Langsung ke konten

Perikarditis

Perikarditis Akut

Acute Pericarditis

Ditinjau secara medis olehdr. BRM Ario S. Kuncoro, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis perikarditis yang memperlihatkan jantung dengan perikardium meradang berwarna merah, sedikit cairan di antara lapisan selaput jantung, inset permukaan perikardium yang kasar dengan benang fibrin, dan sosok duduk condong ke depan untuk meredakan nyeri dada.
Ilustrasi Perikarditis Akut

Jawaban singkat

Apa Itu Perikarditis Akut?

Perikarditis akut adalah peradangan selaput pembungkus jantung yang muncul mendadak, umumnya akibat infeksi virus atau tanpa penyebab jelas. Sebagian besar membaik dalam beberapa minggu dengan obat antiradang dan kolkisin.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Sesak napas berat atau makin sesak dalam beberapa jam
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Kulit pucat, dingin, dan berkeringat dengan denyut jantung sangat cepat
  • Nyeri dada berat dan menekan yang tidak berubah dengan posisi tubuh
  • Pembuluh vena di leher tampak menggembung
  • Bingung atau mengantuk tidak seperti biasanya

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Perikarditis akut umumnya membaik dengan obat dan sering dapat dirawat jalan. Nyerinya tetap perlu diperiksa segera untuk membedakannya dari serangan jantung, dan rawat inap dianjurkan bila ada demam tinggi, cairan banyak, atau tanda tekanan pada jantung.

Mengenal Perikarditis Akut

Perikarditis akut adalah episode peradangan perikardium, kantong tipis berlapis dua yang membungkus jantung, yang muncul dalam hitungan jam sampai beberapa hari. Lapisan yang meradang menjadi kasar dan bergesekan setiap kali jantung berdenyut. Akibatnya timbul nyeri dada tajam yang khas: memberat saat menarik napas, batuk, atau berbaring, dan berkurang saat duduk condong ke depan.

Perikarditis akut cukup sering ditemukan pada pasien yang datang ke IGD karena nyeri dada, tetapi gejalanya mirip serangan jantung. Karena itu, nyeri dada yang baru muncul tidak boleh ditebak sendiri. Pemeriksaan EKG dan darah diperlukan untuk membedakan keduanya.

Penyebab yang Umum

Pada sebagian besar orang, penyebabnya tidak ditemukan dan diduga berasal dari infeksi virus. Perikarditis akut juga dapat muncul beberapa hari sampai minggu setelah serangan jantung, operasi jantung, atau tindakan kateter, sebagai reaksi peradangan tubuh. Penyebab lain antara lain TB, infeksi bakteri, penyakit autoimun, gagal ginjal, dan kanker. Di Indonesia, TB perlu dipertimbangkan, terutama bila keluhan muncul perlahan dengan demam, berat badan turun, atau batuk lama.

Kapan Perlu Dirawat Inap

Dokter menilai tanda risiko tinggi sebelum memutuskan rawat jalan. Tanda tersebut antara lain demam di atas 38 derajat Celsius, keluhan yang muncul perlahan dalam beberapa hari sampai minggu, cairan banyak di kantong jantung, tanda tekanan pada jantung, dan keluhan yang tidak membaik setelah sekitar satu minggu minum obat antiradang. Kenaikan troponin, daya tahan tubuh yang lemah, cedera dada, dan pemakaian obat pengencer darah juga menjadi pertimbangan. Bila ada tanda ini, rawat inap dan pencarian penyebab lebih lanjut dianjurkan.

Pengobatan dan Pemulihan

Pengobatan utama adalah obat antiradang golongan aspirin atau antiinflamasi nonsteroid, disertai kolkisin selama sekitar tiga bulan untuk menurunkan risiko kambuh. Obat antiradang diturunkan bertahap sesuai keluhan dan nilai CRP. Olahraga berat ditunda sampai keluhan hilang dan penanda radang normal. Sebagian besar pasien pulih tanpa gejala sisa. Bila peradangan ikut mengenai otot jantung, kondisi yang dibahas di halaman Miokarditis, pemantauan dan masa istirahat olahraga biasanya lebih panjang. Bila keluhan kembali setelah sempat hilang, kondisinya dibahas di halaman Perikarditis Rekuren.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Nyeri dada tajam atau menusuk yang muncul mendadak
  • Nyeri memberat saat menarik napas dalam, batuk, menelan, atau berbaring
  • Nyeri berkurang saat duduk dan condong ke depan
  • Nyeri menjalar ke bahu kiri, leher, atau punggung atas
  • Demam ringan, badan pegal, atau baru sembuh dari flu
  • Jantung berdebar atau napas terasa pendek
  • Cepat lelah
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Infeksi virus, termasuk virus flu, virus saluran cerna, dan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19
  • Idiopatik, yaitu penyebab tidak ditemukan walaupun sudah diperiksa
  • Reaksi peradangan setelah serangan jantung, operasi jantung, atau tindakan kateter (sindrom pascacedera jantung)
  • Tuberkulosis (TB) atau infeksi bakteri lain
  • Penyakit autoimun seperti lupus dan artritis reumatoid
  • Gagal ginjal berat (uremia) atau kanker yang menyebar ke selaput jantung
  • Reaksi terhadap obat atau vaksin tertentu, termasuk vaksin mRNA COVID-19, meskipun jarang

Siapa yang Lebih Berisiko?

Usia

Perikarditis akut lebih sering pada orang dewasa usia 16 sampai 65 tahun, terutama laki-laki.

Medis

Riwayat serangan jantung, operasi jantung, atau tindakan kateter, penyakit autoimun, gagal ginjal, kanker, dan terapi radiasi di dada.

Lainnya

Infeksi virus saluran napas atau saluran cerna yang baru dialami, kontak dengan penderita TB, dan daya tahan tubuh yang lemah.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Laki-Laki Dewasa Muda dan Paruh Baya: Kelompok yang lebih sering dirawat karena perikarditis akut, umumnya setelah infeksi virus.
  • Pasien Pascaoperasi Jantung: Selaput jantung dapat meradang beberapa hari sampai minggu setelah operasi jantung, tindakan kateter, atau serangan jantung.
  • Penyandang Penyakit Autoimun: Lupus dan artritis reumatoid dapat menimbulkan perikarditis akut, kadang sebagai tanda awal penyakitnya.
  • Penyandang Gagal Ginjal Berat: Sisa metabolisme yang menumpuk atau cuci darah yang kurang memadai dapat memicu peradangan selaput jantung.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Perikarditis akut ditegakkan bila ada setidaknya dua dari empat tanda: nyeri dada khas, bunyi gesekan selaput jantung, perubahan EKG yang khas, serta cairan baru atau bertambah di kantong jantung. Kenaikan CRP atau tanda peradangan pada MRI atau CT mendukung diagnosis.

Pemeriksaan awal yang dianjurkan untuk semua pasien adalah pemeriksaan fisik, EKG, ekokardiografi, rontgen dada, serta tes darah untuk penanda radang dan troponin. Pemeriksaan ini sekaligus menyingkirkan serangan jantung dan kondisi lain yang menimbulkan nyeri dada. Pada pasien tanpa tanda risiko tinggi yang membaik dengan obat, pencarian penyebab secara luas umumnya tidak diperlukan. Pemeriksaan TB, autoimun, atau kanker dilakukan bila ada tanda risiko tinggi atau petunjuk ke arah penyebab tertentu.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Dokter mendengarkan jantung dengan stetoskop untuk mencari bunyi gesekan selaput jantung, serta memeriksa tekanan darah, nadi, dan pembuluh leher.

  2. Elektrokardiogram / EKG

    Mencari kenaikan segmen ST yang menyebar di banyak sadapan atau penurunan segmen PR, sekaligus membedakannya dari serangan jantung.

  3. Tes Troponin Jantung

    Troponin yang naik menandakan otot jantung ikut meradang dan membantu menyingkirkan serangan jantung.

  4. Pemeriksaan C-Reactive Protein

    Mengukur tingkat peradangan sebagai pendukung diagnosis dan panduan kapan obat dapat diturunkan.

  5. Ekokardiografi

    Mencari cairan di kantong jantung, menilai jumlahnya, dan memastikan tidak ada tanda tekanan pada jantung.

  6. Rontgen Dada

    Melihat bayangan jantung yang membesar serta kelainan paru atau cairan di selaput paru.

  7. MRI Jantung

    Bila diagnosis belum pasti atau troponin naik, untuk melihat peradangan selaput dan otot jantung.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Aspirin atau Obat Antiinflamasi Nonsteroid

Pilihan pertama untuk meredakan nyeri dan radang, disertai obat pelindung lambung. Setelah serangan jantung, aspirin lebih dipilih. Dokter menentukan jenis dan cara menurunkannya.

Kolkisin

Ditambahkan sejak awal, umumnya selama sekitar tiga bulan, untuk mempercepat pemulihan dan menurunkan risiko kambuh hingga sekitar separuhnya.

Kortikosteroid Dosis Rendah

Pilihan kedua bila aspirin atau antiinflamasi nonsteroid tidak dapat dipakai atau tidak berhasil, setelah infeksi disingkirkan. Pemakaiannya dibatasi karena dikaitkan dengan kekambuhan.

Istirahat dari Olahraga Berat

Olahraga berat ditunda sampai keluhan hilang dan CRP normal. Atlet kompetitif dan pasien dengan peradangan otot jantung biasanya menunda lebih lama sesuai penilaian dokter.

Pengobatan Sesuai Penyebab

Bila penyebab khusus ditemukan, misalnya TB, infeksi bakteri, penyakit autoimun, atau uremia, pengobatan diarahkan ke penyebab tersebut.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Kekambuhan

Sekitar 15 sampai 30 dari 100 pasien mengalami kekambuhan. Risikonya lebih rendah bila mendapat kolkisin dan obat tidak dihentikan terlalu cepat.

Perikarditis Menetap

Peradangan berlangsung terus lebih dari 4 sampai 6 minggu tanpa jeda. Pengobatan biasanya diperpanjang dan penyebabnya dicari lebih teliti.

Efusi Perikardium dan Tamponade

Cairan di kantong jantung dapat bertambah. Bila menumpuk cepat dan menekan jantung, terjadi tamponade yang perlu ditangani darurat.

Peradangan Otot Jantung

Kenaikan troponin menandakan peradangan ikut mengenai otot jantung. Umumnya tetap pulih baik, tetapi perlu pemantauan dan istirahat olahraga lebih lama.

Perikarditis Konstriktif

Jarang setelah perikarditis virus atau idiopatik, kurang dari 1 dari 100 pasien, tetapi lebih sering setelah TB atau infeksi bakteri bernanah.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Minum obat antiradang dan kolkisin sesuai jangka waktu yang dianjurkan dokter
  • Jangan menghentikan obat sendiri walaupun nyeri sudah hilang
  • Tunda olahraga berat sampai dokter menyatakan peradangan sudah reda
  • Datang kontrol untuk pemeriksaan CRP sesuai jadwal
  • Beri tahu dokter bila Anda memakai obat pengencer darah atau punya penyakit lambung
  • Cuci tangan dan tutup mulut saat batuk untuk mengurangi penularan infeksi virus

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami nyeri dada tajam yang memberat saat menarik napas atau berbaring, terutama setelah flu atau infeksi saluran cerna. Nyeri dada baru selalu perlu diperiksa karena dapat menyerupai serangan jantung. Bila sudah berobat, hubungi dokter bila nyeri tidak membaik setelah sekitar satu minggu, demam tidak turun, atau muncul efek samping obat seperti nyeri lambung dan diare berat.

Segera ke IGD bila:

  • Nyeri dada berat, menekan, atau disertai keringat dingin
  • Sesak napas berat atau makin sesak dalam beberapa jam
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Kulit pucat dan dingin dengan denyut jantung sangat cepat

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang perikarditis akut.

Berapa lama perikarditis akut sembuh?

Pada kebanyakan orang, nyeri berkurang dalam beberapa hari setelah mulai minum obat antiradang, dan peradangan reda dalam beberapa minggu. Kolkisin biasanya tetap diminum sekitar tiga bulan untuk mencegah kekambuhan. Bila nyeri tidak membaik setelah sekitar satu minggu pengobatan, dokter akan mengevaluasi ulang penyebabnya dan mungkin menganjurkan rawat inap.

Bagaimana membedakan nyeri perikarditis dengan serangan jantung?

Nyeri perikarditis biasanya tajam, memberat saat menarik napas atau berbaring, dan berkurang saat duduk condong ke depan. Nyeri serangan jantung lebih sering terasa berat atau menekan, tidak dipengaruhi posisi, dan dapat disertai keringat dingin. Namun ciri ini tidak selalu dapat diandalkan, sehingga setiap nyeri dada baru perlu diperiksa dengan EKG dan tes troponin di fasilitas kesehatan.

Apakah perikarditis akut harus dirawat inap?

Tidak selalu. Pasien tanpa tanda risiko tinggi umumnya dapat berobat jalan dengan kontrol dalam sekitar satu minggu. Rawat inap dianjurkan bila ada demam di atas 38 derajat Celsius, keluhan muncul perlahan, cairan banyak di kantong jantung, tanda tekanan pada jantung, troponin naik, daya tahan tubuh lemah, memakai obat pengencer darah, atau tidak membaik setelah sekitar satu minggu pengobatan.

Apakah kolkisin aman diminum berbulan-bulan?

Kolkisin umumnya dapat ditoleransi dengan baik pada pemakaian untuk perikarditis. Efek samping yang dapat muncul antara lain diare, mual, atau nyeri perut. Dokter akan menyesuaikan pemakaian bila Anda memiliki gangguan ginjal atau hati, atau minum obat lain yang berinteraksi dengan kolkisin. Jangan menghentikan atau menambah obat sendiri, dan sampaikan efek samping saat kontrol.

Kapan saya boleh berolahraga lagi?

Olahraga berat sebaiknya ditunda sampai nyeri hilang dan penanda radang seperti CRP kembali normal. Aktivitas ringan sehari-hari, seperti berjalan santai, umumnya tetap boleh. Bila troponin naik karena otot jantung ikut meradang, atau Anda atlet kompetitif, masa istirahat biasanya lebih lama dan perlu penilaian ulang oleh dokter sebelum kembali berlatih penuh.

Apakah vaksin COVID-19 dapat menyebabkan perikarditis?

Peradangan selaput atau otot jantung setelah vaksin mRNA COVID-19 pernah dilaporkan, tetapi jarang, lebih sering pada laki-laki muda, dan umumnya ringan serta membaik dengan pengobatan. Infeksi COVID-19 sendiri juga dapat menyebabkan perikarditis. Bila Anda mengalami nyeri dada, sesak, atau berdebar dalam beberapa hari setelah vaksinasi, periksakan diri ke dokter.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. BRM Ario S. Kuncoro, Sp.JP(K).

  1. Schulz-Menger J, Collini V, Gröschel J, Adler Y, Brucato A, Christian V, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of myocarditis and pericarditis. Eur Heart J. 2025;46(40):3952-4041.
  2. Adler Y, Charron P, Imazio M, Badano L, Barón-Esquivias G, Bogaert J, et al. 2015 ESC Guidelines for the diagnosis and management of pericardial diseases: The Task Force for the Diagnosis and Management of Pericardial Diseases of the European Society of Cardiology (ESC). Eur Heart J. 2015;36(42):2921-2964.
  3. Imazio M, Brucato A, Cemin R, Ferrua S, Maggiolini S, Beqaraj F, et al. A Randomized Trial of Colchicine for Acute Pericarditis. N Engl J Med. 2013;369(16):1522-1528.
  4. Imazio M, Cecchi E, Demichelis B, Ierna S, Demarie D, Ghisio A, et al. Indicators of Poor Prognosis of Acute Pericarditis. Circulation. 2007;115(21):2739-2744.
  5. Imazio M, Brucato A, Barbieri A, Ferroni F, Maestroni S, Ligabue G, et al. Good Prognosis for Pericarditis With and Without Myocardial Involvement: Results From a Multicenter, Prospective Cohort Study. Circulation. 2013;128(1):42-49.
  6. Imazio M, Gaita F, LeWinter M. Evaluation and Treatment of Pericarditis: A Systematic Review. JAMA. 2015;314(14):1498-1506.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Perikarditis Akut

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi