Langsung ke konten

Penyakit Jantung Koroner & Iskemik

Penyakit Jantung Koroner

Coronary Artery Disease / Coronary Heart Disease

Ditinjau secara medis olehDr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis penyakit jantung koroner dengan tampak depan jantung, arteri koroner utama yang menyempit akibat plak lemak, area otot jantung yang aliran darahnya berkurang, inset perbandingan arteri normal dan arteri menyempit, serta figur orang berjalan cepat di taman.
Ilustrasi Penyakit Jantung Koroner

Jawaban singkat

Apa Itu Penyakit Jantung Koroner?

Penyakit jantung koroner terjadi saat arteri koroner, pembuluh darah otot jantung, menyempit atau terganggu fungsinya, umumnya karena plak lemak. Akibatnya dapat berupa angina, serangan jantung, atau gagal jantung, yang risikonya dapat ditekan dengan penanganan jangka panjang.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri dada lebih dari 5 menit atau tidak reda dengan istirahat
  • Nyeri dada baru, makin sering, makin berat, atau muncul saat istirahat
  • Nyeri dada disertai keringat dingin, mual, atau sesak napas
  • Sesak napas berat yang muncul tiba-tiba
  • Pingsan, atau denyut jantung sangat tidak teratur disertai lemas

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Penyakit jantung koroner berkembang perlahan, tetapi plak dapat retak sewaktu-waktu dan memicu serangan jantung. Pengobatan dan kontrol teratur menurunkan risiko itu. Nyeri dada yang baru, makin berat, atau muncul saat istirahat perlu segera diperiksa di IGD.

Mengenal Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan pada arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang melingkari permukaan jantung dan memasok oksigen ke otot jantung. Pada sebagian besar orang, gangguan ini berupa penumpukan plak di dinding arteri yang terbentuk perlahan selama bertahun-tahun. PJK termasuk penyebab utama kematian di dunia, termasuk di Indonesia, tetapi banyak pemicunya dapat dikendalikan.

Bagaimana Plak Terbentuk

Kolesterol LDL yang tinggi, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan zat dari asap rokok melukai lapisan dalam arteri. Lemak dan sel radang lalu menumpuk dan membentuk plak, proses yang disebut aterosklerosis. Plak yang membesar menyempitkan arteri sehingga aliran darah tidak mencukupi saat jantung bekerja lebih keras. Plak juga dapat retak tanpa tanda sebelumnya, lalu tertutup bekuan darah yang menyumbat arteri secara mendadak.

Wujud Penyakit Jantung Koroner

Pedoman ESC 2024 membedakan sindrom koroner kronis dan sindrom koroner akut. Pada sindrom koroner kronis, keluhan stabil atau bahkan tidak ada. Bentuknya antara lain nyeri dada saat beraktivitas, yang dibahas di halaman Angina Pektoris, dan kekurangan aliran darah yang tidak terasa, yang dibahas di halaman Iskemia Miokard tanpa Gejala. Sindrom koroner akut terjadi saat aliran darah berkurang mendadak, misalnya pada angina tidak stabil dan serangan jantung, yang dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.

Pedoman yang sama menegaskan bahwa masalahnya tidak selalu berupa penyempitan arteri besar. Pembuluh darah sangat kecil di otot jantung dapat gagal melebar, dan arteri koroner dapat kejang sesaat. Keduanya dapat menimbulkan keluhan meskipun hasil kateterisasi tampak normal.

Penyakit Jangka Panjang yang Dapat Dikendalikan

Plak tidak hilang dengan sendirinya, sehingga PJK perlu dikelola seumur hidup, seperti hipertensi atau diabetes. Berhenti merokok, aktif bergerak, pola makan sehat, serta obat penurun kolesterol, antiplatelet, dan pengendali tekanan darah dan gula darah terbukti menurunkan risiko serangan jantung. Pemasangan stent atau operasi bypass dipilih bila keluhan tetap mengganggu atau penyempitannya berisiko tinggi. Dengan penanganan teratur, banyak penderita PJK tetap bekerja, berolahraga, dan menjalani hidup aktif.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Nyeri, rasa berat, atau tertekan di dada saat beraktivitas atau emosi, yang reda dengan istirahat
  • Nyeri menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung
  • Sesak napas saat melakukan aktivitas yang dulu terasa ringan
  • Cepat lelah atau kemampuan berjalan dan naik tangga menurun
  • Rasa tidak nyaman di ulu hati yang muncul saat beraktivitas
  • Pada sebagian orang tidak ada keluhan dan baru ditemukan saat pemeriksaan

Gejala pada Perempuan Dewasa

Nyeri dada tetap keluhan utama, tetapi perempuan lebih sering merasakan keluhan penyerta berikut.

  • Sesak napas atau lelah yang tidak biasa
  • Mual atau rasa tidak nyaman di ulu hati
  • Nyeri di punggung atas, leher, atau rahang
  • Nyeri dada yang lebih sering dipicu stres emosional
  • Nyeri dada saat istirahat atau tidur akibat gangguan pembuluh kecil atau kejang arteri

Gejala pada Lansia

Pada usia lanjut, juga pada penyandang diabetes, keluhan sering samar dan mudah dianggap tanda penuaan.

  • Sesak napas saat aktivitas ringan
  • Lemas atau cepat lelah tanpa sebab jelas
  • Pusing atau terasa hendak pingsan saat beraktivitas
  • Rasa tidak nyaman samar di dada atau ulu hati
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Penumpukan plak lemak di dinding arteri koroner, yang dibahas di halaman Aterosklerosis.
  • Plak yang retak lalu tertutup bekuan darah, sehingga aliran berkurang mendadak
  • Gangguan pembuluh darah sangat kecil di otot jantung yang tidak dapat melebar sesuai kebutuhan
  • Kejang (spasme) arteri koroner yang menyempitkan pembuluh untuk sementara
  • Robekan spontan dinding arteri koroner, yang jarang terjadi dan dibahas di halaman Diseksi Arteri Koroner Spontan.
  • Kelainan bawaan arteri koroner atau bekas peradangan pembuluh darah, misalnya setelah penyakit Kawasaki

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Merokok, termasuk sering terpapar asap rokok orang lain, jarang bergerak, pola makan tinggi lemak jenuh, garam, dan gula, serta berat badan berlebih, terutama lemak di perut.

Medis

Kolesterol LDL tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit ginjal kronis. Risiko makin besar bila beberapa faktor ini ada bersamaan dan tidak terkendali.

Genetik

PJK dini dalam keluarga inti, yaitu pada ayah atau saudara laki-laki sebelum usia 55 tahun atau ibu atau saudara perempuan sebelum usia 65 tahun, serta kolesterol tinggi turunan (hiperkolesterolemia familial).

Usia

Risiko meningkat seiring usia, terutama pada laki-laki di atas 45 tahun dan pada perempuan setelah menopause.

Lainnya

Stres dan depresi berkepanjangan, kurang tidur, henti napas saat tidur (sleep apnea), polusi udara, penyakit autoimun seperti lupus, serta riwayat preeklamsia atau diabetes saat hamil.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Penyandang Diabetes: Diabetes mempercepat aterosklerosis dan dapat menumpulkan rasa nyeri, sehingga PJK kadang hanya terasa sebagai sesak atau lelah.
  • Perokok Aktif dan Pasif: Zat dalam asap rokok merusak lapisan dalam arteri, mempercepat pembentukan plak, dan membuat darah lebih mudah membeku.
  • Penyandang Hipertensi dan Kolesterol Tinggi: Tekanan darah dan kolesterol LDL yang tinggi bertahun-tahun merusak dinding arteri koroner dan mempercepat penyempitannya.
  • Keluarga Penderita PJK Dini: Orang tua atau saudara kandung yang terkena PJK di usia muda menandakan kerentanan keluarga, termasuk kolesterol tinggi turunan.
  • Perempuan Pascamenopause: Setelah menopause risiko PJK meningkat, dan gangguan pembuluh darah kecil jantung lebih sering ditemukan pada perempuan.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dokter memulai dengan menanyakan keluhan, riwayat kesehatan, dan faktor risiko Anda, lalu memeriksa tekanan darah, jantung, dan paru. EKG, tes darah, dan ekokardiografi dilakukan untuk menilai kondisi dasar jantung dan memastikan tidak ada serangan jantung yang sedang berlangsung.

Pedoman ESC 2024 menganjurkan pemeriksaan lanjutan dipilih menurut perkiraan kemungkinan PJK, yang dihitung dari usia, jenis kelamin, jenis keluhan, dan jumlah faktor risiko. Bila kemungkinannya rendah sampai sedang, CT angiografi koroner dapat menunjukkan ada tidaknya plak dan penyempitan. Bila kemungkinannya lebih tinggi, uji pembebanan dengan pencitraan, seperti ekokardiografi stres, pencitraan perfusi miokard, atau MRI jantung, menunjukkan apakah otot jantung kekurangan darah dan seberapa luas.

Angiografi koroner dengan kateter dilakukan bila kemungkinan PJK sangat tinggi, hasil pemeriksaan menunjukkan risiko tinggi, atau keluhan tetap berat meskipun sudah diobati. Saat angiografi, dokter dapat mengukur aliran darah di dalam arteri untuk memastikan apakah sebuah penyempitan perlu dibuka.

  1. Elektrokardiogram / EKG

    Merekam listrik jantung untuk mencari tanda kekurangan aliran darah, bekas serangan jantung, atau gangguan irama. Hasil normal belum menyingkirkan PJK.

  2. Pemeriksaan Laboratorium

    Profil lemak darah, gula darah atau HbA1c, fungsi ginjal, dan hemoglobin untuk menilai faktor risiko dan penyebab lain keluhan.

  3. Ekokardiografi

    USG jantung untuk menilai kekuatan pompa dan gerak dinding jantung, yang membantu menentukan risiko dan pemeriksaan berikutnya.

  4. Angiografi Koroner CT

    Melihat plak dan penyempitan arteri koroner tanpa kateter. Dianjurkan pedoman ESC 2024 bila kemungkinan PJK rendah sampai sedang.

  5. Ekokardiografi Stres

    Menilai gerak dinding jantung saat dibebani latihan atau obat untuk mengetahui bagian otot jantung yang kekurangan darah.

  6. Pencitraan Perfusi Miokard

    Pencitraan dengan zat penanda untuk menilai luas dan letak otot jantung yang kekurangan aliran darah saat dibebani.

  7. Angiografi Koroner

    Memotret arteri koroner dengan kateter dan zat kontras, dapat disertai pengukuran aliran (FFR) untuk memastikan perlu tidaknya pembukaan arteri.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Perubahan Gaya Hidup

Berhenti merokok, aktif bergerak, pola makan sehat jantung, tidur cukup, dan menjaga berat badan menjadi dasar semua penanganan PJK.

Obat Pencegah Serangan Jantung

Antiplatelet seperti aspirin mencegah bekuan, dan statin menurunkan kolesterol LDL serta menstabilkan plak. Bila target LDL belum tercapai, dokter dapat menambah ezetimib atau penghambat PCSK9.

Obat Pereda Angina

Penghambat beta, penghambat kanal kalsium, dan nitrat meredakan atau mencegah angina. Obat lain dapat ditambahkan bila keluhan belum terkendali; jenis dan dosisnya ditentukan dokter.

Pengendalian Tekanan Darah dan Gula Darah

Tekanan darah dan gula darah dikendalikan sampai target yang ditentukan dokter. Pada diabetes, obat golongan SGLT2 atau GLP-1 tertentu juga melindungi jantung.

Pemasangan Stent lewat Kateter

Intervensi koroner perkutan membuka penyempitan dengan balon dan stent. Pada PJK stabil, tindakan ini terutama meredakan keluhan yang tidak terkendali dengan obat, dan dipilih menurut hasil pemeriksaan.

Operasi Bypass Koroner

Membuat jalan pintas dengan pembuluh dari dada, lengan, atau tungkai. Dipertimbangkan pada penyempitan di pangkal arteri koroner kiri atau di banyak arteri, terutama bila ada diabetes atau pompa jantung lemah.

Rehabilitasi Jantung

Latihan fisik yang diawasi, edukasi, dan dukungan psikologis untuk memulihkan kebugaran dan menurunkan risiko kejadian jantung berulang.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Serangan Jantung

Plak yang retak dapat memicu bekuan yang menyumbat arteri sehingga sebagian otot jantung rusak. Dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.

Gagal Jantung

Kekurangan aliran darah yang berulang atau bekas serangan jantung dapat melemahkan pompa jantung. Keadaan ini dibahas di halaman Kardiomiopati Iskemik.

Gangguan Irama Jantung

Otot jantung yang kekurangan darah atau berparut dapat memicu irama tidak teratur, dari yang ringan sampai yang perlu ditangani segera.

Henti Jantung Mendadak

Irama bilik yang kacau dapat menghentikan pompa jantung secara tiba-tiba. Pijat jantung dan AED dalam beberapa menit pertama sangat menentukan keselamatan.

Keterbatasan Aktivitas

Angina yang sering muncul membuat orang membatasi pekerjaan, olahraga, dan kegiatan sosial, serta dapat memicu rasa cemas atau depresi.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok orang lain.
  • Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, misalnya jalan cepat.
  • Pilih makanan kaya sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan, dan kacang; batasi garam, gula, dan lemak jenuh.
  • Jaga berat badan dan lingkar pinggang dalam batas sehat.
  • Periksa tekanan darah, kolesterol, dan gula darah secara berkala, lebih awal bila ada riwayat keluarga.
  • Bila sudah didiagnosis PJK, minum obat sesuai resep dan jangan menghentikannya tanpa berbicara dengan dokter.
  • Tanyakan kepada dokter tentang vaksin influenza tahunan, yang dianjurkan bagi penderita PJK.

Kapan Harus ke Dokter?

PJK sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal, sehingga pemeriksaan sebelum ada keluhan pun bermanfaat bagi orang yang berisiko. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 5 menit, tidak reda dengan istirahat, atau disertai keringat dingin dan sesak, segera ke IGD terdekat atau hubungi ambulans (119). Jangan menyetir sendiri.

Buat janji dengan dokter jantung bila:

  • Nyeri, rasa berat, atau sesak muncul saat beraktivitas dan hilang dengan istirahat.
  • Kemampuan berjalan atau naik tangga menurun tanpa sebab yang jelas.
  • Anda memiliki diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, atau riwayat PJK dini dalam keluarga dan belum pernah diperiksa.
  • Anda sudah didiagnosis PJK dan keluhan berubah, obat menimbulkan efek samping, atau sudah waktunya kontrol.

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang penyakit jantung koroner.

Apa bedanya penyakit jantung koroner, angina, dan serangan jantung?

Penyakit jantung koroner adalah penyakitnya, yaitu gangguan pada arteri koroner. Angina adalah gejala yang muncul saat otot jantung kekurangan darah untuk sementara, biasanya ketika beraktivitas. Serangan jantung terjadi bila arteri tersumbat cukup lama sehingga sebagian otot jantung rusak. Seseorang dengan PJK dapat mengalami angina bertahun-tahun, sedangkan orang lain langsung mengalami serangan jantung tanpa keluhan sebelumnya.

Apakah penyakit jantung koroner bisa sembuh?

Plak yang sudah terbentuk umumnya tidak hilang, sehingga PJK dikelola seumur hidup seperti hipertensi atau diabetes. Namun pertumbuhan plak dapat diperlambat dan plak menjadi lebih stabil dengan statin dan perubahan gaya hidup. Banyak penderita bebas keluhan dan terhindar dari serangan jantung bila obat diminum teratur, faktor risiko terkendali, dan kontrol dijalani sesuai jadwal.

Apakah setiap penyempitan arteri koroner harus dipasang stent?

Tidak selalu. Pada PJK yang stabil, studi ISCHEMIA (2020) menunjukkan bahwa tindakan pembukaan arteri sejak awal tidak menurunkan risiko serangan jantung atau kematian secara keseluruhan dibanding pengobatan yang dijalankan dengan baik, tetapi lebih meredakan angina. Karena itu stent dipilih menurut beratnya keluhan, luas iskemia, letak penyempitan, dan hasil pengukuran aliran. Pada serangan jantung, pembukaan arteri dilakukan secepatnya.

Apakah saya perlu CT angiografi koroner meskipun tidak ada keluhan?

Umumnya tidak sebagai pemeriksaan rutin. Pada orang tanpa keluhan, dokter biasanya mulai dengan menilai faktor risiko lewat tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan riwayat keluarga. Pada sebagian orang dengan risiko menengah, CT skor kalsium koroner dapat membantu memutuskan perlu tidaknya obat penurun kolesterol. CT angiografi koroner lebih berguna bila ada keluhan yang dicurigai berasal dari jantung.

Bolehkah penderita penyakit jantung koroner berolahraga?

Boleh, dan dianjurkan setelah dokter menilai kondisi Anda. Latihan aerobik teratur, misalnya jalan cepat sekitar 150 menit per minggu, memperbaiki kebugaran, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Program rehabilitasi jantung membantu menentukan takaran latihan yang aman. Hentikan latihan bila muncul nyeri dada, sesak berat, atau pusing, lalu sampaikan kepada dokter pada kontrol berikutnya.

Apakah penyakit jantung koroner diturunkan?

Riwayat keluarga menaikkan risiko, terutama bila ayah atau saudara laki-laki terkena sebelum usia 55 tahun, atau ibu atau saudara perempuan sebelum usia 65 tahun. Sebagian keluarga membawa kolesterol tinggi turunan yang perlu diperiksa sejak muda. Namun keturunan bukan takdir: mengendalikan kolesterol, tekanan darah, dan gula darah serta tidak merokok tetap menurunkan risiko Anda.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh Dr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP(K).

  1. Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-537.
  2. Virani SS, Newby LK, Arnold SV, Bittner V, Brewer LC, Demeter SH, et al. 2023 AHA/ACC/ACCP/ASPC/NLA/PCNA Guideline for the Management of Patients With Chronic Coronary Disease: A Report of the American Heart Association/American College of Cardiology Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2023;148(9):e9-119.
  3. Maron DJ, Hochman JS, Reynolds HR, Bangalore S, O'Brien SM, Boden WE, et al. Initial Invasive or Conservative Strategy for Stable Coronary Disease. N Engl J Med. 2020;382(15):1395-407.
  4. Lawton JS, Tamis-Holland JE, Bangalore S, Bates ER, Beckie TM, Bischoff JM, et al. 2021 ACC/AHA/SCAI Guideline for Coronary Artery Revascularization: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2022;145(3):e18-114.
  5. Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, Barbato E, Berry C, Chieffo A, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes. Eur Heart J. 2023;44(38):3720-826.
  6. Visseren FLJ, Mach F, Smulders YM, Carballo D, Koskinas KC, Back M, et al. 2021 ESC Guidelines on cardiovascular disease prevention in clinical practice. Eur Heart J. 2021;42(34):3227-337.
  7. Mach F, Baigent C, Catapano AL, Koskinas KC, Casula M, Badimon L, et al. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. Eur Heart J. 2020;41(1):111-88.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Penyakit Jantung Koroner

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi