditangani.

Ikuti arahan tim tentang tanda yang perlu diwaspadai. Bila muncul keluhan berat atau mendadak setelah tindakan, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Dokter dan Dukungan Tindakan

Dokter berikut tercantum untuk tindakan ini. Urutan menurut nama, bukan peringkat.

dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD

Spesialis Penyakit Dalam

Fokus klinisDiabetes dan Komplikasi Diabetes · Obesitas dan Penyakit Metabolik

Lihat Profil

dr. Siska S. Danny, Sp.JP(K)

Kardiologi Intervensi

Coronary Intervention Procedures

Fokus klinisPCI pada Sindrom Koroner Akut · Intervensi Koroner Primer

Lihat Profil

Sebelum Merencanakan Tindakan.

Pertanyaan yang sering diajukan pasien dan keluarga tentang dialisis peritoneal. Pilihan cara dialisis ditentukan bersama dokter setelah pemeriksaan.

Apa bedanya dialisis peritoneal dengan hemodialisis?

Hemodialisis menyaring darah dengan mesin di unit dialisis, biasanya 2 sampai 3 kali seminggu, dan memerlukan akses pembuluh darah. Dialisis peritoneal memakai selaput rongga perut sebagai penyaring, dilakukan setiap hari di rumah, dan tanpa jarum. Keduanya sama-sama menggantikan sebagian kerja ginjal, dan pilihannya disesuaikan dengan keadaan Anda.

Berapa lama satu kali pergantian cairan?

Pada CAPD, satu kali pergantian memerlukan sekitar 30 sampai 40 menit, umumnya 3 sampai 5 kali sehari. Di antara pergantian, cairan didiamkan di rongga perut beberapa jam sementara Anda beraktivitas. Pada APD, mesin melakukan pergantian cairan saat Anda tidur, sekitar 8 sampai 10 jam setiap malam.

Apakah dialisis peritoneal aman untuk pasien jantung?

Pada banyak pasien jantung, dialisis peritoneal dapat menjadi pilihan yang baik karena pembuangan cairan berlangsung perlahan sehingga tekanan darah lebih stabil. Namun, keputusan diambil bersama dokter jantung dan dokter ginjal, dengan mempertimbangkan fungsi jantung, keadaan perut, dan kemampuan merawat kateter di rumah.

Apakah saya bisa bekerja dan bepergian?

Bisa. Banyak pasien tetap bekerja karena jadwal pergantian cairan dapat diatur di sela kegiatan, atau dilakukan mesin saat tidur. Untuk bepergian, perlengkapan cairan dapat diatur pengirimannya ke tempat tujuan. Bicarakan rencana perjalanan dengan tim dialisis jauh hari sebelumnya, termasuk cara menjaga kebersihan saat mengganti cairan di luar rumah.

Apa tanda infeksi yang harus diwaspadai?

Tanda utamanya adalah cairan yang keluar tampak keruh, disertai nyeri perut atau demam, yang dapat menandakan peritonitis. Kemerahan, bengkak, atau nanah di lubang keluar kateter menandakan infeksi kulit sekitar kateter. Segera hubungi tim dialisis bila menemukan tanda ini, dan bawa kantong cairan yang keruh saat datang.

Apakah dialisis peritoneal bisa dilakukan selamanya?

Banyak pasien menjalani dialisis peritoneal selama bertahun-tahun. Seiring waktu, kemampuan selaput perut menyaring dapat menurun, atau terjadi infeksi berulang, sehingga sebagian pasien perlu beralih ke hemodialisis. Transplantasi ginjal juga dapat dibicarakan bila memungkinkan. Kontrol berkala membantu menentukan waktu yang tepat.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Brown EA, Blake PG, Boudville N, dkk. International Society for Peritoneal Dialysis practice recommendations: Prescribing high-quality goal-directed peritoneal dialysis. Perit Dial Int. 2020;40(3):244-253.
  2. Li PK, Chow KM, Cho Y, dkk. ISPD peritonitis guideline recommendations: 2022 update on prevention and treatment. Perit Dial Int. 2022;42(2):110-153.
  3. Crabtree JH, Shrestha BM, Chow KM, dkk. Creating and Maintaining Optimal Peritoneal Dialysis Access in the Adult Patient: 2019 Update. Perit Dial Int. 2019;39(5):414-436.
  4. Grossekettler L, Schmack B, Meyer K, dkk. Peritoneal Dialysis as Therapeutic Option in Heart Failure Patients. ESC Heart Fail. 2019;6(2):271-279.

Langkah berikutnya

Bahas Tindakan Ini dengan Lebih Jelas.

Konsultasikan tujuan, manfaat, dan risiko tindakan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Konteks konsultasi: Dialisis Peritoneal

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Prosedur