Langsung ke konten
Utamakan pertolongan

Ada Tanda Kegawatan? Segera Cari Pertolongan.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258. Jangan menunggu jadwal konsultasi atau balasan chat.

Tekanan darah yang sangat tinggi dapat merusak otak, jantung, ginjal, dan pembuluh darah dalam hitungan jam. Bila disertai nyeri dada, sesak, lemah separuh badan, sulit bicara, gangguan penglihatan, atau kebingungan, segera ke IGD. Tanpa keluhan pun, angka setinggi ini perlu dinilai dokter pada hari yang sama.

Hubungi Heart Attack Center 1500 258Hubungi 1500 258, Heart Attack Center

Tanda yang memerlukan pertolongan segera

  • Nyeri dada atau rasa tertekan yang menjalar ke lengan atau rahang
  • Sesak napas berat atau batuk berdahak berbusa
  • Wajah mencong, bicara pelo, atau lemah di separuh badan
  • Kebingungan, sangat mengantuk, kejang, atau penurunan kesadaran
  • Penglihatan mendadak sangat kabur atau hilang
  • Nyeri hebat di dada atau punggung seperti robek
  • Jumlah urine sangat berkurang

Hipertensi

Krisis Hipertensi

Hypertensive Crisis / Hypertensive Emergency

Ditinjau secara medis olehdr. Siska S. Danny, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi krisis hipertensi dengan pembuluh darah bertekanan tinggi pada tubuh, disertai inset pembuluh otak yang mengalami tekanan, retina dengan pembengkakan dan perdarahan kecil, serta ginjal dengan kerusakan pembuluh penyaring.
Ilustrasi Krisis Hipertensi

Jawaban singkat

Apa Itu Krisis Hipertensi?

Krisis hipertensi adalah lonjakan tekanan darah sangat tinggi, umumnya 180/110 mmHg atau lebih. Bila disertai kerusakan organ yang baru terjadi, seperti pada otak, jantung, atau ginjal, keadaan ini merupakan kedaruratan yang perlu segera ditangani di IGD.

Sumber informasi

Mengenal Krisis Hipertensi

Krisis hipertensi adalah istilah untuk tekanan darah yang naik sangat tinggi, umumnya sistolik (angka atas) 180 mmHg atau lebih, atau diastolik (angka bawah) 110 mmHg atau lebih. Krisis hipertensi merupakan bagian dari hipertensi, yang dibahas di halaman Hipertensi. Pedoman ESC 2024 dan ESH 2023 membedakan dua keadaan dengan penanganan yang berbeda, sehingga penilaian dokter menentukan langkah selanjutnya, bukan angka tekanan darah saja.

Kedaruratan Hipertensi

Kedaruratan hipertensi (hypertensive emergency) terjadi bila tekanan darah yang sangat tinggi disertai kerusakan organ yang baru atau sedang berlangsung. Contohnya stroke, serangan jantung, gagal jantung akut dengan cairan di paru, robekan dinding aorta, gangguan fungsi otak akibat tekanan tinggi (ensefalopati hipertensi), gagal ginjal akut, atau preeklampsia berat pada kehamilan. Keadaan ini perlu dirawat di IGD atau ruang intensif dengan obat lewat infus dan pemantauan ketat.

Hipertensi Berat tanpa Kerusakan Organ Akut

Bila tekanan darah sangat tinggi tetapi pemeriksaan tidak menemukan kerusakan organ yang baru, keadaan ini dulu disebut urgensi hipertensi. Pedoman terkini tidak menganjurkan penurunan tekanan darah secara cepat untuk keadaan ini. Umumnya cukup dengan memulai kembali atau menyesuaikan obat minum, lalu kontrol ulang dalam beberapa hari. Penurunan yang terlalu cepat justru dapat mengurangi aliran darah ke otak, jantung, dan ginjal.

Hipertensi Maligna

Hipertensi maligna adalah bentuk kedaruratan hipertensi dengan kerusakan pembuluh darah kecil yang terlihat di retina mata, berupa perdarahan, bercak, atau pembengkakan saraf mata. Keadaan ini sering disertai penurunan fungsi ginjal dan kerusakan sel darah, sehingga perlu penanganan di rumah sakit.

Mengapa Bisa Terjadi

Krisis hipertensi sering terjadi pada penyandang hipertensi yang tekanan darahnya belum terkendali atau yang berhenti minum obat. Pada sebagian orang, krisis menjadi tanda awal hipertensi yang belum pernah terdeteksi, atau tanda penyebab lain seperti penyakit ginjal dan gangguan hormon. Nyeri hebat, cemas, atau panik juga dapat menaikkan tekanan darah untuk sementara. Keadaan ini berbeda dari krisis hipertensi dan biasanya membaik bila penyebabnya diatasi.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Sebagian orang tidak merasakan keluhan apa pun, sehingga tekanan darah yang sangat tinggi baru ketahuan saat diukur.

  • Sakit kepala berat, sering terasa di bagian belakang kepala
  • Pusing atau rasa melayang
  • Penglihatan kabur
  • Mual atau muntah
  • Mimisan yang sulit berhenti
  • Jantung berdebar
  • Tekanan darah sangat tinggi tanpa keluhan, ketahuan saat diukur
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Hipertensi lama yang belum terkendali
  • Lupa, mengurangi, atau berhenti minum obat penurun tekanan darah, terutama bila dihentikan mendadak
  • Hipertensi sekunder, misalnya penyakit ginjal, penyempitan arteri ginjal, atau tumor kelenjar adrenal (feokromositoma)
  • Obat yang dapat menaikkan tekanan darah, seperti obat antiinflamasi nonsteroid, dekongestan, dan kortikosteroid
  • Zat stimulan seperti kokain dan amfetamin
  • Preeklampsia atau eklampsia pada kehamilan
  • Gangguan otak akut, seperti stroke atau cedera kepala, yang ikut menaikkan tekanan darah

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Hipertensi yang tidak terkendali, penyakit ginjal kronis, hipertensi sekunder, dan riwayat krisis hipertensi sebelumnya. Kehamilan yang disertai hipertensi juga meningkatkan risiko.

Gaya Hidup

Tidak rutin minum obat, jarang memantau tekanan darah, asupan garam tinggi, minum alkohol berlebihan, dan memakai zat stimulan.

Usia

Pada usia lanjut, lonjakan tekanan darah lebih mudah merusak organ, terutama bila sudah ada penyakit jantung, penyakit ginjal, atau riwayat stroke.

Lainnya

Memakai obat bebas tanpa memberi tahu dokter, seperti obat flu berisi dekongestan atau obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid, serta jarang kontrol karena sulit menjangkau layanan kesehatan.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Penyandang Hipertensi yang Belum Terkendali: Tekanan darah yang lama tinggi tanpa pengobatan teratur menjadi latar belakang sebagian besar krisis hipertensi.
  • Penyandang Penyakit Ginjal Kronis: Ginjal ikut mengatur tekanan darah, sehingga gangguannya membuat tekanan darah lebih sulit dikendalikan dan lebih mudah melonjak.
  • Perempuan Hamil dengan Hipertensi: Preeklampsia dapat membuat tekanan darah melonjak dan memerlukan penanganan segera. Dibahas di halaman Hipertensi pada Kehamilan.
  • Pengguna Zat Stimulan: Kokain, amfetamin, dan zat sejenis dapat menaikkan tekanan darah secara mendadak, bahkan pada orang tanpa riwayat hipertensi.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dokter pertama-tama memastikan angka tekanan darah dengan pengukuran berulang memakai manset yang sesuai, kadang di kedua lengan. Dokter lalu menanyakan keluhan, riwayat hipertensi, obat yang diminum atau dihentikan, pemakaian obat bebas dan zat lain, serta kemungkinan kehamilan. Tujuannya menilai apakah sudah ada kerusakan organ yang baru terjadi, karena hal ini menentukan apakah keadaan Anda termasuk kedaruratan hipertensi.

Pemeriksaan fisik mencakup jantung, paru, dan fungsi saraf, serta pemeriksaan bagian belakang mata (funduskopi) untuk mencari perdarahan atau pembengkakan saraf mata. EKG dan tes troponin menilai beban dan kerusakan otot jantung. Tes darah dan urine menilai fungsi ginjal, elektrolit, sel darah, dan protein dalam urine. Rontgen dada membantu melihat cairan di paru dan ukuran jantung. Bila ada keluhan saraf, dokter meminta CT scan atau MRI kepala, dan bila dicurigai robekan aorta, dokter meminta CT angiografi aorta.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Pengukuran tekanan darah berulang, termasuk di kedua lengan, serta pemeriksaan jantung, paru, dan fungsi saraf untuk mencari tanda kerusakan organ.

  2. Pemeriksaan bagian belakang mata (funduskopi) untuk melihat perdarahan, bercak, atau pembengkakan saraf mata yang menandakan hipertensi maligna.

  3. Elektrokardiogram / EKG

    Mencari tanda serangan jantung, gangguan irama, atau penebalan otot jantung akibat hipertensi lama.

  4. Tes Troponin Jantung

    Menilai ada tidaknya kerusakan otot jantung bila Anda mengalami nyeri dada atau sesak.

  5. Pemeriksaan Fungsi Ginjal

    Kreatinin dan eGFR menunjukkan apakah ginjal terdampak; sering dilengkapi pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, dan urine.

  6. Rontgen Dada

    Melihat cairan di paru, ukuran jantung, dan pelebaran aorta pada pasien dengan sesak atau nyeri dada.

  7. CT scan atau MRI kepala bila ada keluhan saraf, untuk membedakan stroke perdarahan, stroke sumbatan, dan pembengkakan otak akibat hipertensi.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Perawatan Intensif dengan Obat Infus

Pada kedaruratan hipertensi, obat penurun tekanan darah diberikan lewat infus dengan pemantauan terus-menerus di IGD atau ruang intensif. Jenis obat disesuaikan dengan organ yang terdampak.

Penurunan Tekanan Darah Bertahap

Umumnya tekanan darah diturunkan bertahap dalam beberapa jam sampai hari agar aliran darah ke organ tetap terjaga. Pada robekan aorta atau cairan di paru, dokter menurunkannya lebih cepat.

Obat Minum dan Kontrol Ulang Cepat

Pada hipertensi berat tanpa kerusakan organ akut, dokter memulai atau menyesuaikan obat minum, lalu menjadwalkan kontrol dalam beberapa hari.

Penanganan Organ yang Terdampak

Stroke, serangan jantung, gagal jantung, preeklampsia, atau gangguan ginjal ditangani sesuai keadaannya bersama tim terkait.

Mencari dan Mengatasi Pemicu

Dokter menelusuri penyebab seperti putus obat, obat bebas, zat stimulan, atau hipertensi sekunder agar krisis tidak berulang.

Rencana Pengendalian Jangka Panjang

Setelah keadaan stabil, Anda menjalani pengobatan teratur, pemantauan tekanan darah di rumah, dan kontrol berkala. Dibahas di halaman Manajemen Hipertensi.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Stroke

Tekanan yang sangat tinggi dapat memecahkan pembuluh darah otak atau memicu sumbatan. Dibahas di halaman Stroke.

Ensefalopati Hipertensi

Pembengkakan otak akibat tekanan darah sangat tinggi, dengan sakit kepala berat, kebingungan, gangguan penglihatan, sampai kejang.

Serangan Jantung dan Gagal Jantung Akut

Jantung harus memompa melawan tekanan yang sangat tinggi, sehingga otot jantung kekurangan oksigen atau cairan menumpuk di paru.

Diseksi Aorta

Robekan pada lapisan dinding aorta yang memerlukan penanganan segera. Dibahas di halaman Diseksi Aorta.

Gagal Ginjal Akut

Pembuluh darah kecil di ginjal rusak sehingga fungsi ginjal turun cepat, kadang sampai memerlukan cuci darah sementara.

Kerusakan Retina

Perdarahan dan pembengkakan di retina dapat mengganggu penglihatan. Sebagian dapat membaik setelah tekanan darah terkendali.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Minum obat penurun tekanan darah setiap hari sesuai resep, juga saat merasa sehat.
  • Jangan menghentikan atau mengurangi obat sendiri; bicarakan dengan dokter bila ada efek samping.
  • Ukur tekanan darah di rumah secara teratur dan bawa catatannya saat kontrol.
  • Tanyakan ke dokter atau apoteker sebelum memakai obat flu, obat nyeri, atau suplemen.
  • Kurangi garam, batasi alkohol, dan hindari zat stimulan.
  • Datang kontrol sesuai jadwal, terutama setelah obat diganti atau ditambah.

Kapan Harus ke Dokter?

Bila tensi di rumah sangat tinggi, duduk tenang selama lima menit lalu ukur ulang. Bila hasilnya tetap 180/110 mmHg atau lebih tanpa keluhan, hubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan pada hari yang sama, dan jangan menambah obat sendiri. Segera ke IGD bila tekanan darah tinggi disertai salah satu tanda berikut:

  • Nyeri dada atau sesak napas
  • Wajah mencong, bicara pelo, atau lemah di separuh badan
  • Sakit kepala sangat berat disertai muntah atau kebingungan
  • Penglihatan mendadak kabur atau hilang
  • Nyeri hebat di dada atau punggung seperti robek
  • Kejang atau penurunan kesadaran

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang krisis hipertensi.

Berapa angka tekanan darah yang disebut krisis hipertensi?

Pedoman Eropa umumnya memakai batas sistolik 180 mmHg atau lebih, atau diastolik 110 mmHg atau lebih, sedangkan pedoman Amerika memakai 180/120 mmHg. Namun angka saja tidak cukup. Yang lebih menentukan adalah ada tidaknya kerusakan organ yang baru. Pada kehamilan, tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih sudah memerlukan penanganan segera.

Apa yang sebaiknya saya lakukan bila tensi di rumah sangat tinggi tetapi saya merasa baik-baik saja?

Duduk tenang selama lima menit, lalu ukur ulang dua kali dengan alat lengan atas. Bila hasilnya tetap 180/110 mmHg atau lebih tanpa keluhan, hubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan pada hari yang sama untuk dinilai. Bila muncul nyeri dada, sesak, lemah separuh badan, sulit bicara, atau gangguan penglihatan, segera ke IGD.

Mengapa tekanan darah tidak langsung diturunkan sampai normal?

Pada orang dengan hipertensi lama, otak, jantung, dan ginjal sudah terbiasa dengan tekanan tinggi. Penurunan yang terlalu cepat dapat mengurangi aliran darah ke organ tersebut dan justru memicu stroke atau gangguan ginjal. Karena itu dokter umumnya menurunkannya bertahap, kecuali pada keadaan tertentu seperti robekan aorta yang perlu diturunkan lebih cepat.

Bolehkah saya minum obat tambahan sendiri saat tensi melonjak?

Sebaiknya tidak, kecuali dokter sudah memberi rencana tertulis untuk keadaan tersebut. Menambah obat sendiri, terutama obat yang bekerja cepat, dapat menurunkan tekanan darah terlalu drastis. Lebih aman mengukur ulang, menghubungi dokter, dan ke IGD bila ada tanda bahaya. Bawa daftar obat Anda, termasuk obat bebas dan suplemen, saat diperiksa.

Apakah saya perlu dirawat inap?

Tergantung hasil pemeriksaan. Bila ditemukan kerusakan organ akut, Anda perlu dirawat, sering di ruang intensif, agar obat infus dan pemantauan dapat dilakukan dengan ketat. Bila tidak ada kerusakan organ akut, sebagian besar pasien dapat pulang setelah tekanan darah mulai turun dan pengobatan disesuaikan, dengan jadwal kontrol yang jelas dalam beberapa hari.

Apakah krisis hipertensi bisa terulang?

Bisa, terutama bila pemicunya belum diatasi, misalnya obat yang sering terlupa, hipertensi sekunder yang belum ditemukan, atau pemakaian obat bebas tertentu. Setelah krisis, dokter biasanya mencari penyebab, menyesuaikan obat, dan meminta Anda memantau tekanan darah di rumah. Kontrol dalam beberapa hari sampai minggu pertama membantu memastikan tekanan darah tetap terkendali.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Siska S. Danny, Sp.JP(K).

  1. McEvoy JW, McCarthy CP, Bruno RM, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. Eur Heart J. 2024;45(38):3912-4018.
  2. Mancia G, Kreutz R, Brunström M, et al. 2023 ESH Guidelines for the management of arterial hypertension The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Hypertension: Endorsed by the International Society of Hypertension (ISH) and the European Renal Association (ERA). J Hypertens. 2023;41(12):1874-2071.
  3. van den Born BJH, Lip GYH, Brguljan-Hitij J, et al. ESC Council on hypertension position document on the management of hypertensive emergencies. Eur Heart J Cardiovasc Pharmacother. 2019;5(1):37-46.
  4. Peixoto AJ. Acute Severe Hypertension. N Engl J Med. 2019;381(19):1843-52.
  5. Bress AP, Anderson TS, Flack JM, et al. The Management of Elevated Blood Pressure in the Acute Care Setting: A Scientific Statement From the American Heart Association. Hypertension. 2024;81(8):e94-e106.
  6. Kulkarni S, Glover M, Kapil V, et al. Management of hypertensive crisis: British and Irish Hypertension Society Position document. J Hum Hypertens. 2023;37(10):863-79.

Utamakan Pertolongan Segera.

Jangan menunggu konsultasi terjadwal bila sedang mengalami tanda kegawatan. Segera ke IGD terdekat.

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi