Jawaban singkat
Apa Itu Perikarditis Konstriktif?
Perikarditis konstriktif adalah kondisi ketika selaput pembungkus jantung menebal, kaku, dan kadang mengapur, sehingga jantung tidak dapat mengembang penuh. Akibatnya timbul bengkak, perut membesar, dan sesak seperti gagal jantung.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak napas berat, termasuk saat istirahat atau berbaring
- Pingsan atau hampir pingsan
- Bengkak dan perut membesar dengan cepat
- Denyut jantung sangat cepat atau tidak teratur disertai lemas
- Kencing sangat sedikit
- Bingung, lemas berat, atau kulit dingin dan pucat
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Perikarditis Konstriktif
Normalnya perikardium lentur, sehingga jantung dapat mengembang bebas untuk menampung darah di antara dua denyutan. Pada perikarditis konstriktif, peradangan yang lama atau berulang mengubah perikardium menjadi jaringan parut yang tebal dan kaku, kadang mengandung kapur. Selaput ini membungkus jantung seperti cangkang. Otot jantung sendiri sering masih kuat, tetapi ruang jantung tidak dapat terisi penuh.
Karena pengisian terhambat, darah terbendung di pembuluh balik. Cairan menumpuk di tungkai, perut, hati, dan rongga di sekitar paru. Pembuluh vena di leher tampak menggembung dan kadang makin menonjol saat menarik napas. Keluhan biasanya muncul perlahan selama berbulan-bulan, sehingga sering dikira penyakit hati atau ginjal.
Penyebab di Indonesia dan Dunia
Di negara maju, penyebabnya antara lain perikarditis virus atau idiopatik, operasi jantung, dan terapi radiasi di dada. Di negara dengan banyak kasus tuberkulosis (TB), termasuk Indonesia, TB menjadi penyebab penting. Risiko konstriksi setelah perikarditis TB atau infeksi bakteri bernanah jauh lebih tinggi dibanding setelah perikarditis virus.
Tiga Bentuk Konstriksi
Dokter membedakan konstriksi sementara, konstriksi efusif, dan konstriksi kronis. Konstriksi sementara terjadi saat peradangan masih aktif dan dapat membaik dengan obat antiradang dalam dua sampai tiga bulan. Konstriksi efusif adalah gabungan cairan dan selaput kaku, sehingga tekanan di jantung tetap tinggi walaupun cairan sudah dikeluarkan; cairan di kantong jantung sendiri dibahas di halaman Efusi Perikardium. Konstriksi kronis adalah selaput yang sudah menjadi jaringan parut menetap; penanganan utamanya operasi pengangkatan perikardium atau perikardiektomi.
Mirip Kardiomiopati Restriktif
Gejala perikarditis konstriktif mirip dengan kondisi otot jantung yang kaku, yang dibahas di halaman Kardiomiopati Restriktif. Membedakan keduanya penting karena konstriksi dapat ditangani dengan operasi, sedangkan kardiomiopati restriktif tidak. Karena itu, dokter biasanya menggabungkan beberapa pemeriksaan sebelum memutuskan penanganan.
Sebagian besar pasien yang menjalani perikardiektomi merasakan keluhan berkurang. Hasilnya cenderung lebih baik bila operasi dilakukan sebelum jantung dan hati rusak akibat bendungan yang lama. Selama menunggu keputusan bersama tim jantung dan tim bedah, obat peluruh cairan membantu meredakan bengkak dan sesak.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Bengkak di tungkai dan pergelangan kaki
- Perut membesar karena cairan (asites) dan terasa begah
- Cepat lelah dan lemas
- Sesak napas saat beraktivitas
- Pembuluh vena di leher tampak menggembung
- Rasa penuh atau nyeri tumpul di perut kanan atas karena hati membengkak
- Nafsu makan turun dan otot tampak menyusut
- Jantung berdebar atau denyut tidak teratur
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Perikarditis akibat tuberkulosis (TB), penyebab penting di negara dengan banyak kasus TB
- Perikarditis virus atau idiopatik yang meninggalkan jaringan parut
- Riwayat operasi jantung
- Terapi radiasi di daerah dada, misalnya untuk kanker payudara, paru, atau limfoma
- Infeksi bakteri bernanah di selaput jantung (perikarditis purulen)
- Penyakit autoimun seperti lupus dan artritis reumatoid
- Gagal ginjal berat, kanker di perikardium, atau cedera dada
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Riwayat perikarditis, terutama yang disebabkan TB atau infeksi bakteri, riwayat operasi jantung, terapi radiasi di dada, penyakit autoimun, dan gagal ginjal.
Lainnya
Tinggal di daerah dengan banyak kasus TB, kontak erat dengan penderita TB, pengobatan TB yang tidak tuntas, dan HIV atau kondisi lain yang menurunkan daya tahan tubuh.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyintas Perikarditis TB: Risiko konstriksi setelah perikarditis TB jauh lebih tinggi dibanding perikarditis virus, sehingga perlu pemantauan setelah pengobatan.
- Pasien Pascaoperasi Jantung: Jaringan parut setelah operasi dapat membuat perikardium kaku, kadang bertahun-tahun kemudian.
- Penyintas Kanker dengan Radiasi Dada: Radiasi dapat merusak perikardium dan menimbulkan konstriksi bertahun-tahun setelah pengobatan, sering bersama kelainan katup dan otot jantung.
- Penyintas Perikarditis Purulen: Infeksi bakteri bernanah di selaput jantung meninggalkan risiko konstriksi yang tinggi walaupun infeksinya sudah sembuh.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter mencurigai perikarditis konstriktif bila ada tanda bendungan, seperti bengkak, perut membesar, dan vena leher menggembung, padahal kekuatan pompa jantung masih baik. Riwayat perikarditis, TB, operasi jantung, atau radiasi dada memperkuat kecurigaan.
Ekokardiografi biasanya menjadi pemeriksaan pertama untuk mencari tanda khas konstriksi. CT jantung menilai tebal dan pengapuran selaput, sedangkan MRI jantung juga dapat memperlihatkan peradangan aktif. Peradangan aktif penting diketahui karena konstriksi jenis ini dapat membaik dengan obat. Bila hasil pencitraan belum jelas, kateterisasi jantung mengukur tekanan di ruang jantung kanan dan kiri secara bersamaan. Pada kasus yang sulit dibedakan dari kardiomiopati restriktif, dokter kadang memerlukan biopsi otot jantung. Pemeriksaan penyebab, termasuk TB, dilakukan sesuai riwayat dan temuan.
Ekokardiografi
Mencari tanda khas, seperti sekat jantung yang bergerak memantul, perubahan aliran darah saat bernapas, dan vena besar yang melebar.
MRI Jantung
Mengukur tebal perikardium, melihat peradangan aktif yang mungkin masih membaik dengan obat, dan menilai saling pengaruh kedua bilik saat bernapas.
CT-Scan Jantung
Melihat penebalan dan pengapuran perikardium, berguna untuk memastikan diagnosis dan merencanakan operasi.
Rontgen Dada
Kadang memperlihatkan garis kapur di sekitar jantung dan cairan di rongga selaput paru.
Kateterisasi Jantung
Mengukur tekanan di ruang jantung kanan dan kiri untuk memastikan konstriksi dan membedakannya dari kardiomiopati restriktif bila pencitraan belum jelas.
Tes NT-proBNP / BNP
Kadarnya cenderung lebih rendah pada konstriksi dibanding kardiomiopati restriktif, sehingga ikut membantu membedakan keduanya.
Pemeriksaan C-Reactive Protein
CRP yang tinggi menunjukkan peradangan masih aktif, petunjuk bahwa konstriksi mungkin sementara dan dapat membaik dengan obat.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Antiradang untuk Konstriksi Sementara
Bila peradangan masih aktif, obat antiradang, kolkisin, atau kortikosteroid dapat membalikkan konstriksi dalam beberapa bulan, sehingga operasi tidak selalu diperlukan.
Pengobatan Tuberkulosis
Obat anti-TB diberikan bila penyebabnya TB, untuk mengatasi infeksi dan menurunkan risiko konstriksi menetap. Dokter dapat menambahkan obat lain sesuai kondisi.
Diuretik untuk Mengurangi Bendungan
Obat peluruh cairan membantu mengurangi bengkak dan sesak, tetapi hanya meredakan keluhan dan tidak menghilangkan selaput yang kaku.
Perikardiektomi
Operasi mengangkat sebagian besar perikardium yang kaku agar jantung dapat mengembang kembali. Ini penanganan utama konstriksi kronis dan dilakukan oleh tim bedah jantung.
Pemantauan Berkala
Pasien yang belum atau tidak dapat dioperasi dipantau dengan ekokardiografi dan pemeriksaan darah untuk menilai perkembangan bendungan dan fungsi organ.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung Kronis
Pengisian jantung yang terhambat menimbulkan bendungan cairan menetap, sesak, dan kelelahan yang cenderung memberat bila tidak ditangani.
Gangguan Fungsi Hati
Bendungan darah di hati yang lama dapat mengganggu fungsinya, menurunkan kadar albumin, dan memperberat bengkak serta asites.
Fibrilasi Atrium
Serambi yang melebar akibat tekanan tinggi memudahkan munculnya irama tidak teratur, yang dibahas di halaman Fibrilasi Atrium.
Kehilangan Protein lewat Usus
Bendungan di pembuluh usus dapat membuat protein bocor lewat saluran cerna, sehingga otot menyusut dan bengkak bertambah.
Kerusakan Otot Jantung Jangka Panjang
Konstriksi yang berlangsung bertahun-tahun dapat membuat otot jantung melemah, sehingga manfaat operasi berkurang bila penanganan terlambat.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Selesaikan pengobatan TB sampai tuntas sesuai jadwal dari dokter
- Obati perikarditis sampai tuntas dan jangan menghentikan obat sendiri
- Datang kontrol berkala bila Anda pernah mengalami perikarditis TB atau bernanah
- Bila pernah menjalani radiasi dada, sampaikan riwayat ini dan periksa jantung berkala sesuai anjuran
- Bila sudah terdiagnosis, batasi garam dan timbang berat badan setiap pagi
- Periksakan diri bila bengkak dan perut membesar tanpa sebab jelas
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Periksakan diri bila Anda mengalami bengkak di tungkai, perut membesar, cepat lelah, atau sesak yang makin berat dalam beberapa minggu sampai bulan, terutama bila pernah mengalami perikarditis, TB, operasi jantung, atau radiasi dada. Keluhan ini sering dikira penyakit hati atau ginjal, jadi sampaikan riwayat tersebut kepada dokter. Bila sudah terdiagnosis, kontrol rutin membantu menentukan waktu penanganan yang tepat.
Segera ke IGD bila:
- Sesak napas berat, termasuk saat istirahat atau berbaring
- Pingsan atau hampir pingsan
- Denyut jantung sangat cepat atau tidak teratur disertai lemas
- Bengkak dan perut membesar dengan cepat disertai kencing sangat sedikit
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang perikarditis konstriktif.
Apakah perikarditis konstriktif bisa sembuh tanpa operasi?
Sebagian bisa. Bila pemeriksaan menunjukkan peradangan masih aktif, misalnya CRP tinggi atau MRI memperlihatkan selaput yang meradang, konstriksi dapat bersifat sementara dan membaik dengan obat antiradang dalam beberapa bulan. Bila selaput sudah menjadi jaringan parut tebal atau mengapur, obat hanya meredakan keluhan, dan operasi pengangkatan perikardium menjadi pilihan utama untuk memulihkan pengisian jantung.
Seperti apa operasi perikardiektomi?
Perikardiektomi adalah operasi jantung untuk mengangkat sebagian besar perikardium yang kaku, biasanya lewat sayatan di tulang dada. Setelah selaput diangkat, jantung dapat kembali mengembang dan terisi darah. Banyak pasien merasakan bengkak dan sesak berkurang, walaupun pemulihan penuh dapat memerlukan beberapa minggu sampai bulan. Tim bedah akan menjelaskan risiko dan persiapan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Apa beda perikarditis konstriktif dan kardiomiopati restriktif?
Keduanya membuat jantung sulit terisi darah dan menimbulkan gejala serupa. Pada perikarditis konstriktif, masalahnya ada di selaput luar yang kaku, sedangkan otot jantung umumnya masih normal. Pada kardiomiopati restriktif, otot jantung sendiri yang kaku. Bedanya penting karena konstriksi dapat ditangani dengan operasi. Ekokardiografi, MRI, tes BNP, dan kateterisasi membantu membedakannya.
Mengapa TB dapat menyebabkan perikarditis konstriktif?
TB dapat menyebar ke perikardium dan menimbulkan peradangan yang lama serta cairan kental. Saat sembuh, peradangan ini sering meninggalkan jaringan parut tebal yang mengikat jantung. Risiko ini dapat dikurangi dengan menemukan dan mengobati perikarditis TB sedini mungkin serta menyelesaikan pengobatan anti-TB sesuai jadwal. Pemantauan setelah pengobatan membantu mengenali konstriksi lebih awal.
Apakah saya perlu membatasi garam dan cairan?
Pada konstriksi yang menimbulkan bengkak, membatasi garam membantu mengurangi penumpukan cairan, dan dokter biasanya memberikan obat peluruh cairan. Batas minum disesuaikan dengan kondisi masing-masing, jadi tanyakan batas yang tepat untuk Anda. Menimbang berat badan setiap pagi membantu mengenali penumpukan cairan lebih awal; kenaikan cepat dalam beberapa hari perlu dilaporkan ke dokter.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Sri Diniharini, Sp.JP(K).
- Schulz-Menger J, Collini V, Gröschel J, Adler Y, Brucato A, Christian V, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of myocarditis and pericarditis. Eur Heart J. 2025;46(40):3952-4041.
- Adler Y, Charron P, Imazio M, Badano L, Barón-Esquivias G, Bogaert J, et al. 2015 ESC Guidelines for the diagnosis and management of pericardial diseases: The Task Force for the Diagnosis and Management of Pericardial Diseases of the European Society of Cardiology (ESC). Eur Heart J. 2015;36(42):2921-2964.
- Welch TD. Constrictive pericarditis: diagnosis, management and clinical outcomes. Heart. 2018;104(9):725-731.
- Syed FF, Schaff HV, Oh JK. Constrictive pericarditis: a curable diastolic heart failure. Nat Rev Cardiol. 2014;11(9):530-544.
- Welch TD, Ling LH, Espinosa RE, Anavekar NS, Wiste HJ, Lahr BD, et al. Echocardiographic Diagnosis of Constrictive Pericarditis: Mayo Clinic Criteria. Circ Cardiovasc Imaging. 2014;7(3):526-534.
- Ling LH, Oh JK, Schaff HV, Danielson GK, Mahoney DW, Seward JB, et al. Constrictive Pericarditis in the Modern Era: Evolving Clinical Spectrum and Impact on Outcome After Pericardiectomy. Circulation. 1999;100(13):1380-1386.
- Haley JH, Tajik AJ, Danielson GK, Schaff HV, Mulvagh SL, Oh JK. Transient constrictive pericarditis: causes and natural history. J Am Coll Cardiol. 2004;43(2):271-275.




