Langsung ke konten

Gagal Jantung & Kardiomiopati

Kor Pulmonale

Cor Pulmonale / Pulmonary Heart Disease

Ditinjau secara medis olehdr. Santi R. Dewayanti, Sp.P, Spesialis Paru
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis cor pulmonale dengan paru-paru yang mengalami kerusakan, ventrikel kanan membesar dan berdinding tebal, serta inset pembuluh darah kecil paru yang menyempit dan pergelangan kaki yang membengkak akibat penumpukan cairan.
Ilustrasi Kor Pulmonale

Jawaban singkat

Apa Itu Kor Pulmonale?

Kor pulmonale adalah pembesaran dan melemahnya bilik kanan jantung akibat penyakit paru atau pembuluh darah paru, seperti PPOK, sleep apnea berat, atau bekuan di paru. Tekanan tinggi di arteri paru membuat jantung kanan bekerja terlalu keras.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Sesak napas berat saat istirahat atau tidak dapat berbaring
  • Bibir dan ujung jari makin biru
  • Pingsan atau hampir pingsan, terutama saat aktivitas
  • Nyeri dada disertai sesak yang muncul mendadak
  • Bingung, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan
  • Batuk darah
  • Bengkak yang bertambah cepat dalam beberapa hari

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Kor pulmonale menandakan penyakit paru atau pembuluh paru yang sudah membebani jantung, sehingga perlu ditangani untuk mencegah gagal jantung kanan yang memburuk. Sesak berat saat istirahat, bibir makin biru, pingsan, atau bengkak yang cepat bertambah perlu segera diperiksa di IGD.

Mengenal Kor Pulmonale

Kor pulmonale adalah perubahan ukuran dan kerja bilik kanan jantung akibat penyakit pada paru, saluran napas, dinding dada, pengaturan napas, atau pembuluh darah paru. Bilik kanan bertugas memompa darah ke paru untuk mengambil oksigen. Bila tekanan di arteri paru meningkat, bilik kanan harus memompa lebih keras. Lama-kelamaan dindingnya menebal, ruangnya melebar, dan kekuatannya menurun. Gangguan jantung kanan akibat penyakit jantung kiri atau kelainan jantung bawaan tidak termasuk kor pulmonale.

Mengapa Penyakit Paru Membebani Jantung

Kadar oksigen yang rendah dalam waktu lama membuat arteri kecil di paru menyempit. Pada penyakit paru kronis, sebagian jaringan paru dan pembuluhnya juga rusak. Keduanya menaikkan tekanan di arteri paru, keadaan yang dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal. Penyebab yang umum adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), yang dibahas di halaman Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Penyebab lain adalah fibrosis paru, bekas TB paru yang luas, sleep apnea berat dan hipoventilasi akibat obesitas, kelainan bentuk tulang belakang atau dinding dada, kelemahan otot napas, serta bekuan menahun di arteri paru, yang dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.

Bentuk Akut dan Kronis

Kor pulmonale umumnya berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Bentuk akut terjadi bila tekanan di arteri paru naik mendadak, terutama pada emboli paru yang besar, yang dibahas di halaman Emboli Paru. Bentuk akut membutuhkan pertolongan darurat.

Gejala Sering Tersamar

Pada awalnya, keluhan kor pulmonale mirip keluhan penyakit parunya: sesak saat aktivitas, batuk, dan mudah lelah. Tanda bahwa jantung kanan mulai lemah adalah bengkak di kedua tungkai, perut terasa penuh atau membesar, berat badan naik cepat karena cairan, dan pembuluh di leher tampak menonjol. Keluhan sering memburuk saat penyakit paru kambuh, misalnya karena infeksi saluran napas.

Penanganan Berfokus pada Paru

Kunci penanganan adalah mengobati penyakit paru yang mendasari dan memperbaiki kadar oksigen. Pada penyandang PPOK yang kadar oksigennya rendah saat istirahat, terapi oksigen jangka panjang di rumah terbukti memperpanjang harapan hidup. Obat peluruh cairan membantu mengurangi bengkak, dan alat bantu napas saat tidur menolong penyandang sleep apnea. Penanganan dilakukan bersama oleh dokter paru dan dokter jantung, sesuai pedoman ESC/ERS 2022 untuk hipertensi pulmonal dan GOLD 2023 untuk PPOK.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Keluhan berkembang perlahan dan sering tertutup keluhan penyakit paru yang mendasarinya.

  • Sesak napas saat aktivitas yang makin lama makin berat
  • Mudah lelah dan lemas
  • Bengkak di kedua pergelangan kaki atau tungkai
  • Perut terasa penuh, kembung, atau membesar
  • Rasa tidak nyaman di perut kanan atas
  • Berat badan naik cepat karena penumpukan cairan
  • Pembuluh di leher tampak menonjol
  • Bibir atau ujung jari kebiruan
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), terutama akibat merokok
  • Penyakit paru interstisial atau fibrosis paru
  • Bekas TB paru yang luas atau bronkiektasis
  • Sleep apnea obstruktif berat dan hipoventilasi akibat obesitas
  • Kelainan bentuk tulang belakang atau dinding dada, serta kelemahan otot napas
  • Bekuan darah menahun di arteri paru, atau emboli paru besar yang terjadi mendadak
  • Tinggal lama di dataran tinggi dengan kadar oksigen udara yang rendah

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Merokok adalah penyebab utama PPOK. Obesitas berat meningkatkan risiko sleep apnea dan hipoventilasi, sedangkan asap kayu bakar dan debu kerja ikut merusak paru.

Medis

PPOK, penyakit paru interstisial, bekas TB paru, sleep apnea, riwayat emboli paru, dan penyakit autoimun yang mengenai paru.

Usia

Lebih sering ditemukan pada usia paruh baya dan lanjut, seiring makin lamanya penyakit paru kronis berlangsung.

Lainnya

Infeksi saluran napas berulang, tidak memakai oksigen sesuai anjuran, dan tinggal lama di dataran tinggi dapat mempercepat beban pada jantung kanan.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Penyandang PPOK: Terutama yang kadar oksigennya rendah, sering kambuh, atau masih merokok, sehingga tanda jantung kanan perlu dipantau.
  • Penyandang Sleep Apnea Berat: Henti napas berulang saat tidur menurunkan oksigen setiap malam dan menaikkan tekanan di arteri paru.
  • Penyandang Penyakit Paru Interstisial: Jaringan paru yang mengeras mengganggu pertukaran oksigen dan merusak pembuluh darah kecil di paru.
  • Penyintas TB Paru dengan Kerusakan Luas: Jaringan paru yang rusak dan menyusut menurunkan kadar oksigen dan mengurangi jumlah pembuluh darah paru.
  • Penyandang Obesitas Berat: Lemak di dada dan perut membatasi gerak napas, sehingga oksigen turun dan karbon dioksida naik, terutama saat tidur.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dokter menanyakan riwayat penyakit paru, kebiasaan merokok, dengkuran dan henti napas saat tidur, serta riwayat bekuan darah. Pemeriksaan fisik mencari tanda jantung kanan yang terbebani, seperti pembuluh leher menonjol, hati membesar, dan bengkak tungkai. Kadar oksigen diukur dengan alat di jari dan, bila perlu, lewat analisis gas darah.

Ekokardiografi menjadi pemeriksaan utama untuk menilai ukuran dan kekuatan bilik kanan serta memperkirakan tekanan arteri paru, walaupun gambarnya kadang kurang jelas pada penyakit paru berat. EKG dan rontgen dada membantu melihat tanda beban jantung kanan dan penyakit parunya, sedangkan tes NT-proBNP menilai beratnya beban jantung. Tes fungsi paru dan CT dada menilai penyakit paru yang mendasari. Pemindaian ventilasi-perfusi dipakai untuk mencari bekuan menahun di paru. Kateterisasi jantung kanan, yang mengukur tekanan arteri paru secara langsung, dilakukan bila hasilnya akan mengubah penanganan.

  1. Ekokardiografi

    Menilai ukuran dan kekuatan bilik kanan serta memperkirakan tekanan arteri paru.

  2. Elektrokardiogram / EKG

    Mencari tanda bilik dan serambi kanan yang membesar serta gangguan irama jantung.

  3. Rontgen Dada

    Melihat penyakit paru yang mendasari, pelebaran arteri paru, dan bayangan jantung kanan.

  4. Tes NT-proBNP / BNP

    Menilai beratnya beban jantung dan memantau respons terhadap pengobatan.

  5. Tes Fungsi Paru / Spirometri

    Mengukur fungsi paru untuk memastikan dan menilai beratnya PPOK atau penyakit paru lain.

  6. Pemindaian Ventilasi-Perfusi

    Mencari bekuan darah menahun di arteri paru sebagai penyebab yang dapat diobati.

  7. Kateterisasi Jantung Kanan

    Mengukur tekanan arteri paru dan kerja jantung kanan secara langsung, bila hasilnya akan mengubah penanganan.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pengobatan Penyakit Paru Dasar

Misalnya obat hirup pelega dan pengendali napas untuk PPOK, serta penanganan cepat saat kambuh. Dokter menentukan jenis obatnya.

Terapi Oksigen Jangka Panjang

Oksigen di rumah bagi orang yang kadar oksigennya rendah saat istirahat, dengan lama pemakaian harian sesuai anjuran dokter.

Bantuan Napas saat Tidur

Alat CPAP untuk sleep apnea, atau alat bantu napas lewat masker (NIV) bila kadar karbon dioksida dalam darah tinggi.

Obat Peluruh Cairan

Diuretik untuk mengurangi bengkak dan cairan di perut, dengan pemantauan fungsi ginjal dan elektrolit secara berkala.

Antikoagulan pada Bekuan di Paru

Obat pengencer darah jangka panjang bila penyebabnya emboli paru atau bekuan menahun di arteri paru.

Rehabilitasi Paru dan Vaksinasi

Latihan pernapasan dan fisik yang diawasi, serta vaksin influenza dan pneumokokus untuk mengurangi kekambuhan penyakit paru.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Gagal Jantung Kanan

Bilik kanan makin lemah sehingga cairan menumpuk di tungkai, perut, dan hati. Gagal jantung secara umum dibahas di halaman Gagal Jantung.

Gangguan Irama Jantung

Serambi kanan yang membesar memudahkan fibrilasi atau flutter atrium, yang dapat memperberat sesak dan lemas.

Bendungan Hati

Darah yang terbendung membuat hati membesar dan terasa nyeri, dan dalam jangka lama dapat mengganggu fungsi hati.

Gagal Napas

Saat penyakit paru kambuh, kadar oksigen dapat sangat rendah atau karbon dioksida sangat tinggi, sehingga perlu alat bantu napas.

Penurunan Kemampuan Aktivitas

Sesak dan mudah lelah membatasi berjalan, bekerja, dan kegiatan sehari-hari, sehingga kemandirian berkurang.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok, asap kayu bakar, serta debu di tempat kerja
  • Pakai oksigen di rumah sesuai lama pemakaian yang dianjurkan dokter
  • Gunakan obat hirup secara teratur dengan teknik yang benar
  • Tanyakan vaksin influenza dan pneumokokus kepada dokter
  • Periksakan dengkuran keras yang disertai henti napas saat tidur
  • Timbang berat badan setiap hari dan laporkan kenaikan cepat atau bengkak
  • Batasi garam dan ikuti anjuran jumlah minum dari dokter

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri ke dokter bila Anda menyandang penyakit paru kronis dan sesak terasa makin mudah muncul, kemampuan berjalan menurun, atau muncul bengkak di tungkai. Keluhan jantung kanan sering tertutup keluhan paru, sehingga perubahan kecil pun layak dilaporkan. Segera ke IGD bila sesak berat saat istirahat, bibir makin biru, atau Anda pingsan.

  • Bengkak di kedua pergelangan kaki atau tungkai
  • Perut terasa penuh atau membesar
  • Berat badan naik lebih dari 2 kg dalam 3 hari
  • Kebutuhan oksigen di rumah bertambah dari biasanya
  • Dengkuran keras dengan henti napas saat tidur dan sering mengantuk di siang hari

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang kor pulmonale.

Apa bedanya kor pulmonale dengan hipertensi pulmonal?

Hipertensi pulmonal adalah tekanan tinggi di arteri paru, yang dapat disebabkan berbagai hal, termasuk penyakit jantung kiri. Kor pulmonale adalah perubahan pada bilik kanan jantung yang terjadi karena tekanan tinggi tersebut bersumber dari penyakit paru, gangguan napas, atau bekuan di paru. Jadi, hipertensi pulmonal menjelaskan tekanannya, sedangkan kor pulmonale menjelaskan dampaknya pada jantung kanan.

Apakah kor pulmonale sama dengan gagal jantung?

Kor pulmonale yang sudah lanjut merupakan salah satu bentuk gagal jantung kanan. Namun, penyebab dan penanganannya berbeda dari gagal jantung yang umum, yang bersumber dari bilik kiri. Beberapa obat yang bermanfaat untuk gagal jantung bilik kiri belum terbukti menolong kor pulmonale. Karena itu, penanganannya berfokus pada penyakit paru, kadar oksigen, dan pengaturan cairan.

Apakah kor pulmonale bisa sembuh?

Bergantung pada penyebabnya. Kor pulmonale akut akibat emboli paru dapat pulih bila bekuan tertangani. Pada bentuk kronis, kerusakan paru umumnya menetap, tetapi kerja jantung kanan dapat membaik bila kadar oksigen diperbaiki, penyakit paru dikendalikan, dan sleep apnea diobati. Pengobatan teratur dan kontrol berkala membantu memperlambat perburukan dan mengurangi rawat inap.

Apakah memakai oksigen di rumah membuat ketergantungan?

Tidak. Oksigen diberikan karena tubuh memang kekurangan oksigen, bukan karena kebiasaan. Pada penyandang PPOK yang kadar oksigennya rendah saat istirahat, pemakaian oksigen jangka panjang terbukti memperpanjang harapan hidup dan mengurangi beban jantung kanan. Lama pemakaian dan jumlah aliran oksigen ditentukan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan, dan dapat disesuaikan saat kontrol.

Apakah penyandang kor pulmonale boleh berolahraga?

Boleh, dengan intensitas yang disesuaikan. Latihan bertahap, terutama dalam program rehabilitasi paru yang diawasi, membantu memperbaiki daya tahan dan mengurangi sesak dalam kegiatan sehari-hari. Hindari aktivitas berat yang membuat Anda sangat sesak, pusing, atau nyeri dada. Tanyakan kepada dokter jenis latihan yang aman dan apakah oksigen perlu dipakai saat berlatih.

Mengapa dokter menanyakan dengkuran saya?

Dengkuran keras yang disertai henti napas saat tidur dapat menandakan sleep apnea obstruktif. Pada keadaan ini, kadar oksigen turun berulang kali setiap malam dan dapat menaikkan tekanan di arteri paru. Sleep apnea dapat diobati, misalnya dengan alat CPAP, sehingga beban jantung kanan berkurang. Penanganannya dibahas di halaman Sleep Apnea Obstruktif.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Santi R. Dewayanti, Sp.P.

  1. Humbert M, Kovacs G, Hoeper MM, Badagliacca R, Berger RMF, Brida M, et al. 2022 ESC/ERS Guidelines for the diagnosis and treatment of pulmonary hypertension. Eur Heart J. 2022;43(38):3618-3731.
  2. Shlobin OA, Adir Y, Barbera JA, Cottin V, Harari S, Jutant EM, et al. Pulmonary hypertension associated with lung diseases. Eur Respir J. 2024;64(4):2401200.
  3. Agustí A, Celli BR, Criner GJ, Halpin D, Anzueto A, Barnes P, et al. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease 2023 Report: GOLD Executive Summary. Eur Respir J. 2023;61(4):2300239.
  4. Konstam MA, Kiernan MS, Bernstein D, Bozkurt B, Jacob M, Kapur NK, et al. Evaluation and Management of Right-Sided Heart Failure: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2018;137(20):e578-e622.
  5. Harjola VP, Mebazaa A, Čelutkienė J, Bettex D, Bueno H, Chioncel O, et al. Contemporary management of acute right ventricular failure: a statement from the Heart Failure Association and the Working Group on Pulmonary Circulation and Right Ventricular Function of the European Society of Cardiology. Eur J Heart Fail. 2016;18(3):226-241.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Kor Pulmonale

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi