Jawaban singkat
Apa Itu Hipertensi Pulmonal Sekunder?
Hipertensi pulmonal sekunder adalah tekanan tinggi di arteri paru yang disebabkan penyakit lain, terutama penyakit jantung kiri dan penyakit paru. Penanganannya berfokus pada penyakit penyebab, sambil menjaga kerja bilik kanan jantung.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak napas berat saat istirahat atau tidak bisa berbaring
- Pingsan
- Bibir, lidah, atau ujung jari kebiruan
- Nyeri dada berat atau berkepanjangan
- Batuk darah
- Bengkak dan berat badan bertambah cepat dalam beberapa hari
- Kebingungan atau sangat mengantuk
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Hipertensi Pulmonal Sekunder
Hipertensi pulmonal adalah tekanan darah tinggi di arteri paru, yaitu pembuluh yang membawa darah dari bilik kanan jantung ke paru. Disebut sekunder bila ada penyakit lain yang menjadi penyebabnya. Pedoman ESC/ERS 2022 tidak lagi membagi hipertensi pulmonal menjadi primer dan sekunder, melainkan lima kelompok menurut penyebab. Jenis sekunder mencakup sebagian besar kasus hipertensi pulmonal yang ditemui sehari-hari. Gambaran umum seluruh jenisnya dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal.
Akibat Penyakit Jantung Kiri
Penyakit jantung kiri merupakan penyebab yang sering ditemukan (kelompok 2). Bila bilik kiri lemah atau kaku, atau katup mitral dan aorta menyempit atau bocor, tekanan di jantung kiri naik dan diteruskan ke pembuluh paru. Contohnya gagal jantung, termasuk gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga yang sering pada lansia, serta penyakit katup jantung. Pada sebagian pasien, pembuluh paru ikut berubah sehingga tekanannya tetap tinggi.
Akibat Penyakit Paru dan Kekurangan Oksigen
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), fibrosis dan penyakit paru interstisial lain, gangguan napas saat tidur, serta tinggal lama di dataran tinggi dapat menurunkan kadar oksigen (kelompok 3). Kekurangan oksigen membuat arteri paru menyempit, lalu lama-kelamaan dindingnya menebal. Bila beban ini sampai melemahkan jantung kanan, keadaannya juga dibahas di halaman Kor Pulmonale.
Penyebab Lain
Hipertensi arteri pulmonal dapat menyertai penyakit jaringan ikat seperti skleroderma sistemik, penyakit jantung bawaan dengan lubang yang tidak tertutup, sirosis hati, dan infeksi HIV (bagian kelompok 1). Kelompok 5 mencakup penyebab yang beragam, seperti anemia hemolitik menahun, sarkoidosis, dan penyakit ginjal kronis yang menjalani cuci darah. Hipertensi pulmonal akibat sumbatan bekuan darah menahun (kelompok 4) dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.
Mengapa Kelompoknya Penting
Setiap kelompok ditangani dengan cara berbeda. Pada jenis sekunder, langkah utama adalah mengobati penyakit penyebabnya. Obat khusus hipertensi arteri pulmonal hanya bermanfaat pada kelompok tertentu dan dapat merugikan bila dipakai pada kelompok lain. Karena itu, dokter terlebih dahulu memastikan kelompoknya lewat serangkaian pemeriksaan sebelum menyusun rencana pengobatan bersama Anda.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Gejala sering bercampur dengan gejala penyakit penyebabnya, sehingga sesak yang bertambah perlu diperhatikan.
- Sesak napas saat aktivitas yang makin berat
- Cepat lelah dan kemampuan beraktivitas menurun
- Bengkak di pergelangan kaki dan tungkai
- Perut terasa penuh atau membesar
- Nyeri atau rasa tertekan di dada saat beraktivitas
- Pusing atau hampir pingsan saat beraktivitas
- Jantung berdebar
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Gagal jantung kiri, termasuk gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga
- Penyakit katup mitral atau aorta yang menyempit atau bocor
- PPOK, fibrosis paru, dan penyakit paru interstisial lain
- Sleep apnea obstruktif, hipoventilasi akibat obesitas, atau tinggal lama di dataran tinggi
- Penyakit jaringan ikat seperti skleroderma sistemik dan lupus
- Penyakit jantung bawaan dengan lubang yang tidak tertutup, sampai sindrom Eisenmenger
- Sirosis hati dengan hipertensi portal, infeksi HIV, atau anemia hemolitik menahun
- Sumbatan bekuan darah menahun di arteri paru, yang dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Gagal jantung, penyakit katup jantung, PPOK, penyakit paru interstisial, skleroderma sistemik, penyakit jantung bawaan, sirosis hati, dan infeksi HIV.
Gaya Hidup
Merokok yang merusak paru, obesitas yang memicu gangguan napas saat tidur dan gagal jantung, serta pemakaian metamfetamin.
Usia
Lebih sering pada usia lanjut, seiring makin banyaknya gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga dan penyakit paru kronis.
Lainnya
Tinggal di dataran tinggi, paparan debu atau asap di tempat kerja, dan polusi udara yang memperberat penyakit paru.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyandang Gagal Jantung atau Penyakit Katup: Tekanan tinggi di jantung kiri dapat diteruskan ke paru. Hipertensi pulmonal pada kelompok ini menandakan penyakit yang lebih lanjut.
- Penyandang PPOK atau Penyakit Paru Interstisial: Kadar oksigen yang rendah dalam waktu lama membuat arteri paru menyempit dan menebal.
- Penyandang Skleroderma Sistemik: Pedoman ESC/ERS 2022 menganjurkan penilaian risiko hipertensi arteri pulmonal setiap tahun karena risikonya tinggi. Dibahas di halaman Skleroderma Sistemik.
- Penyandang Penyakit Jantung Bawaan: Lubang di sekat jantung atau saluran pembuluh yang tidak tertutup dapat membuat aliran ke paru berlebihan dan merusak pembuluh paru.
- Penyandang Sirosis Hati: Hipertensi portal dapat disertai hipertensi pulmonal, yang perlu diperiksa terutama sebelum transplantasi hati.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter menilai gejala, penyakit jantung dan paru yang sudah ada, obat yang diminum, serta pemeriksaan fisik. Ekokardiografi menjadi langkah utama: pemeriksaan ini memperkirakan tekanan arteri paru, menilai bilik kanan, dan sekaligus mencari penyebab di jantung kiri, seperti katup yang rusak atau bilik kiri yang kaku.
Untuk penyebab paru, dilakukan tes fungsi paru, CT scan dada, pengukuran kadar oksigen darah, dan bila perlu pemeriksaan tidur. Pemindaian ventilasi-perfusi menyingkirkan sumbatan bekuan darah menahun. Tes darah menilai NT-proBNP, fungsi hati, HIV, dan penanda autoimun. Kateterisasi jantung kanan memastikan diagnosis dan membedakan tekanan yang berasal dari jantung kiri dengan perubahan di pembuluh paru sendiri. Pemeriksaan ini terutama dianjurkan bila hasilnya akan mengubah penanganan, misalnya sebelum operasi katup, evaluasi transplantasi, atau bila obat khusus hipertensi pulmonal dipertimbangkan.
Ekokardiografi
Memperkirakan tekanan arteri paru, menilai bilik kanan, dan mencari penyebab di jantung kiri seperti kelainan katup.
Tes Fungsi Paru / Spirometri
Menilai PPOK, penyakit paru interstisial, dan kemampuan paru menyerap gas sebagai penyebab hipertensi pulmonal.
CT scan dada resolusi tinggi untuk melihat emfisema, fibrosis, dan kelainan jaringan paru lain.
Pemindaian Ventilasi-Perfusi
Menyingkirkan sumbatan bekuan darah menahun yang memerlukan penanganan khusus.
Kateterisasi Jantung Kanan
Memastikan diagnosis dan membedakan asal tekanan tinggi, dari jantung kiri atau dari pembuluh paru sendiri.
Tes NT-proBNP / BNP
Menilai beban jantung dan membantu memantau respons penanganan penyakit dasar.
Pemeriksaan tidur (polisomnografi) bila dicurigai sleep apnea atau napas yang terlalu dangkal saat tidur.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Mengobati Penyakit Jantung Kiri
Pengobatan gagal jantung yang tepat, pengendalian tekanan darah, dan penanganan gangguan irama menurunkan tekanan di jantung kiri dan paru. Dibahas di halaman Gagal Jantung.
Perbaikan atau Penggantian Katup
Katup mitral atau aorta yang rusak berat diperbaiki atau diganti lewat operasi atau kateter, yang dapat menurunkan tekanan paru.
Pengobatan Penyakit Paru
Obat hirup, berhenti merokok, rehabilitasi paru, dan penanganan sleep apnea dengan CPAP sesuai penyakit dasarnya.
Terapi Oksigen Jangka Panjang
Diberikan bila kadar oksigen darah tetap rendah saat istirahat, untuk mengurangi penyempitan arteri paru dan beban jantung kanan.
Diuretik untuk Mengurangi Cairan
Mengurangi penumpukan cairan di tungkai, perut, dan paru. Jenis obat dan takarannya ditentukan dokter.
Obat Khusus Hipertensi Pulmonal pada Jenis Tertentu
Dipakai pada hipertensi arteri pulmonal yang menyertai penyakit jaringan ikat, jantung bawaan, sirosis, atau HIV. Pada penyakit jantung kiri umumnya tidak dianjurkan; pada penyakit paru interstisial, treprostinil hirup dapat dipertimbangkan.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung Kanan
Beban tekanan yang menetap membuat bilik kanan membesar dan melemah, menimbulkan bengkak dan sesak yang makin berat.
Gangguan Irama Jantung
Pembesaran serambi dapat memicu fibrilasi atrium atau flutter yang memperberat sesak dan perlu ditangani.
Kadar Oksigen Darah Rendah
Gangguan aliran darah paru dan penyakit paru penyebabnya menurunkan oksigen, sehingga sebagian pasien memerlukan oksigen di rumah.
Rawat Inap Berulang
Hipertensi pulmonal membuat gagal jantung atau penyakit paru lebih mudah kambuh dan memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penurunan Kemampuan Beraktivitas
Sesak dan lelah membatasi kegiatan sehari-hari dan pekerjaan, sehingga rehabilitasi menjadi bagian penanganan.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Berhenti merokok dan hindari asap rokok serta polusi udara.
- Kendalikan gagal jantung, tekanan darah, dan gangguan irama sesuai anjuran dokter.
- Periksakan kelainan katup jantung secara berkala agar tindakan tidak terlambat.
- Periksakan diri bila Anda mendengkur keras, tersedak saat tidur, atau mengantuk berlebihan di siang hari.
- Lengkapi vaksinasi influenza dan pneumokokus untuk mencegah infeksi paru.
- Bagi penyandang skleroderma sistemik, jalani penilaian risiko hipertensi pulmonal setiap tahun.
- Timbang berat badan setiap hari dan laporkan kenaikan cepat kepada dokter.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Bila Anda menyandang penyakit jantung, katup, atau paru, periksakan diri bila sesak bertambah meski pengobatan sudah dijalani, atau kemampuan beraktivitas makin menurun. Segera ke IGD bila sesak berat saat istirahat, pingsan, atau bibir tampak kebiruan. Buat janji pemeriksaan bila:
- Sesak napas saat aktivitas ringan, seperti berjalan di dalam rumah
- Kaki atau perut makin membengkak
- Pusing atau hampir pingsan saat beraktivitas
- Anda menyandang skleroderma, sirosis hati, atau penyakit jantung bawaan dan mulai mudah sesak
- Kebutuhan oksigen di rumah bertambah
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang hipertensi pulmonal sekunder.
Apa arti sekunder pada hipertensi pulmonal?
Sekunder berarti tekanan tinggi di arteri paru disebabkan penyakit lain, seperti penyakit jantung kiri, penyakit paru, atau penyakit autoimun. Pedoman ESC/ERS 2022 kini memakai lima kelompok menurut penyebab, bukan istilah primer dan sekunder. Mengetahui kelompoknya penting, karena penanganan tiap kelompok berbeda dan sebagian obat hanya bermanfaat untuk kelompok tertentu.
Penyebab apa yang sering ditemukan?
Penyakit jantung kiri, seperti gagal jantung dan penyakit katup mitral atau aorta, merupakan penyebab yang sering ditemukan, diikuti penyakit paru kronis seperti PPOK dan penyakit paru interstisial. Gangguan napas saat tidur, penyakit jantung bawaan, dan penyakit autoimun juga dapat menjadi penyebab. Dokter mencari penyebab ini satu per satu sebelum menentukan rencana pengobatan.
Apakah obat hipertensi pulmonal primer bisa dipakai juga?
Tidak selalu. Obat khusus hipertensi arteri pulmonal dikembangkan untuk kelompok 1. Pada hipertensi pulmonal akibat penyakit jantung kiri, obat ini umumnya tidak dianjurkan karena dapat menambah cairan di paru. Pada penyakit paru, sebagian obat bahkan dapat menurunkan kadar oksigen. Karena itu keputusannya dibuat setelah kateterisasi jantung kanan dan penilaian tim yang berpengalaman.
Apakah tekanan paru bisa turun kembali?
Pada banyak pasien, tekanan paru dapat turun bila penyakit penyebabnya ditangani dengan baik, misalnya setelah gagal jantung terkendali, katup yang rusak diperbaiki, atau kadar oksigen diperbaiki dengan terapi oksigen. Namun bila pembuluh paru sudah lama menebal, sebagian tekanan dapat menetap. Pemeriksaan ulang dengan ekokardiografi membantu menilai perkembangannya.
Apakah saya perlu oksigen di rumah?
Tergantung kadar oksigen darah Anda. Bila saturasi oksigen tetap rendah saat istirahat, terapi oksigen jangka panjang dianjurkan karena membantu mengurangi beban jantung kanan, terutama pada penyakit paru kronis. Sebagian pasien hanya memerlukannya saat tidur atau beraktivitas. Dokter menentukan kebutuhan dan lamanya pemakaian berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan dari rasa sesak saja.
Mengapa saya perlu kateterisasi jantung kanan?
Ekokardiografi hanya memperkirakan tekanan paru. Kateterisasi jantung kanan mengukurnya secara langsung dan menunjukkan apakah tekanan tinggi berasal dari jantung kiri atau dari pembuluh paru sendiri. Hasil ini penting sebelum operasi katup, penutupan lubang jantung, transplantasi, atau pemberian obat khusus. Tidak semua pasien memerlukannya; dokter menilai manfaatnya untuk keadaan Anda.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Santi R. Dewayanti, Sp.P.
- Humbert M, Kovacs G, Hoeper MM, et al. 2022 ESC/ERS Guidelines for the diagnosis and treatment of pulmonary hypertension. Eur Heart J. 2022;43(38):3618-731.
- Kovacs G, Bartolome S, Denton CP, et al. Definition, classification and diagnosis of pulmonary hypertension. Eur Respir J. 2024;64(4):2401324.
- Maron BA, Bortman G, De Marco T, et al. Pulmonary hypertension associated with left heart disease. Eur Respir J. 2024;64(4):2401344.
- Shlobin OA, Adir Y, Barbera JA, et al. Pulmonary hypertension associated with lung diseases. Eur Respir J. 2024;64(4):2401200.
- Waxman A, Restrepo-Jaramillo R, Thenappan T, et al. Inhaled Treprostinil in Pulmonary Hypertension Due to Interstitial Lung Disease. N Engl J Med. 2021;384(4):325-34.




