Langsung ke konten

Hipertensi

Hipertensi Sekunder

Secondary Hypertension

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis hipertensi sekunder dengan tampak depan kedua ginjal dan arteri renalis yang bercabang dari aorta abdominalis, satu arteri renalis menyempit, kelenjar adrenal di atas ginjal, serta inset kelenjar tiroid dan sosok tidur dengan saluran napas atas menyempit.
Ilustrasi Hipertensi Sekunder

Jawaban singkat

Apa Itu Hipertensi Sekunder?

Hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan penyakit atau keadaan tertentu, seperti gangguan ginjal, kelebihan hormon, sleep apnea, atau obat. Menemukan dan menangani penyebabnya dapat menurunkan tekanan darah dan kadang mengurangi kebutuhan obat.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri dada atau dada terasa ditekan
  • Sesak napas berat atau batuk berbusa
  • Wajah mencong, lengan atau tungkai lemah sesisi, atau bicara pelo
  • Sakit kepala hebat mendadak disertai muntah atau kebingungan
  • Penglihatan kabur atau hilang mendadak
  • Nyeri hebat di dada atau punggung seperti disayat

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Penyebab hipertensi sekunder sering membuat tekanan darah tinggi dan sulit turun, serta dapat merusak jantung, ginjal, dan pembuluh darah lebih cepat. Banyak penyebabnya dapat diobati, sehingga pemeriksaan terarah perlu dilakukan pada orang yang memiliki tanda kecurigaan.

Mengenal Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang muncul akibat penyakit atau keadaan lain yang dapat dikenali. Jenis ini ditemukan pada sekitar 1 dari 10 penderita hipertensi dewasa, dan lebih sering pada orang muda serta pada hipertensi yang sulit dikendalikan. Berbeda dengan hipertensi primer, penanganannya tidak hanya menurunkan angka tekanan darah, tetapi juga mengatasi sumbernya. Gambaran umum hipertensi dibahas di halaman Hipertensi.

Penyebab yang Umum

Penyakit ginjal kronis dan penyempitan arteri ginjal mengganggu cara ginjal mengatur garam dan hormon. Aldosteronisme primer, yaitu kelenjar adrenal yang membuat aldosteron berlebih, termasuk penyebab hormonal yang sering terlewat dan dapat disertai kalium darah rendah. Sleep apnea obstruktif membuat napas berulang kali terhenti saat tidur sehingga tekanan darah melonjak di malam hari. Penyebab yang lebih jarang antara lain feokromositoma, sindrom Cushing, gangguan tiroid, dan koarktasio aorta. Obat dan zat juga dapat menaikkan tekanan darah, misalnya obat antiinflamasi nonsteroid, dekongestan, pil KB, kortikosteroid, alkohol, dan stimulan.

Tanda yang Mengarah ke Hipertensi Sekunder

Dokter akan mencari penyebab sekunder bila hipertensi muncul sebelum usia 40 tahun, tekanan naik mendadak atau memburuk setelah lama terkendali, tekanan sangat tinggi atau tetap tinggi dengan tiga obat, kalium darah rendah tanpa sebab, atau kerusakan organ tampak lebih berat daripada lamanya hipertensi. Gejala khas juga menjadi petunjuk, misalnya serangan berdebar, berkeringat, dan sakit kepala pada feokromositoma, atau dengkur keras dan mengantuk di siang hari pada sleep apnea. Hipertensi yang sulit turun dibahas di halaman Hipertensi Resisten.

Mengapa Penting Ditemukan

Beberapa penyebab dapat diatasi secara tuntas, misalnya tumor adrenal yang diangkat atau koarktasio yang diperbaiki. Pada penyebab lain, pengobatan yang tepat sasaran membuat tekanan darah lebih mudah dikendalikan dan melindungi organ. Aldosteron berlebih, misalnya, berkaitan dengan risiko fibrilasi atrium, stroke, dan penyakit ginjal yang lebih tinggi daripada hipertensi primer dengan tekanan darah setara. Pada hipertensi yang sudah lama, sebagian penderita tetap memerlukan obat walaupun penyebabnya sudah ditangani.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Keluhan biasanya berasal dari penyakit penyebabnya. Tanda berikut perlu diceritakan kepada dokter.

