Jawaban singkat
Apa Itu Diabetes Tipe 2?
Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang banyak dijumpai, ketika tubuh kurang peka terhadap insulin dan produksinya perlahan berkurang. Sering tanpa gejala di awal, kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sangat haus, mulut sangat kering, dan sering berkemih selama beberapa hari
- Bingung, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan
- Mual, muntah, nyeri perut, atau napas cepat dan dalam
- Gemetar, keringat dingin, berdebar, atau bingung karena gula darah terlalu rendah
- Nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak napas, atau keringat dingin
- Wajah mencong, lengan atau tungkai lemah, atau bicara pelo secara mendadak
- Luka kaki yang menghitam, bengkak, berbau, atau disertai demam
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes melitus yang dialami sebagian besar penyandang diabetes, sekitar 90 sampai 95 persen. Pada kondisi ini, pankreas masih membuat insulin, tetapi sel otot, hati, dan lemak tidak meresponsnya dengan baik. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Untuk mengimbanginya, pankreas bekerja lebih keras, tetapi lama-kelamaan produksi insulin menurun dan gula darah naik.
Diabetes tipe 2 berkembang perlahan. Sebelumnya, banyak orang melewati tahap prediabetes, yaitu gula darah di atas normal tetapi belum mencapai batas diabetes. Karena sering tanpa keluhan, banyak orang baru mengetahuinya dari pemeriksaan rutin atau setelah muncul komplikasi. Orang Asia, termasuk Indonesia, cenderung mengalami diabetes tipe 2 pada usia lebih muda dan berat badan lebih rendah dibanding populasi Eropa, karena lemak lebih mudah menumpuk di perut dan di dalam hati.
Mengapa Jantung Ikut Terdampak
Diabetes tipe 2 jarang datang sendiri. Kondisi ini sering muncul bersama tekanan darah tinggi, kolesterol tidak normal, dan lemak perut berlebih, sekumpulan keadaan yang dikenal sebagai sindrom metabolik. Gabungan ini merusak lapisan dalam pembuluh darah dan mempercepat aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding arteri. Akibatnya risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, dan penyempitan arteri tungkai meningkat. Diabetes juga menambah risiko gagal jantung, bahkan sebelum ada penyempitan pembuluh koroner. Pada sebagian orang, serangan jantung terasa samar, misalnya hanya sesak napas atau lemas.
Penanganan yang Melindungi Jantung
Pengelolaan diabetes tipe 2 kini tidak hanya bertujuan menurunkan gula darah. Pedoman ADA dan ESC menganjurkan dokter memilih obat sesuai kondisi jantung dan ginjal. Beberapa golongan obat, seperti penghambat SGLT2 dan agonis reseptor GLP-1, terbukti menurunkan risiko kejadian jantung atau perawatan karena gagal jantung pada kelompok tertentu. Pengobatan ini dilengkapi pengendalian tekanan darah, kolesterol, dan berat badan, serta berhenti merokok. Target dan pilihan obat ditentukan bersama dokter sesuai keadaan Anda.
Kabar baiknya, perubahan gaya hidup sejak tahap awal dapat memperlambat perjalanan penyakit. Pada sebagian orang, penurunan berat badan yang cukup besar bahkan membuat gula darah kembali normal tanpa obat untuk beberapa waktu, yang disebut remisi.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Banyak orang tidak merasakan keluhan selama bertahun-tahun. Pemeriksaan gula darah berkala membantu menemukannya lebih awal.
- Sering buang air kecil, terutama malam hari
- Sering haus dan mulut terasa kering
- Mudah lelah dan mengantuk
- Penglihatan kabur
- Luka sulit sembuh atau infeksi kulit, gusi, dan saluran kemih berulang
- Kesemutan, baal, atau rasa terbakar di kaki dan tangan
- Kulit menebal dan menggelap di leher atau lipatan ketiak
Gejala pada Lansia
Pada lansia, gejala khas sering tidak menonjol, dan gula darah rendah akibat obat juga lebih mudah terjadi.
- Keluhan samar seperti lemas, nafsu makan turun, atau berat badan turun
- Mudah kekurangan cairan karena rasa haus berkurang
- Bingung atau daya ingat menurun yang baru muncul
- Lebih sering jatuh atau sulit berjalan karena kaki terasa baal
- Mengompol atau sering berkemih di malam hari
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Resistensi insulin: sel otot, hati, dan lemak kurang merespons insulin
- Produksi insulin oleh sel beta pankreas menurun secara bertahap
- Lemak berlebih, terutama di perut dan di dalam hati, yang mengganggu kerja insulin
- Hati melepas gula ke dalam darah secara berlebihan, terutama saat puasa dan malam hari
- Gabungan faktor keturunan dengan pola makan tinggi kalori dan kurang bergerak
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Gaya Hidup
Berat badan berlebih atau obesitas, lingkar perut besar, kurang bergerak, sering mengonsumsi minuman manis dan makanan olahan, kurang tidur, serta merokok.
Medis
Prediabetes, hipertensi, kolesterol HDL rendah atau trigliserida tinggi, penyakit jantung, perlemakan hati, sindrom ovarium polikistik, dan riwayat diabetes kehamilan.
Genetik
Orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2. Orang Asia, termasuk Indonesia, dapat mengalami diabetes pada berat badan yang lebih rendah dibanding populasi Eropa.
Usia
Risiko meningkat setelah usia 35 sampai 40 tahun. Kini diabetes tipe 2 juga makin sering ditemukan pada usia muda, termasuk remaja dengan obesitas.
Lainnya
Pemakaian obat tertentu dalam jangka panjang seperti kortikosteroid, serta stres berkepanjangan yang mengganggu pola makan dan tidur.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Orang dengan Berat Badan Berlebih: Indeks massa tubuh 23 atau lebih pada orang Asia, atau lingkar perut besar, berkaitan erat dengan resistensi insulin.
- Usia 35 Tahun atau Lebih: Pedoman ADA menganjurkan skrining bagi semua orang dewasa mulai usia 35 tahun, diulang minimal setiap tiga tahun bila hasilnya normal.
- Penyandang Prediabetes: Gula darah di atas normal tetapi belum diabetes. Tanpa perubahan gaya hidup, banyak yang berlanjut menjadi diabetes tipe 2.
- Penyandang Penyakit Jantung atau Hipertensi: Pedoman ESC 2023 menganjurkan pemeriksaan gula darah puasa atau HbA1c pada semua orang dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Perempuan dengan Riwayat Diabetes Kehamilan: Risiko diabetes tipe 2 tetap tinggi bertahun-tahun setelah melahirkan, sehingga gula darah perlu diperiksa ulang secara berkala.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Karena sering tanpa keluhan, diabetes tipe 2 banyak ditemukan lewat skrining. Diagnosis ditegakkan bila gula darah puasa, HbA1c, atau tes toleransi glukosa oral (TTGO) mencapai batas diabetes, umumnya dari dua hasil yang tinggi. Gula darah sewaktu yang tinggi disertai gejala khas juga cukup untuk diagnosis.
Setelah diagnosis, dokter menilai seberapa jauh diabetes memengaruhi tubuh dan memperkirakan risiko kardiovaskular Anda. Pemeriksaan awal meliputi tekanan darah, berat badan dan lingkar perut, profil kolesterol, fungsi ginjal dan albumin urine, fungsi hati, mata, dan kaki. Pedoman ESC 2023 menganjurkan EKG bagi penyandang diabetes dengan hipertensi atau dugaan penyakit jantung, serta menanyakan gejala gagal jantung pada setiap kunjungan. Bila ada keluhan seperti nyeri dada atau sesak saat beraktivitas, dokter dapat melanjutkan dengan ekokardiografi, uji latih jantung, atau CT koroner. Penilaian ini membantu memilih obat diabetes yang juga melindungi jantung dan ginjal.
Skrining Diabetes
Pemeriksaan pada orang tanpa keluhan yang berisiko, dianjurkan bagi semua orang dewasa mulai usia 35 tahun, dan lebih awal bila ada faktor risiko.
Tes Gula Darah (Blood Sugar Test)
Gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, atau 200 mg/dL atau lebih dua jam setelah TTGO, menunjukkan diabetes. Gula darah puasa 100 sampai 125 mg/dL termasuk prediabetes.
Pemeriksaan HbA1c
Nilai 6,5 persen atau lebih menunjukkan diabetes, sedangkan 5,7 sampai 6,4 persen termasuk prediabetes. Dipakai pula untuk memantau pengobatan.
Tes Protein Urine
Albumin urine dan fungsi ginjal diperiksa saat diagnosis dan setiap tahun untuk menemukan kerusakan ginjal dan pembuluh darah sejak dini.
Skrining Kolesterol & Profil Lipid
Menilai LDL, HDL, dan trigliserida sebagai dasar target kolesterol yang sesuai dengan tingkat risiko Anda.
Skrining Risiko Jantung Individu
Memperkirakan risiko serangan jantung dan stroke 10 tahun ke depan, misalnya dengan SCORE2-Diabetes, untuk menentukan intensitas pengobatan.
Elektrokardiogram / EKG
Dianjurkan bila ada hipertensi atau dugaan penyakit jantung, untuk mencari gangguan irama atau tanda serangan jantung lama yang tidak disadari.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Pola Makan dan Penurunan Berat Badan
Pola makan seimbang dengan porsi karbohidrat terukur. Penurunan berat badan 5 persen atau lebih membantu memperbaiki gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.
Aktivitas Fisik Teratur
Aktivitas aerobik sekitar 150 menit per minggu ditambah latihan kekuatan 2 sampai 3 kali seminggu meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin. Konsultasikan dulu bila Anda memiliki penyakit jantung.
Obat Penurun Gula Darah
Dokter memilih golongan obat seperti metformin, penghambat SGLT2, agonis reseptor GLP-1, penghambat DPP-4, atau sulfonilurea, sering dalam kombinasi, sesuai kondisi Anda.
Obat yang Melindungi Jantung dan Ginjal
Pada penyakit jantung, gagal jantung, penyakit ginjal, atau risiko tinggi, pedoman menganjurkan penghambat SGLT2 atau agonis reseptor GLP-1 yang terbukti menurunkan kejadian jantung, terlepas dari nilai HbA1c.
Terapi Insulin
Diperlukan bila gula darah tetap tinggi walau sudah memakai obat lain, saat sakit berat, atau saat hamil. Jenis dan jadwalnya ditentukan dokter.
Pengendalian Tekanan Darah dan Kolesterol
Statin dan obat penurun tekanan darah sering diperlukan agar risiko serangan jantung dan stroke turun. Targetnya ditentukan dokter sesuai tingkat risiko Anda.
Bedah Metabolik
Operasi pada lambung atau usus dapat dipertimbangkan bagi penyandang obesitas berat yang gula darahnya sulit dikendalikan, setelah evaluasi oleh tim.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Penyakit Jantung Koroner dan Serangan Jantung
Plak di arteri koroner mempersempit aliran darah ke otot jantung. Serangan jantung pada diabetes kadang hanya terasa sebagai sesak atau lemas. Dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.
Gagal Jantung
Diabetes dapat membuat otot jantung kaku atau lemah. Sesak saat beraktivitas, mudah lelah, dan bengkak tungkai perlu diperiksa. Dibahas di halaman Gagal Jantung.
Stroke
Kerusakan pembuluh darah otak dan leher meningkatkan risiko stroke akibat sumbatan. Dibahas di halaman Stroke.
Penyakit Arteri Perifer dan Kaki Diabetik
Arteri tungkai menyempit dan saraf kaki kurang peka, sehingga luka kecil mudah terinfeksi dan sulit sembuh. Dibahas di halaman Penyakit Arteri Perifer.
Penyakit Ginjal Diabetik
Pembuluh darah kecil di ginjal rusak, albumin bocor ke urine, dan fungsi ginjal menurun bertahap. Dibahas di halaman Penyakit Ginjal Kronis.
Retinopati dan Neuropati Diabetik
Kerusakan pembuluh darah retina dapat mengganggu penglihatan, sedangkan kerusakan saraf menimbulkan kesemutan, baal, atau nyeri di kaki dan tangan.
Keadaan Hiperglikemik Hiperosmolar
Gula darah sangat tinggi disertai kekurangan cairan berat, sering dipicu infeksi atau sakit lain, terutama pada lansia. Menyebabkan bingung sampai penurunan kesadaran dan perlu perawatan segera.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Bila berat badan berlebih, turunkan sekitar 5 sampai 7 persen secara bertahap
- Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu dan kurangi waktu duduk lama
- Ganti minuman manis dengan air putih; perbanyak sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh
- Berhenti merokok dan tidur cukup setiap malam
- Periksa gula darah mulai usia 35 tahun, atau lebih awal bila memiliki faktor risiko
- Bila prediabetes, ikuti program perubahan gaya hidup dan periksa ulang setiap tahun
- Perempuan dengan riwayat diabetes kehamilan perlu memeriksa gula darah secara berkala
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Temui dokter untuk pemeriksaan gula darah bila Anda memiliki faktor risiko, walaupun merasa sehat. Penyandang diabetes tipe 2 perlu kontrol terjadwal, dan lebih cepat bila ada perubahan keluhan. Bila muncul nyeri dada, tanda stroke, atau penurunan kesadaran, segera ke IGD.
- Sering haus, sering berkemih, penglihatan kabur, atau luka sulit sembuh
- Berusia 35 tahun ke atas, berat badan berlebih, atau ada keluarga penyandang diabetes
- Gula darah atau HbA1c belum mencapai target yang disepakati
- Gula darah sering turun terlalu rendah setelah minum obat
- Sesak saat beraktivitas, mudah lelah, berdebar, atau bengkak di tungkai
- Kesemutan, baal, atau luka di kaki
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang diabetes tipe 2 dan kesehatan jantung.
Apakah diabetes tipe 2 bisa sembuh?
Diabetes tipe 2 umumnya merupakan kondisi jangka panjang. Namun pada sebagian orang, terutama di tahun-tahun awal, penurunan berat badan yang cukup besar dapat membuat gula darah kembali normal tanpa obat. Keadaan ini disebut remisi, bukan sembuh, karena gula darah dapat naik lagi bila berat badan bertambah. Pemeriksaan HbA1c, tekanan darah, dan kolesterol tetap perlu dilakukan secara berkala.
Mengapa diabetes tipe 2 berkaitan erat dengan penyakit jantung?
Gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tidak normal yang sering muncul bersamaan merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak. Kabar baiknya, penelitian besar di Swedia pada 2018 menunjukkan penyandang diabetes tipe 2 yang gula darah, tekanan darah, kolesterol LDL, dan albumin urinenya terkendali serta tidak merokok memiliki risiko serangan jantung dan stroke yang mendekati orang tanpa diabetes.
Apakah saya harus langsung memakai insulin?
Tidak selalu. Banyak penyandang diabetes tipe 2 memulai pengobatan dengan perubahan gaya hidup dan obat minum atau suntikan non-insulin. Insulin dapat diperlukan sejak awal bila gula darah sangat tinggi atau ada gejala berat, dan pada sebagian orang dibutuhkan setelah bertahun-tahun karena produksi insulin tubuh terus menurun. Memakai insulin bukan tanda kegagalan, melainkan cara menjaga gula darah tetap terkendali.
Apakah obat diabetes merusak ginjal?
Obat diabetes yang dipakai sesuai anjuran dokter tidak merusak ginjal. Justru gula darah dan tekanan darah yang tidak terkendali yang merusak ginjal. Beberapa golongan obat, seperti penghambat SGLT2, bahkan terbukti memperlambat penurunan fungsi ginjal. Dokter memeriksa fungsi ginjal secara berkala dan menyesuaikan jenis atau takaran obat bila fungsi ginjal menurun. Jangan menghentikan obat sendiri karena khawatir.
Bila gula darah sudah normal, bolehkah saya berhenti minum obat?
Jangan berhenti sendiri. Gula darah yang normal sering justru menunjukkan obatnya bekerja, dan menghentikannya dapat membuat gula darah naik kembali. Selain itu, beberapa obat diberikan untuk melindungi jantung dan ginjal, bukan hanya menurunkan gula darah. Bila Anda merasa obat dapat dikurangi, misalnya setelah berat badan turun banyak, bicarakan dengan dokter agar perubahannya dilakukan dengan aman.
Seberapa sering saya perlu memeriksa HbA1c?
Pedoman ADA menganjurkan pemeriksaan HbA1c minimal dua kali setahun bila gula darah sudah stabil dan sesuai target. Bila pengobatan baru diubah atau target belum tercapai, HbA1c umumnya diperiksa setiap tiga bulan. Pemeriksaan gula darah mandiri di rumah atau sensor glukosa dapat melengkapi, terutama bila Anda memakai insulin atau obat yang dapat menurunkan gula darah terlalu rendah.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.
- American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 2. Diagnosis and Classification of Diabetes: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S27-S49.
- American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 3. Prevention or Delay of Diabetes and Associated Comorbidities: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S50-S60.
- Davies MJ, Aroda VR, Collins BS, Gabbay RA, Green J, Maruthur NM, et al. Management of Hyperglycemia in Type 2 Diabetes, 2022. A Consensus Report by the American Diabetes Association (ADA) and the European Association for the Study of Diabetes (EASD). Diabetes Care. 2022;45(11):2753-2786.
- Marx N, Federici M, Schütt K, Müller-Wieland D, Ajjan RA, Antunes MJ, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease in patients with diabetes. Eur Heart J. 2023;44(39):4043-4140.
- Joseph JJ, Deedwania P, Acharya T, Aguilar D, Bhatt DL, Chyun DA, et al. Comprehensive Management of Cardiovascular Risk Factors for Adults With Type 2 Diabetes: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2022;145(9):e722-e759.
- Rawshani A, Rawshani A, Franzén S, Sattar N, Eliasson B, Svensson AM, et al. Risk Factors, Mortality, and Cardiovascular Outcomes in Patients with Type 2 Diabetes. N Engl J Med. 2018;379(7):633-644.




