Perjalanan perawatan
Cerita Bapak Rafli.
Selama bertahun-tahun, Pak Rafli dari Bogor hidup berdampingan dengan gangguan irama jantung yang datang tanpa aba-aba. Setelah melewati banyak pertimbangan, ia akhirnya memutuskan menjalani ablasi di Heartology. Dalam video ini, ia berbagi tentang rasa cemas yang lama menemaninya dan hal-hal yang membuatnya yakin.
Jantung Berdebar tanpa Peringatan
Pak Rafli mengalami fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF), yaitu gangguan irama jantung yang membuat serambi jantung berdenyut cepat dan tidak teratur. Awalnya ia tidak paham apa itu aritmia. Gejalanya justru muncul saat ia sedang santai, misalnya beristirahat atau mengobrol. “Jantungnya berdetak itu, kalau saya lagi ngobrol sekarang ini, kayak habis sprint,” tuturnya. Saat kambuh, detak jantungnya bisa mencapai sekitar 180 kali per menit.
Lama-kelamaan, serangan itu datang makin sering. Karena tidak bisa ditebak kapan dan di mana muncul, Pak Rafli kerap merasa khawatir dan panik. Rasa cemas itu terus menyertainya. “Saya harus hidup dengan aritmia, dengan segala paket kekhawatiran dan imajinasi saya sebagai orang awam,” katanya.
Mencari Jawaban dan Keyakinan
Pak Rafli sempat mendatangi beberapa dokter dan rumah sakit. Di salah satu rumah sakit, ablasi sudah disarankan, tetapi tindakan itu belum bisa dilakukan di sana. Di sisi lain, ia juga takut menjalani tindakan yang berhubungan dengan jantung, sehingga keputusan itu sempat tertunda.
Ia kemudian mengenal Heartology dari media sosial. Sebelum memutuskan, Pak Rafli mencari tahu dengan saksama, mulai dari peralatan medis yang tersedia hingga latar belakang pendidikan dan pengalaman dokter yang akan menanganinya. Ia benar-benar menelusuri riwayat pendidikan sang dokter sebelum merasa mantap. Ia lalu ditangani oleh dr. Sunu Budhi Raharjo, Sp.JP (K), Ph.D., dokter jantung yang mendalami elektrofisiologi, yaitu bidang kardiologi yang menangani sistem listrik jantung.
Menjalani Ablasi dan Kembali Bekerja
Pak Rafli menjalani ablasi jantung, yaitu tindakan lewat kateter, selang tipis yang dimasukkan melalui pembuluh darah, untuk menonaktifkan titik atau jalur listrik yang memicu gangguan irama. Tindakan ini ia jalani bersama dokter jantungnya, dokter anestesi, dan tim Heartology.
Setelah tindakan, Pak Rafli tetap mengikuti nasihat dokter dan rutin kontrol agar kondisinya terpantau. Saat video direkam, ia sudah kembali bekerja dan tidak lagi dibayangi kekhawatiran seperti dulu. “Saya mungkin sudah lupa pernah hidup dengan aritmia belasan tahun,” ujarnya.
Pengalaman Pak Rafli menunjukkan pentingnya mencari informasi dan berdiskusi dengan dokter sebelum mengambil keputusan. Bila Anda sering merasakan jantung berdebar kencang tanpa sebab yang jelas, konsultasikan keluhan itu dengan dokter jantung.
Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.
Dengarkan langsung
Cerita dalam Suaranya Sendiri.
Bertahun-tahun Hidup dengan Aritmia, Pak Rafli Akhirnya Memutuskan Ablasi
Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 5 menit 55 detik.
Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.