  • Tekanan darah tinggi yang muncul sebelum usia 40 tahun
  • Tekanan darah naik mendadak atau sulit turun walaupun sudah minum beberapa obat
  • Lemas, kram otot, atau sering buang air kecil karena kalium rendah
  • Serangan berdebar, berkeringat banyak, dan sakit kepala yang datang tiba-tiba
  • Mendengkur keras, henti napas saat tidur, dan mengantuk di siang hari
  • Wajah membulat, perut membesar, dan guratan ungu kemerahan di kulit perut
  • Berdebar, gemetar, berat badan turun, atau mudah kepanasan
  • Urine berbusa atau berdarah, atau bengkak di sekitar mata

Gejala pada Anak-Anak

Pada anak, terutama yang masih kecil, hipertensi lebih sering disebabkan penyakit lain, terutama penyakit ginjal dan kelainan bawaan.

  • Tekanan darah tinggi yang ditemukan saat pemeriksaan rutin
  • Nadi di kaki lemah atau tungkai cepat lelah saat bermain
  • Pertumbuhan atau kenaikan berat badan terhambat
  • Sakit kepala berulang atau rewel tanpa sebab yang jelas
  • Urine berbusa atau berdarah, atau bengkak di sekitar mata
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Penyakit ginjal kronis atau peradangan ginjal
  • Penyempitan arteri ginjal karena plak aterosklerosis atau displasia fibromuskular
  • Aldosteronisme primer: kelenjar adrenal membuat hormon aldosteron berlebih
  • Feokromositoma atau paraganglioma: tumor yang melepas hormon sejenis adrenalin
  • Sindrom Cushing, gangguan tiroid, atau gangguan kelenjar paratiroid
  • Sleep apnea obstruktif: napas berulang kali terhenti saat tidur
  • Koarktasio aorta: penyempitan aorta bawaan sejak lahir
  • Obat dan zat: obat antiinflamasi nonsteroid, dekongestan, pil KB, kortikosteroid, obat kanker tertentu, alkohol, dan stimulan

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Penyakit ginjal kronis, diabetes dengan kerusakan ginjal, penyakit autoimun yang mengenai ginjal, aterosklerosis di pembuluh lain, serta gangguan hormon tiroid atau adrenal.

Gaya Hidup

Obesitas meningkatkan risiko sleep apnea obstruktif, sedangkan alkohol berlebih dan narkoba stimulan dapat langsung menaikkan tekanan darah.

Genetik

Beberapa penyebab dapat diturunkan, misalnya penyakit ginjal polikistik, sebagian feokromositoma atau paraganglioma, dan bentuk keturunan aldosteronisme.

Usia

Pada anak dan dewasa muda, penyebab sekunder lebih mungkin ditemukan. Pada lansia, penyempitan arteri ginjal akibat aterosklerosis lebih sering terjadi.

Lainnya

Pemakaian rutin obat antiinflamasi nonsteroid, dekongestan, pil KB, kortikosteroid, obat kanker tertentu, atau suplemen dan jamu yang tidak jelas kandungannya.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Orang dengan Hipertensi sebelum Usia 40 Tahun: Hipertensi di usia muda lebih mungkin disebabkan penyakit lain, sehingga penyebabnya perlu ditelusuri.
  • Penderita Hipertensi Resisten: Aldosteronisme primer, penyakit ginjal, dan sleep apnea lebih sering ditemukan pada tekanan darah yang sulit turun.
  • Penyandang Penyakit Ginjal Kronis: Penyakit ginjal termasuk penyebab hipertensi sekunder yang umum dan sekaligus diperberat oleh tekanan tinggi.
  • Orang yang Mendengkur Keras: Dengkur keras dengan henti napas saat tidur dapat menandakan sleep apnea obstruktif yang menaikkan tekanan darah.
  • Pengguna Obat Pemicu Hipertensi: Pemakaian rutin obat antiinflamasi nonsteroid, dekongestan, kortikosteroid, atau pil KB dapat menaikkan tekanan darah.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Pemeriksaan hipertensi sekunder dilakukan bertahap dan terarah, bukan semua tes sekaligus. Dokter memulai dengan wawancara tentang usia saat hipertensi muncul, obat dan jamu yang dipakai, pola tidur, serta gejala khas, lalu memeriksa tubuh, termasuk membandingkan tekanan darah lengan dan tungkai.

Tes dasar meliputi kalium, natrium, fungsi ginjal, tes urine, dan gula darah. Pedoman ESC 2024 menganjurkan pemeriksaan aldosteronisme primer dengan mengukur aldosteron dan renin dipertimbangkan pada orang dewasa dengan hipertensi yang sudah dipastikan. Bila hasil awal mengarah ke penyebab tertentu, pemeriksaan dilanjutkan, misalnya tes hormon tiroid atau metanefrin, USG Doppler arteri ginjal, CT scan atau MRI perut, dan pemeriksaan tidur. Sebagian penyebab hormonal memerlukan kerja sama dengan dokter penyakit dalam konsultan endokrin, sedangkan kelainan pembuluh darah dapat memerlukan angiografi sebelum tindakan.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Membandingkan tekanan darah lengan dan tungkai, meraba nadi kaki, mendengar bising di perut, serta mencari tanda kelebihan hormon.

  2. Pemeriksaan Laboratorium

    Kalium, natrium, fungsi ginjal, gula darah, serta rasio aldosteron dan renin untuk menyaring aldosteronisme primer.

  3. Tes Urine

    Mencari protein atau darah dalam urine sebagai tanda penyakit ginjal, dan bila dicurigai, mengukur hormon tertentu dalam urine.

  4. Pemeriksaan Fungsi Tiroid

    Mengukur TSH dan hormon tiroid untuk mengenali kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif.

  5. USG Vaskular

    USG Doppler arteri ginjal untuk mencari penyempitan aliran darah ke ginjal tanpa jarum dan tanpa radiasi.

  6. CT scan atau MRI perut untuk melihat kelenjar adrenal, ginjal, dan arteri ginjal setelah tes darah mengarah ke penyebab tertentu.

  7. Pemeriksaan tidur (polisomnografi) untuk memastikan sleep apnea obstruktif bila ada dengkur keras atau mengantuk di siang hari.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Penanganan Penyebab

Pengobatan disesuaikan dengan sumbernya, misalnya pengendalian penyakit ginjal atau pengobatan gangguan tiroid.

Operasi Kelenjar Adrenal

Pada aldosteronisme primer satu sisi atau feokromositoma, kelenjar yang bermasalah dapat diangkat, umumnya dengan operasi lewat sayatan kecil.

Antagonis Mineralokortikoid

Golongan obat ini menghambat kerja aldosteron dan dipakai pada aldosteronisme primer yang mengenai kedua kelenjar adrenal atau tidak dioperasi.

Pelebaran Arteri Ginjal

Angioplasti dipertimbangkan pada penyempitan arteri ginjal tertentu, terutama displasia fibromuskular. Pada penyempitan akibat aterosklerosis, obat umumnya menjadi pilihan awal.

CPAP untuk Sleep Apnea

Alat bantu napas saat tidur yang menjaga saluran napas tetap terbuka dan dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Penghentian atau Penggantian Obat Pemicu

Dokter menilai obat yang mungkin menaikkan tekanan darah dan mencarikan penggantinya. Jangan menghentikan obat sendiri.

Obat Penurun Tekanan Darah

Tetap dibutuhkan selama penyebab ditangani, dan pada sebagian orang dalam jangka panjang.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Kerusakan Ginjal yang Berlanjut

Penyakit ginjal dan tekanan tinggi saling memperburuk, sehingga fungsi ginjal dapat menurun lebih cepat. Dibahas di halaman Penyakit Ginjal Kronis.

Fibrilasi Atrium dan Stroke

Aldosteron berlebih berkaitan dengan risiko fibrilasi atrium dan stroke yang lebih tinggi daripada hipertensi primer dengan tekanan setara.

Penebalan Otot Jantung dan Gagal Jantung

Tekanan tinggi dan kelebihan hormon dapat menebalkan otot jantung, lalu membuatnya kaku atau melemah.

Krisis Hipertensi

Beberapa penyebab, misalnya feokromositoma, dapat memicu lonjakan tekanan darah mendadak yang merusak organ. Dibahas di halaman Krisis Hipertensi.

Penyakit Jantung Koroner

Tekanan tinggi yang lama mempercepat penumpukan plak di arteri koroner, terutama bila penyebabnya terlambat ditemukan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Periksakan tekanan darah sejak usia muda, terutama bila ada riwayat keluarga penyakit ginjal
  • Hindari pemakaian rutin obat antiinflamasi nonsteroid dan dekongestan tanpa saran dokter
  • Beri tahu dokter semua obat, suplemen, dan jamu yang Anda pakai
  • Jaga berat badan untuk menurunkan risiko sleep apnea obstruktif
  • Hindari alkohol berlebih dan narkoba stimulan
  • Kendalikan diabetes dan tekanan darah untuk melindungi ginjal

Kapan Harus ke Dokter?

Hipertensi sekunder perlu dicurigai bila pola tekanan darah Anda tidak biasa. Buat janji konsultasi bila:

  • Hipertensi muncul sebelum usia 40 tahun
  • Tekanan darah naik mendadak atau memburuk setelah lama terkendali
  • Tekanan darah tetap tinggi walaupun sudah minum tiga macam obat
  • Hasil kalium darah rendah, atau Anda sering lemas dan kram otot
  • Muncul serangan berdebar, berkeringat banyak, dan sakit kepala yang datang tiba-tiba
  • Anda mendengkur keras dan sering mengantuk di siang hari

Segera ke IGD bila tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih disertai nyeri dada, sesak napas, lemah separuh badan, bicara pelo, atau gangguan penglihatan.

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang hipertensi sekunder.

Bagaimana saya tahu hipertensi saya sekunder?

Hipertensi sekunder tidak dapat dikenali dari angka tekanan darah saja. Kecurigaan muncul bila hipertensi terjadi sebelum usia 40 tahun, naik mendadak, sulit turun dengan tiga obat, disertai kalium rendah, atau disertai gejala khas seperti serangan berdebar dan berkeringat atau dengkur keras. Dokter akan memilih tes darah, tes urine, dan pencitraan yang sesuai dengan petunjuk tersebut.

Apakah hipertensi sekunder bisa sembuh?

Sebagian bisa. Mengangkat tumor adrenal, memperbaiki koarktasio aorta, atau menghentikan obat pemicu dapat menurunkan tekanan darah, kadang sampai obat tidak lagi diperlukan. Peluangnya lebih besar bila penyebab ditemukan lebih awal. Pada hipertensi yang sudah berlangsung lama, pembuluh darah telanjur kaku, sehingga sebagian penderita tetap memerlukan obat walaupun penyebabnya sudah ditangani.

Apa itu aldosteronisme primer?

Aldosteronisme primer adalah keadaan ketika kelenjar adrenal di atas ginjal membuat hormon aldosteron berlebih. Hormon ini menahan garam dan air serta membuang kalium, sehingga tekanan darah naik dan kalium darah dapat turun. Kondisi ini sering terlewat karena banyak penderitanya memiliki kalium normal. Pemeriksaan awalnya adalah tes darah aldosteron dan renin, lalu dilanjutkan sesuai hasilnya.

Apakah obat dapat menyebabkan hipertensi?

Ya. Obat antiinflamasi nonsteroid untuk nyeri, dekongestan dalam obat flu, pil KB, kortikosteroid, sebagian obat kanker, dan beberapa antidepresan dapat menaikkan tekanan darah. Alkohol dan narkoba stimulan juga berpengaruh. Bawa daftar semua obat, suplemen, dan jamu saat kontrol. Jangan menghentikan obat sendiri; dokter akan menilai dan mencarikan pengganti bila perlu.

Mengapa saya perlu pemeriksaan tidur?

Sleep apnea obstruktif membuat napas berulang kali terhenti saat tidur, sehingga kadar oksigen turun dan tekanan darah melonjak, terutama di malam hari. Kondisi ini sering dialami orang dengan dengkur keras, berat badan berlebih, atau hipertensi yang sulit turun. Pemeriksaan tidur memastikan diagnosisnya, dan pengobatan dengan CPAP dapat membantu menurunkan tekanan darah. Dibahas di halaman Sleep Apnea Obstruktif.

Apakah anak bisa mengalami hipertensi sekunder?

Bisa. Pada anak, terutama yang masih kecil, hipertensi lebih sering disebabkan penyakit lain, seperti penyakit ginjal atau koarktasio aorta. Karena itu, anak dengan tekanan darah tinggi umumnya diperiksa lebih lanjut. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain nadi kaki yang lemah, pertumbuhan terhambat, urine berbusa atau berdarah, dan bengkak di sekitar mata.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. McEvoy JW, McCarthy CP, Bruno RM, dkk. 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. Eur Heart J. 2024;45(38):3912-4018.
  2. Mancia G, Kreutz R, Brunström M, dkk. 2023 ESH Guidelines for the management of arterial hypertension The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Hypertension: Endorsed by the International Society of Hypertension (ISH) and the European Renal Association (ERA). J Hypertens. 2023;41(12):1874-2071.
  3. Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? Eur Heart J. 2014;35(19):1245-1254.
  4. Funder JW, Carey RM, Mantero F, dkk. The Management of Primary Aldosteronism: Case Detection, Diagnosis, and Treatment: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2016;101(5):1889-1916.
  5. Lenders JWM, Duh QY, Eisenhofer G, dkk. Pheochromocytoma and Paraganglioma: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2014;99(6):1915-1942.
  6. Monticone S, D'Ascenzo F, Moretti C, dkk. Cardiovascular events and target organ damage in primary aldosteronism compared with essential hypertension: a systematic review and meta-analysis. Lancet Diabetes Endocrinol. 2018;6(1):41-50.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Hipertensi Sekunder

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi