Jawaban singkat
Apa Itu Gagal Jantung Fraksi Ejeksi Menurun?
Gagal jantung fraksi ejeksi menurun adalah gagal jantung dengan pompa bilik kiri yang melemah, sehingga hanya 40% atau kurang darah di bilik kiri yang terpompa keluar setiap denyut. Jenis ini memiliki pilihan obat dan alat yang terbukti memperpanjang harapan hidup.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak berat saat istirahat atau tidak bisa berbaring
- Dahak berbusa putih atau merah muda
- Pingsan atau hampir pingsan
- Denyut sangat cepat disertai pusing atau lemas berat
- Nyeri dada yang tidak hilang dengan istirahat
- Kulit dingin, pucat, dan bingung
- Kejutan ICD berulang, atau kejutan disertai rasa tidak enak badan
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Gagal Jantung Fraksi Ejeksi Menurun
Gagal jantung fraksi ejeksi menurun, dalam istilah internasional disebut HFrEF, adalah jenis gagal jantung yang terjadi karena otot bilik kiri melemah dan tidak mampu berkontraksi dengan kuat. Fraksi ejeksi adalah persentase darah di bilik kiri yang dipompa keluar setiap kali jantung berdenyut. Pada jantung sehat nilainya 50% atau lebih, sedangkan pada jenis ini 40% atau kurang.
Otot yang lemah biasanya diikuti pelebaran bilik kiri. Jantung yang melebar memompa makin tidak efisien, katup mitral dapat ikut bocor, dan tubuh menahan garam serta air. Proses perubahan bentuk ini disebut remodeling, dan sebagian besar obat gagal jantung bekerja dengan menghambatnya. Keluhan yang muncul sama dengan gagal jantung pada umumnya: sesak napas, mudah lelah, dan bengkak di tungkai. Beratnya keluhan tidak selalu sejalan dengan angka fraksi ejeksi, sehingga orang dengan keluhan ringan pun tetap memerlukan pengobatan lengkap.
Penyebab yang Umum
Penyebab utamanya adalah penyakit jantung koroner, terutama setelah serangan jantung, yang dibahas di halaman Kardiomiopati Iskemik. Penyebab lain adalah kardiomiopati dilatasi, termasuk yang diturunkan, hipertensi lama, penyakit katup, alkohol berlebihan, efek samping terapi kanker, miokarditis, dan denyut jantung yang terlalu cepat dalam waktu lama.
Empat Golongan Obat Utama
Pedoman ESC 2021 dan AHA/ACC/HFSA 2022 menganjurkan empat golongan obat untuk hampir semua penyandang jenis ini: penghambat ACE atau ARNI, penyekat beta, antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA), dan penghambat SGLT2. Masing-masing terbukti mengurangi rawat inap dan kematian, dan manfaatnya bertambah bila dipakai bersama. Dokter memulai dan menaikkan dosis secara bertahap sambil memantau tekanan darah, denyut, fungsi ginjal, dan kalium. Diuretik ditambahkan untuk meredakan sesak dan bengkak.
Fungsi Pompa Dapat Membaik
Pada sebagian pasien, fraksi ejeksi naik di atas 40% setelah pengobatan berjalan beberapa bulan. Keadaan ini disebut gagal jantung dengan fraksi ejeksi membaik. Meski membaik, obat umumnya tetap diteruskan, karena penelitian menunjukkan penghentian obat dapat membuat fungsi pompa kembali turun. Bila fraksi ejeksi tetap 35% atau kurang, dokter akan membahas alat seperti ICD, yang mencegah kematian mendadak akibat irama bilik berbahaya, atau terapi resinkronisasi, yang menyelaraskan kontraksi kedua bilik.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Sesak napas saat naik tangga atau berjalan cepat
- Sesak saat berbaring atau terbangun malam karena sesak
- Mudah lelah dan cepat capek saat beraktivitas
- Bengkak di pergelangan kaki dan tungkai
- Berat badan naik karena penumpukan cairan
- Jantung berdebar atau denyut tidak teratur
- Tangan dan kaki terasa dingin
- Nafsu makan turun dan perut cepat terasa penuh
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Penyakit jantung koroner dan bekas serangan jantung
- Kardiomiopati dilatasi, termasuk yang diturunkan dalam keluarga
- Hipertensi yang lama tidak terkendali
- Penyakit katup jantung, seperti kebocoran katup mitral atau penyempitan katup aorta
- Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang
- Efek samping kemoterapi tertentu atau radioterapi dada
- Peradangan otot jantung (miokarditis) atau kardiomiopati peripartum
- Denyut jantung yang terlalu cepat dalam waktu lama, misalnya fibrilasi atrium
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Riwayat serangan jantung, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, dan penyakit katup. Terapi kanker tertentu juga dapat melemahkan otot jantung.
Gaya Hidup
Merokok, alkohol berlebihan, dan penyalahgunaan zat seperti kokain atau metamfetamin dapat merusak otot jantung.
Genetik
Sebagian kardiomiopati dilatasi bersifat diturunkan. Riwayat kardiomiopati atau kematian mendadak di usia muda dalam keluarga perlu disampaikan ke dokter.
Usia
Risiko meningkat seiring usia, dan jenis ini lebih sering dijumpai pada laki-laki dibanding perempuan.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyintas Serangan Jantung: Bagian otot yang rusak dapat membuat bilik kiri melebar dan pompa melemah, sehingga fraksi ejeksi perlu dinilai setelah serangan jantung.
- Keluarga Penyandang Kardiomiopati Dilatasi: Kerabat tingkat pertama dianjurkan menjalani skrining EKG dan ekokardiografi, dan bila perlu tes genetik.
- Pasien Kemoterapi atau Radioterapi Dada: Beberapa terapi kanker dapat memengaruhi otot jantung; pemantauan dilakukan sebelum, selama, dan setelah terapi.
- Peminum Alkohol Berat: Alkohol dalam jumlah besar selama bertahun-tahun dapat melemahkan otot jantung; berhenti minum dapat memperbaiki fungsinya.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Diagnosis dimulai dari keluhan, pemeriksaan fisik, EKG, dan tes NT-proBNP atau BNP. Ekokardiografi memastikan fraksi ejeksi 40% atau kurang, sekaligus menilai ukuran bilik, gerak dinding, dan katup. Langkah berikutnya adalah mencari penyebab, karena penanganan penyebab dapat memperbaiki fungsi pompa.
Bila penyakit jantung koroner diduga, dokter menganjurkan angiografi koroner atau CT angiografi koroner. MRI jantung membantu membedakan bekas serangan jantung dari kardiomiopati lain, peradangan, atau penumpukan zat di otot jantung. Tes darah menilai fungsi ginjal, kalium, darah lengkap, tiroid, dan kadar zat besi. EKG juga dipakai untuk menilai lebar kompleks QRS, yang menentukan apakah terapi resinkronisasi bermanfaat. Ekokardiografi diulang setelah obat berjalan sekitar tiga bulan sebagai dasar keputusan pemasangan ICD.
Ekokardiografi
Memastikan fraksi ejeksi 40% atau kurang, menilai ukuran bilik, gerak dinding, dan katup. Diulang setelah pengobatan berjalan untuk menilai perbaikan dan kebutuhan alat.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari bekas serangan jantung dan gangguan irama, serta mengukur lebar kompleks QRS yang menentukan manfaat terapi resinkronisasi.
Tes NT-proBNP / BNP
Mendukung diagnosis dan membantu memantau respons terhadap pengobatan.
MRI Jantung
Membedakan bekas serangan jantung dari kardiomiopati lain, peradangan, atau penumpukan zat di otot jantung.
Angiografi Koroner
Mencari penyempitan arteri koroner sebagai penyebab, dan menentukan apakah arteri perlu dibuka.
Pemeriksaan Laboratorium
Fungsi ginjal, kalium, darah lengkap, tiroid, dan kadar zat besi untuk mencari penyebab dan memantau keamanan obat.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Empat Golongan Obat Utama
Penghambat ACE atau ARNI, penyekat beta, MRA, dan penghambat SGLT2 untuk mengurangi rawat inap dan kematian. Dokter menaikkan dosis bertahap; jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri.
Diuretik
Obat peluruh cairan untuk meredakan sesak dan bengkak. Dosisnya diatur ulang saat cairan berlebih berkurang atau bertambah.
Obat Tambahan Sesuai Keadaan
Pada keadaan tertentu dokter dapat menambahkan obat penurun denyut, digoksin, kombinasi hidralazin dan nitrat, atau zat besi lewat infus bila kekurangan zat besi.
ICD dan Terapi Resinkronisasi
ICD dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap 35% atau kurang setelah sekitar tiga bulan obat lengkap. CRT bermanfaat bila kontraksi bilik tidak serempak, terlihat dari kompleks QRS yang lebar.
Penanganan Penyebab
Revaskularisasi koroner pada pasien tertentu, perbaikan katup termasuk perbaikan katup mitral lewat kateter, dan ablasi bila fibrilasi atrium memperberat kondisi.
Rehabilitasi dan Perawatan Diri
Latihan fisik terpantau, pembatasan garam, timbang berat badan harian, dan kontrol teratur untuk menyesuaikan obat.
Terapi Gagal Jantung Lanjut
Pompa jantung mekanis (LVAD) atau transplantasi jantung bagi yang tetap bergejala berat meski terapi lengkap.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Irama Bilik yang Berbahaya
Fraksi ejeksi yang sangat rendah meningkatkan risiko irama bilik yang dapat menyebabkan henti jantung. Pada pasien tertentu, ICD dipasang untuk mencegahnya.
Fibrilasi Atrium dan Stroke
Serambi yang melebar mudah mengalami fibrilasi atrium, yang memperberat gagal jantung dan meningkatkan risiko stroke.
Kebocoran Katup Mitral
Bilik kiri yang melebar menarik daun katup mitral sehingga katup tidak menutup rapat dan sesak bertambah.
Gangguan Fungsi Ginjal
Aliran darah yang berkurang membebani ginjal, dan beberapa obat memengaruhi ginjal serta kalium, sehingga tes darah rutin diperlukan.
Perburukan Akut
Sewaktu-waktu gejala dapat memburuk cepat dan perlu dirawat, yang dibahas di halaman Gagal Jantung Akut.
Gagal Jantung Lanjut
Bila pompa terus melemah meski terapi lengkap, gejala menjadi berat dan diperlukan pilihan lanjutan seperti pompa jantung mekanis atau transplantasi.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Minum obat sesuai resep dan datang kontrol untuk penyesuaian dosis bertahap.
- Timbang berat badan setiap pagi; hubungi dokter bila naik 2 kg atau lebih dalam 3 hari.
- Batasi garam dan hindari alkohol.
- Tanyakan kepada dokter sebelum memakai obat antinyeri golongan OAINS, jamu, atau suplemen.
- Ikuti rehabilitasi jantung dan tetap aktif sesuai kemampuan.
- Kendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
- Dapatkan vaksin influenza dan pneumokokus sesuai anjuran dokter.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Periksakan diri ke dokter jantung bila sesak napas, mudah lelah, atau bengkak baru muncul, terutama bila Anda pernah mengalami serangan jantung atau memiliki keluarga dengan kardiomiopati. Bagi yang sudah terdiagnosis, hubungi dokter lebih awal bila muncul hal berikut.
- Berat badan naik 2 kg atau lebih dalam 3 hari.
- Sesak atau bengkak bertambah dibanding biasanya.
- Pusing saat berdiri atau tekanan darah jauh lebih rendah dari biasa.
- Anda mendapat kejutan dari ICD.
- Segera ke IGD bila sesak berat saat istirahat, pingsan, atau nyeri dada.
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang gagal jantung fraksi ejeksi menurun.
Apakah fraksi ejeksi saya bisa naik lagi?
Bisa. Pada sebagian pasien, fraksi ejeksi naik di atas 40% setelah obat lengkap berjalan beberapa bulan, terutama bila penyebabnya dapat diatasi, misalnya denyut yang terlalu cepat, alkohol, atau peradangan otot jantung. Keadaan ini disebut fraksi ejeksi membaik. Pengobatan tetap diteruskan, karena penelitian TRED-HF menunjukkan fungsi pompa dapat turun kembali bila obat dihentikan.
Mengapa saya harus minum beberapa obat sekaligus?
Setiap golongan obat bekerja pada jalur yang berbeda: ada yang meredam hormon penahan garam dan air, ada yang memperlambat denyut dan melindungi otot jantung, dan ada yang membantu ginjal membuang garam. Manfaatnya saling menambah. Analisis gabungan penelitian memperkirakan kombinasi empat golongan dapat menambah beberapa tahun harapan hidup dibanding pengobatan lama. Bila muncul efek samping, sampaikan ke dokter, jangan menghentikannya sendiri.
Kapan saya perlu dipasang ICD atau CRT?
ICD dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap 35% atau kurang setelah sekitar tiga bulan pengobatan lengkap, untuk mencegah kematian mendadak akibat irama bilik yang berbahaya. CRT, yaitu alat pacu dengan kabel ke kedua bilik, bermanfaat bila EKG menunjukkan kontraksi bilik tidak serempak, terlihat dari kompleks QRS yang lebar. Keputusan dibuat bersama dokter dengan menimbang usia, penyakit lain, dan harapan Anda.
Tekanan darah saya turun setelah minum obat, apakah berbahaya?
Banyak obat gagal jantung menurunkan tekanan darah, dan angka yang lebih rendah dari sebelumnya sering masih aman selama Anda tidak pusing atau lemas. Bila Anda pusing saat berdiri, hampir pingsan, atau tekanan darah jauh lebih rendah dari biasanya, hubungi dokter. Dokter dapat mengatur ulang waktu minum atau dosis obat. Jangan menghentikan obat sendiri, karena hal itu dapat memicu perburukan.
Apa beda gagal jantung fraksi ejeksi menurun dengan kardiomiopati dilatasi?
Kardiomiopati dilatasi adalah salah satu penyebab, yaitu penyakit otot jantung yang membuat bilik kiri melebar dan lemah tanpa penyakit koroner atau katup yang cukup berat untuk menjelaskannya. Gagal jantung fraksi ejeksi menurun adalah sindrom yang dapat timbul dari berbagai penyebab, termasuk kardiomiopati dilatasi dan bekas serangan jantung. Penyakit ini dibahas di halaman Kardiomiopati Dilatasi.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh Dr. dr. Dudy A. Hanafy, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), MARS.
- McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2021;42(36):3599-3726.
- McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2023 Focused Update of the 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2023;44(37):3627-3639.
- Heidenreich PA, Bozkurt B, Aguilar D, Allen LA, Byun JJ, Colvin MM, et al. 2022 AHA/ACC/HFSA Guideline for the Management of Heart Failure: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2022;145(18):e895-e1032.
- McMurray JJV, Solomon SD, Inzucchi SE, Køber L, Kosiborod MN, Martinez FA, et al. Dapagliflozin in patients with heart failure and reduced ejection fraction. N Engl J Med. 2019;381(21):1995-2008.
- Vaduganathan M, Claggett BL, Jhund PS, Cunningham JW, Pedro Ferreira J, Zannad F, et al. Estimating lifetime benefits of comprehensive disease-modifying pharmacological therapies in patients with heart failure with reduced ejection fraction: a comparative analysis of three randomised controlled trials. Lancet. 2020;396(10244):121-128.
- Murphy SP, Ibrahim NE, Januzzi JL Jr. Heart failure with reduced ejection fraction: a review. JAMA. 2020;324(5):488-504.
- Halliday BP, Wassall R, Lota AS, Khalique Z, Gregson J, Newsome S, et al. Withdrawal of pharmacological treatment for heart failure in patients with recovered dilated cardiomyopathy (TRED-HF): an open-label, pilot, randomised trial. Lancet. 2019;393(10166):61-73.




