Jawaban singkat
Apa Itu Iskemia Miokard tanpa Gejala?
Iskemia miokard tanpa gejala adalah keadaan ketika otot jantung kekurangan aliran darah tetapi tidak menimbulkan nyeri dada. Kondisi ini biasanya ditemukan lewat EKG atau uji jantung, dan risikonya setara dengan iskemia yang terasa.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Nyeri atau rasa tertekan di dada lebih dari 5 menit
- Sesak napas berat yang muncul tiba-tiba
- Keringat dingin disertai lemas berat atau mual
- Pingsan atau hampir pingsan
- Denyut jantung sangat cepat atau sangat tidak teratur disertai lemas
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Iskemia Miokard tanpa Gejala
Iskemia miokard berarti otot jantung (miokard) tidak mendapat cukup darah kaya oksigen. Biasanya keadaan ini menimbulkan nyeri atau rasa tertekan di dada yang disebut angina. Pada iskemia miokard tanpa gejala, kekurangan aliran darah itu terbukti dari pemeriksaan, misalnya perubahan rekaman EKG atau gerak dinding jantung yang melemah saat uji latih, tetapi orangnya tidak merasakan apa-apa.
Mengapa Tidak Terasa
Penyebab kekurangan aliran darahnya sama dengan penyakit jantung koroner pada umumnya, yaitu penyempitan arteri koroner oleh plak, gangguan pembuluh darah kecil, atau kejang arteri. Yang berbeda adalah sinyal nyerinya. Diabetes yang lama dapat merusak saraf yang menghantarkan rasa nyeri dari jantung. Ambang nyeri juga cenderung lebih tinggi pada usia lanjut. Setelah serangan jantung atau operasi bypass, sebagian saraf jantung ikut rusak atau terputus. Episode iskemia yang singkat atau ringan pun sering tidak cukup untuk menimbulkan nyeri.
Tiga Pola yang Dikenal Dokter
Ada orang yang sama sekali tidak pernah merasakan keluhan, ada yang baru mengalaminya setelah pernah terkena serangan jantung, dan ada pula penderita angina yang selain episode nyeri juga mengalami episode iskemia tanpa nyeri. Pola terakhir ini cukup umum: pada sebagian penderita angina, rekaman EKG 24 jam menunjukkan lebih banyak episode iskemia tanpa nyeri daripada episode yang terasa.
Berbeda dengan Infark tanpa Gejala
Iskemia berarti otot jantung kekurangan darah untuk sementara dan belum mati. Bila kekurangan itu berlangsung cukup lama sampai sebagian otot rusak tanpa disadari, keadaannya disebut infark tanpa gejala, yang dibahas di halaman Infark Miokard tanpa Gejala.
Mengapa Tetap Perlu Ditangani
Penelitian menunjukkan bahwa iskemia yang tidak terasa membawa risiko serangan jantung dan gangguan irama yang serupa dengan iskemia yang terasa. Penanganannya pun sama dengan penyakit jantung koroner, yang dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner: pengendalian faktor risiko, obat pelindung jantung, dan pembukaan arteri bila diperlukan. Karena tidak ada nyeri sebagai alarm, kontrol teratur dan perhatian pada perubahan kemampuan beraktivitas menjadi pengganti alarm tersebut.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Sebagian besar penderita tidak merasakan keluhan. Bila ada, keluhannya samar dan mudah dianggap kelelahan biasa.
- Tidak ada nyeri dada sama sekali
- Cepat lelah atau napas lebih pendek saat aktivitas yang dulu terasa ringan
- Kemampuan berjalan jauh atau naik tangga menurun perlahan
- Rasa tidak nyaman samar di ulu hati saat beraktivitas
- Berkeringat atau berdebar yang tidak sebanding dengan aktivitas
Gejala pada Lansia
Pada usia lanjut, juga pada penyandang diabetes lama, kekurangan aliran darah jantung lebih sering tidak terasa sebagai nyeri.
- Sesak napas ringan saat beraktivitas tanpa keluhan lain
- Lemas atau lelah yang makin sering tanpa sebab jelas
- Pusing atau terasa hendak pingsan saat beraktivitas
- Tidak ada keluhan, tetapi ditemukan perubahan pada EKG saat pemeriksaan rutin
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Penyempitan arteri koroner oleh plak lemak, seperti pada penyakit jantung koroner yang bergejala
- Gangguan pembuluh darah sangat kecil di otot jantung yang tidak dapat melebar saat jantung bekerja keras
- Kejang (spasme) arteri koroner yang singkat
- Kerusakan saraf akibat diabetes yang lama, sehingga sinyal nyeri dari jantung melemah
- Saraf jantung yang rusak atau terputus setelah serangan jantung atau operasi bypass
- Kebutuhan oksigen jantung yang meningkat, misalnya pada tekanan darah sangat tinggi atau denyut sangat cepat
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Diabetes, terutama yang sudah lama atau disertai kerusakan saraf, riwayat serangan jantung atau operasi bypass, hipertensi, kolesterol LDL tinggi, dan penyakit ginjal kronis.
Gaya Hidup
Merokok, jarang bergerak, pola makan tinggi lemak jenuh dan garam, serta berat badan berlebih mempercepat penyempitan arteri koroner.
Usia
Risiko meningkat seiring usia, dan pada usia lanjut iskemia lebih sering tidak menimbulkan nyeri.
Genetik
Penyakit jantung koroner dini dalam keluarga inti dan kolesterol tinggi turunan menaikkan kemungkinan plak di arteri koroner.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyandang Diabetes: Kerusakan saraf akibat diabetes dapat menghilangkan rasa nyeri dari jantung, sehingga iskemia lebih sering tidak terasa.
- Penyintas Serangan Jantung: Setelah serangan jantung, sebagian episode iskemia berikutnya tidak lagi menimbulkan nyeri yang sama.
- Pasien Pasca-Bypass Koroner: Operasi bypass dapat memutus sebagian saraf jantung, sehingga penyempitan baru pada cangkokan atau arteri lain bisa tidak terasa.
- Lansia: Ambang nyeri yang lebih tinggi dan penyakit penyerta membuat iskemia pada usia lanjut lebih sering samar atau tidak terasa.
- Penyandang Penyakit Ginjal Kronis: Penyakit ginjal kronis mempercepat pengerasan arteri dan sering disertai diabetes, sehingga iskemia mudah tidak disadari.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Karena tidak ada keluhan, iskemia miokard tanpa gejala hampir selalu ditemukan dari pemeriksaan. Sebagian ditemukan secara kebetulan, misalnya dari EKG saat pemeriksaan kesehatan atau sebelum operasi. Sebagian lagi ditemukan saat dokter memeriksa orang yang sudah diketahui menderita penyakit jantung koroner atau yang berisiko tinggi.
Bila ada temuan yang mencurigakan, dokter memastikannya dengan uji pembebanan, seperti tes treadmill, ekokardiografi stres, atau pencitraan perfusi miokard. Uji ini menunjukkan apakah ada otot jantung yang kekurangan darah saat bekerja keras dan seberapa luas. Rekaman EKG 24 jam dapat menangkap episode iskemia selama aktivitas sehari-hari. CT angiografi koroner atau angiografi dengan kateter memperlihatkan letak dan beratnya penyempitan.
Pedoman ESC 2023 tentang diabetes tidak menganjurkan uji iskemia rutin bagi semua penyandang diabetes yang tidak berkeluhan, karena studi DIAD tidak menemukan manfaatnya bagi kejadian jantung. Pemeriksaan dipilih menurut tingkat risiko masing-masing orang.
Elektrokardiogram / EKG
EKG istirahat dapat menunjukkan tanda iskemia atau bekas serangan jantung, tetapi sering normal bila iskemia tidak sedang berlangsung.
Tes Treadmill
Merekam EKG, tekanan darah, dan kemampuan aktivitas saat berjalan di treadmill untuk mencari perubahan yang muncul ketika jantung bekerja keras.
Pemantauan Holter
Merekam EKG selama 24 sampai 48 jam saat aktivitas sehari-hari untuk menangkap episode iskemia yang tidak terasa.
Ekokardiografi Stres
Menilai gerak dinding jantung saat dibebani latihan atau obat; bagian yang melemah menunjukkan otot yang kekurangan darah.
Pencitraan Perfusi Miokard
Pencitraan dengan zat penanda untuk menilai luas dan letak otot jantung yang kekurangan aliran darah.
Angiografi Koroner CT
Melihat plak dan penyempitan arteri koroner tanpa kateter bila uji fungsional belum jelas atau perlu gambaran anatomi.
Angiografi Koroner
Memotret arteri koroner dengan kateter bila hasil uji menunjukkan iskemia luas atau risiko tinggi, sekaligus menentukan perlu tidaknya tindakan.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Pengendalian Faktor Risiko
Berhenti merokok, aktif bergerak, pola makan sehat, serta tekanan darah, kolesterol LDL, dan gula darah yang dikendalikan sampai target yang ditentukan dokter.
Obat Pencegah Kejadian Jantung
Antiplatelet dan statin diberikan bila iskemia disebabkan penyakit jantung koroner, untuk menurunkan risiko serangan jantung. Dokter menentukan jenisnya.
Obat Anti-Iskemia
Penghambat beta, penghambat kanal kalsium, atau nitrat kerja panjang dapat mengurangi episode iskemia, baik yang terasa maupun yang tidak.
Pengendalian Diabetes
Gula darah yang terkendali melindungi pembuluh darah dan saraf. Obat golongan SGLT2 atau GLP-1 tertentu juga melindungi jantung pada penyandang diabetes.
Pembukaan Arteri Koroner
Pemasangan stent atau operasi bypass dipertimbangkan bila iskemia luas, penyempitan berada di pangkal arteri koroner kiri atau di banyak arteri, atau pompa jantung melemah.
Rehabilitasi Jantung
Latihan yang diawasi membantu menentukan takaran aktivitas yang aman, terutama karena nyeri tidak dapat dipakai sebagai batas latihan.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Serangan Jantung
Plak yang menyebabkan iskemia dapat retak dan tertutup bekuan, sehingga arteri tersumbat dan sebagian otot jantung rusak. Dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.
Gangguan Irama Jantung
Otot jantung yang berulang kali kekurangan darah dapat memicu irama tidak teratur, termasuk irama bilik yang berbahaya.
Melemahnya Pompa Jantung
Iskemia berulang dan infark kecil yang tidak disadari dapat melemahkan pompa jantung sampai timbul gagal jantung.
Henti Jantung Mendadak
Pada sebagian kecil orang, irama bilik yang kacau menjadi tanda pertama penyakit jantung koroner yang sebelumnya tidak terasa.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Berhenti merokok dan hindari asap rokok orang lain.
- Kendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol sesuai target dari dokter.
- Bergerak aktif secara teratur sesuai anjuran dokter, misalnya jalan cepat.
- Pilih pola makan kaya sayur, buah, biji-bijian utuh, dan ikan; batasi garam dan lemak jenuh.
- Perhatikan penurunan kemampuan beraktivitas dan sampaikan kepada dokter, meskipun tidak ada nyeri dada.
- Bila pernah serangan jantung atau bypass, jalani kontrol sesuai jadwal meskipun merasa sehat.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Karena kondisi ini tidak menimbulkan nyeri, jangan menunggu keluhan untuk berkonsultasi. Bila suatu saat muncul nyeri dada lebih dari 5 menit, sesak berat, keringat dingin, atau pingsan, segera ke IGD terdekat atau hubungi ambulans (119).
Buat janji dengan dokter jantung bila:
- Hasil EKG pemeriksaan kesehatan Anda menunjukkan kelainan yang disebut tanda iskemia.
- Kemampuan berjalan atau naik tangga menurun tanpa sebab yang jelas, meskipun tidak ada nyeri dada.
- Anda menyandang diabetes lama, penyakit ginjal kronis, atau beberapa faktor risiko sekaligus dan belum pernah dinilai risiko jantungnya.
- Anda pernah serangan jantung, dipasang stent, atau dioperasi bypass dan sudah waktunya kontrol.
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang iskemia miokard tanpa gejala.
Bagaimana jantung bisa kekurangan darah tanpa terasa?
Rasa nyeri dari jantung dihantarkan oleh saraf. Pada diabetes yang lama, saraf ini dapat rusak sehingga sinyal nyerinya melemah. Ambang nyeri juga cenderung meningkat seiring usia, dan sebagian saraf jantung dapat rusak setelah serangan jantung atau operasi bypass. Selain itu, episode iskemia yang singkat atau ringan sering tidak cukup kuat untuk menimbulkan nyeri, meskipun terlihat jelas pada pemeriksaan.
Apa bedanya dengan infark miokard tanpa gejala?
Pada iskemia tanpa gejala, otot jantung kekurangan darah untuk sementara tetapi belum mati, dan biasanya pulih ketika beban jantung berkurang. Pada infark tanpa gejala, sebagian otot sudah rusak dan diganti jaringan parut, meskipun kejadiannya tidak disadari. Infark ditemukan dari EKG atau pencitraan yang menunjukkan bekas kerusakan. Keduanya membutuhkan penanganan penyakit jantung koroner yang sama, dan keduanya perlu dinilai dokter jantung.
Apakah iskemia tanpa gejala lebih ringan daripada angina?
Tidak. Ketiadaan nyeri tidak menandakan penyempitan yang lebih ringan. Penelitian menunjukkan bahwa iskemia yang tidak terasa membawa risiko serangan jantung dan gangguan irama yang serupa dengan iskemia yang menimbulkan angina. Bedanya, penderita tidak punya alarm berupa nyeri, sehingga cenderung terlambat memeriksakan diri. Karena itu dokter menilai beratnya kondisi dari hasil pemeriksaan, bukan dari ada tidaknya keluhan.
Apakah semua penyandang diabetes perlu uji iskemia?
Tidak sebagai pemeriksaan rutin. Studi DIAD pada penyandang diabetes tipe 2 tanpa keluhan menunjukkan bahwa skrining iskemia untuk semua orang tidak menurunkan kejadian serangan jantung. Pedoman ESC 2023 lebih menekankan pengendalian faktor risiko pada semua penyandang diabetes. Uji iskemia dipertimbangkan bila ada keluhan, termasuk sesak atau penurunan kemampuan beraktivitas, kelainan EKG, atau risiko yang sangat tinggi.
Bagaimana memantau kondisi ini bila tidak ada keluhan sebagai penanda?
Kontrol teratur menjadi pengganti alarm nyeri. Dokter memantau tekanan darah, kolesterol LDL, gula darah, dan kepatuhan obat, lalu dapat mengulang uji pembebanan bila ada perubahan. Catat kemampuan aktivitas Anda, misalnya berapa lantai tangga yang dapat dinaiki tanpa berhenti. Penurunan kemampuan ini, sesak baru, atau lelah yang tidak biasa perlu disampaikan kepada dokter meskipun tidak ada nyeri dada.
Apakah iskemia tanpa gejala harus ditangani dengan stent?
Tidak selalu. Studi ISCHEMIA (2020), yang juga mengikutsertakan peserta tanpa keluhan, menunjukkan bahwa pada penyakit koroner stabil, pembukaan arteri sejak awal tidak menurunkan risiko serangan jantung atau kematian secara keseluruhan dibanding pengobatan yang dijalankan dengan baik. Stent atau bypass dipertimbangkan bila iskemia luas, penyempitan berada di lokasi berisiko tinggi, atau pompa jantung melemah. Keputusan dibuat bersama dokter jantung.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh Dr. dr. Jajang Sinardja, Sp.JP(K).
- Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-537.
- Cohn PF, Fox KM, Daly C. Silent Myocardial Ischemia. Circulation. 2003;108(10):1263-77.
- Marx N, Federici M, Schutt K, Muller-Wieland D, Ajjan RA, Antunes MJ, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease in patients with diabetes. Eur Heart J. 2023;44(39):4043-140.
- Young LH, Wackers FJT, Chyun DA, Davey JA, Barrett EJ, Taillefer R, et al. Cardiac Outcomes After Screening for Asymptomatic Coronary Artery Disease in Patients With Type 2 Diabetes: The DIAD Study: A Randomized Controlled Trial. JAMA. 2009;301(15):1547-55.
- Maron DJ, Hochman JS, Reynolds HR, Bangalore S, O'Brien SM, Boden WE, et al. Initial Invasive or Conservative Strategy for Stable Coronary Disease. N Engl J Med. 2020;382(15):1395-407.
- Virani SS, Newby LK, Arnold SV, Bittner V, Brewer LC, Demeter SH, et al. 2023 AHA/ACC/ACCP/ASPC/NLA/PCNA Guideline for the Management of Patients With Chronic Coronary Disease: A Report of the American Heart Association/American College of Cardiology Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2023;148(9):e9-119.




