Langsung ke konten

Heart Wellness · Pola Hidup Sehat

Makanan Sehat untuk Jantung: Pilihan yang Baik dan Cara Mengaturnya Setiap Hari

Makanan sehat untuk jantung tidak harus berupa bahan mahal atau menu yang penuh larangan. Panduan ini membantu Anda memilih makanan sehari-hari, memahami apa yang perlu dibatasi, dan menerapkan pola makan ramah jantung dengan bahan yang akrab di Indonesia.

Ilustrasi anatomi jantung manusia tampak anterior dengan pembuluh koroner, aorta, arteri pulmonalis, serta pembuluh darah utama yang terlihat jelas.
Peninjau medisdr. Juweni Joe, Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik
Tanggal tinjauan
Terakhir diperbarui29 September 2026
Waktu bacaSekitar 17 menit

Mulai dari penjelasan, lanjutkan ke langkah praktis. Gunakan daftar isi untuk memilih bagian yang Anda butuhkan.

Daftar isi artikel

Jawaban singkat

Makanan sehat untuk jantung menekankan pola makan seimbang yang kaya sayur, buah, sumber karbohidrat tinggi serat, ikan, protein nabati, dan lemak tak jenuh. Asupan natrium, gula bebas, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses perlu dibatasi. Pilihan lokal seperti tempe, tahu, ikan kembung, dan sayuran dapat menjadi bagian dari pola makan ramah jantung.

Lihat sumber

Makanan sehat untuk jantung tidak harus identik dengan menu mahal, bahan impor, atau pola makan yang serba dilarang. Dalam kehidupan sehari-hari, tantangannya justru lebih sederhana sekaligus lebih nyata: apakah nasi putih masih boleh, bagaimana dengan santan, apakah gorengan harus dihentikan, dan apa yang sebaiknya dipilih saat makan di warteg, restoran, atau memesan makanan melalui aplikasi?

Jawaban singkatnya, kesehatan jantung lebih dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan daripada satu jenis makanan tertentu. Panduan terbaru American Heart Association (AHA) tahun 2026 menekankan pola makan yang banyak mengandung sayur, buah, biji-bijian utuh, sumber protein yang sehat—terutama dari tumbuhan dan ikan—serta lemak tak jenuh, sambil membatasi natrium, gula tambahan, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses. Prinsip ini berlaku sepanjang hidup dan tetap relevan, baik makanan disiapkan di rumah maupun dibeli dari luar.

Artinya, Anda tidak perlu mencari satu “superfood” untuk jantung. Yang lebih penting adalah apa yang paling sering Anda makan, bagaimana cara mengolahnya, seberapa banyak Anda mengonsumsinya, dan apakah kebiasaan tersebut bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Prinsip Makan Ramah Jantung

Pola makan ramah jantung adalah pola makan yang seimbang, beragam, dan dapat dijalankan secara konsisten, bukan diet ketat yang penuh larangan. AHA menegaskan bahwa fokus utama sebaiknya berada pada pola makan, bukan pada satu nutrisi atau makanan tertentu.

WHO juga menekankan empat prinsip penting dalam pola makan sehat: kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Komposisinya dapat berbeda menurut usia, aktivitas, kondisi kesehatan, budaya, serta bahan makanan yang tersedia secara lokal.

Di Indonesia, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan RI. Dalam satu kali makan, sekitar setengah piring diarahkan untuk sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk-pauk. Kemenkes juga menganjurkan pembatasan makanan yang terlalu asin, manis, dan berlemak serta kebiasaan membaca label makanan kemasan.

Karena itu, daripada bertanya, “Makanan apa yang paling sehat untuk jantung?”, akan lebih berguna jika Anda bertanya: “Pilihan apa yang bisa saya perbaiki dari makanan yang saya konsumsi setiap hari?”

Infografik Heartology tentang piring ramah jantung yang membagi porsi makan menjadi setengah sayur dan buah, seperempat sumber karbohidrat, dan seperempat protein, serta menekankan lemak tak jenuh, pembatasan natrium, gula tambahan, lemak jenuh, dan pilihan air putih.
Gambar: Infografik tentang cara membangun piring ramah jantung dengan kombinasi sayur dan buah, sumber karbohidrat kaya serat, protein yang bervariasi, serta kebiasaan makan yang lebih seimbang.

Pilihan Makanan untuk Jantung

Makanan yang baik untuk kesehatan jantung umumnya berasal dari beberapa kelompok besar: sayur dan buah, sumber karbohidrat tinggi serat, ikan, sumber protein nabati, serta makanan yang menyediakan lemak tak jenuh.

Tidak semuanya harus hadir dalam setiap kali makan. Namun, semakin sering pola ini muncul dalam keseharian, semakin mudah membangun pola makan yang lebih sehat dan seimbang.

Perbanyak Sayur dan Buah

Sayur dan buah menyediakan serat, vitamin, mineral, serta berbagai komponen bioaktif yang menjadi bagian penting dari pola makan sehat.

WHO merekomendasikan konsumsi sedikitnya 400 gram sayur dan buah per hari untuk orang dewasa dan anak berusia di atas 10 tahun.

Dalam praktiknya, Anda tidak perlu mengejar satu jenis buah tertentu. Pisang, pepaya, apel, jeruk, jambu, melon, atau buah lain dapat dikonsumsi bergantian. Begitu juga dengan sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, wortel, buncis, tomat, atau brokoli.

Selain itu, buah utuh lebih baik dipilih secara rutin daripada menjadikan jus sebagai pengganti buah setiap hari. WHO memasukkan gula alami dalam jus buah ke dalam kategori gula bebas, sehingga jumlahnya tetap perlu diperhatikan meskipun tidak ditambahkan gula lagi.

Intinya, variasi dan konsistensi lebih penting daripada mencari buah “terbaik” untuk jantung.

Pilih Karbohidrat yang Lebih Tinggi Serat

Menjaga kesehatan jantung tidak berarti harus menghilangkan karbohidrat.

Yang lebih penting adalah memilih sumber karbohidrat yang lebih kaya serat dan lebih sedikit mengalami proses pemurnian. AHA mendorong biji-bijian utuh sebagai pengganti biji-bijian olahan. Selain itu, berbagai sumber karbohidrat alami juga dapat membantu menambah asupan serat. Contoh sumber karbohidrat yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • oat;
  • beras merah;
  • jagung;
  • umbi-umbian;
  • roti atau produk biji-bijian utuh.

Namun, nasi putih tidak perlu langsung dianggap “buruk”. Jika nasi merupakan makanan pokok Anda, perubahan dapat dilakukan secara bertahap. Misalnya, tambahkan lebih banyak sayur, atur porsi, pilih lauk yang lebih seimbang, atau sesekali mengganti sebagian nasi dengan sumber karbohidrat tinggi serat.

Jadi, fokusnya bukan menghapus nasi, melainkan memperbaiki kualitas dan komposisi satu piring makan.

Pilih Ikan sebagai Salah Satu Sumber Protein

Ikan dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan jantung.

AHA merekomendasikan konsumsi dua porsi ikan per minggu, terutama ikan berlemak, sebagai bagian dari pola makan sehat jantung.

Tidak harus salmon.

Dalam konteks Indonesia, Anda dapat mempertimbangkan ikan kembung, sarden, tongkol, serta berbagai ikan lokal lainnya.

Cara memasaknya juga penting. Ikan yang dikukus, dipanggang, dipepes, atau dimasak dengan sedikit minyak tentu memiliki profil gizi yang berbeda dibanding ikan yang selalu digoreng dan disajikan dengan saus atau bumbu tinggi natrium.

Dengan kata lain, jenis makanan dan cara pengolahannya perlu dilihat sebagai satu kesatuan.

Variasikan Protein dengan Tempe, Tahu, dan Kacang-kacangan

Salah satu kelebihan pola makan Indonesia adalah banyaknya pilihan protein nabati yang terjangkau dan mudah ditemukan.

Tempe, tahu, kacang merah, kacang hijau, serta berbagai kacang dan polong-polongan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

AHA 2026 memberi penekanan kuat pada sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, kacang polong, lentil, serta biji-bijian sebagai bagian dari pola makan kardiovaskular yang sehat.

Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak harus berarti membeli bahan impor atau makanan mahal.

Namun demikian, cara mengolahnya tetap penting. Tempe yang dipepes atau ditumis dengan sedikit minyak berbeda dari tempe yang digoreng sangat kering setiap hari.

Infografik Heartology tentang cara memasak makanan untuk kesehatan jantung, membandingkan ikan, tempe, tahu, dan sayur yang diolah dengan metode lebih sederhana versus digoreng, berminyak, atau tinggi saus dan natrium.
Gambar: Infografik tentang bagaimana cara memasak dapat mengubah konteks nutrisi makanan, dengan contoh ikan, tempe, tahu, dan sayur yang diolah dengan metode berbeda.

Pilih Lemak Tak Jenuh Lebih Sering

Lemak bukan zat gizi yang harus dihilangkan sepenuhnya.

Yang perlu diperhatikan adalah jenis lemak dan jumlahnya. WHO merekomendasikan agar lemak jenuh dibatasi kurang dari 10% asupan energi dan lemak trans kurang dari 1%.

Sumber lemak tak jenuh dapat ditemukan antara lain pada ikan, kacang dan biji-bijian, alpukat, serta sejumlah minyak nabati.

Pesannya bukan “semakin banyak lemak sehat semakin baik”, melainkan menggantikan sebagian lemak jenuh dengan sumber lemak tak jenuh dalam jumlah yang wajar.

Makanan yang Perlu Dibatasi

Menjaga jantung bukan berarti setiap waktu makan harus terasa seperti daftar pantangan. Pendekatan yang lebih realistis adalah memahami makanan atau zat gizi apa yang sebaiknya dibatasi jumlah dan frekuensinya.

Garam dan Natrium Berlebih

Natrium tidak hanya berasal dari garam yang ditambahkan saat memasak.

  • mi instan;
  • makanan kalengan;
  • makanan olahan;
  • kaldu dan bumbu instan;
  • kecap dan saus;
  • makanan restoran;
  • makanan siap saji.

WHO merekomendasikan asupan natrium kurang dari 2 gram per hari, setara dengan sekitar 5 gram garam.

Karena itu, makanan yang terasa tidak terlalu asin belum tentu rendah natrium. Membaca label makanan dapat membantu ketika membandingkan produk sejenis.

Gula Tambahan dan Gula Bebas

Gula tambahan tidak hanya terdapat pada hidangan penutup. Dalam panduan WHO, istilah gula bebas mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula alami yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.

  • kopi dengan sirup atau gula;
  • teh kemasan;
  • minuman bersoda;
  • minuman energi;
  • hidangan penutup;
  • saus tertentu;
  • camilan kemasan.

WHO menganjurkan gula bebas kurang dari 10% total energi harian, dengan asupan yang lebih rendah lagi dapat memberi manfaat tambahan.

Penting membedakan gula bebas dari gula yang secara alami terdapat di dalam buah utuh. Gula dalam buah utuh tidak dikategorikan sebagai gula bebas. Karena itu, semua makanan yang terasa manis tidak perlu diperlakukan dengan cara yang sama.

Lemak Jenuh dan Lemak Trans

Lemak jenuh dapat ditemukan dalam berbagai makanan, termasuk daging berlemak, produk susu tinggi lemak, mentega, serta makanan bersantan.

Namun, satu kali makan gulai atau gorengan tidak berarti pembuluh darah langsung “tersumbat”. Risiko kardiovaskular terbentuk melalui kebiasaan jangka panjang serta berinteraksi dengan faktor lain seperti tekanan darah, kolesterol, diabetes, aktivitas fisik, merokok, dan berat badan.

Karena itu, fokuslah pada pola, bukan pada satu kali makan.

Makanan Ultra-Proses

AHA 2026 menganjurkan lebih sering memilih makanan yang minim proses daripada makanan ultra-proses, terutama yang tinggi gula tambahan, natrium, atau lemak yang kurang menguntungkan.

Namun, istilah “ultra-proses” tidak perlu digunakan untuk menakut-nakuti. Pertanyaan yang lebih praktis adalah:

  • Seberapa sering makanan instan menjadi makanan utama?
  • Apakah sebagian besar makanan sehari-hari berasal dari bahan segar atau minim proses?
  • Apakah Anda sudah mendapat cukup sayur dan buah?
  • Apakah produk kemasan yang dipilih tinggi natrium, gula, atau lemak jenuh?
Infografik pola makan sehat untuk jantung yang membandingkan makanan yang lebih sering dipilih, seperti sayur, buah, karbohidrat tinggi serat, ikan, protein nabati, lemak tak jenuh, dan makanan minim proses, dengan makanan yang perlu dibatasi, seperti natrium berlebih, gula tambahan, lemak jenuh, lemak trans, dan makanan ultra-proses.
Gambar: Infografik tentang pola makan sehat untuk jantung, menampilkan kelompok makanan yang lebih sering dipilih dan yang perlu dibatasi frekuensi atau jumlahnya.

Makanan Indonesia untuk Jantung

Makanan sehat untuk jantung tetap dapat berasal dari bahan yang akrab di meja makan Indonesia. Anda tidak perlu mengganti budaya makan atau mengikuti pola makan asing secara literal.

Yang lebih penting adalah memahami frekuensi, porsi, cara memasak, dan komposisi satu piring.

Infografik Heartology yang menjelaskan apakah santan, gorengan, nasi putih, dan sambal harus dihindari oleh penderita jantung, serta menekankan pentingnya frekuensi konsumsi, porsi, dan cara pengolahan makanan.
Gambar: Infografik tentang santan, gorengan, nasi putih, dan sambal untuk penderita jantung, dengan penekanan bahwa yang perlu diperhatikan adalah frekuensi, porsi, dan cara pengolahannya.

Apakah Santan Harus Dihindari?

Tidak harus dihilangkan sepenuhnya.

Santan mengandung lemak jenuh. Karena itu, jika makanan bersantan pekat dikonsumsi sangat sering dan dalam jumlah besar, total asupan lemak jenuh dapat meningkat.

Pendekatan yang lebih realistis adalah:

  • mengurangi frekuensi hidangan bersantan pekat;
  • menggunakan santan lebih sedikit pada sebagian resep;
  • memperhatikan sumber lemak jenuh lain pada hari yang sama;
  • menambah sayur dan memilih lauk yang lebih ringan.

Jadi, pertanyaannya bukan sekadar “boleh atau tidak?”, melainkan “seberapa sering dan seberapa banyak?”

Apakah Gorengan Harus Dihentikan Total?

Tidak harus.

Namun, jika gorengan menjadi lauk utama setiap kali makan, mengurangi frekuensinya dapat menjadi langkah yang lebih realistis.

Anda dapat mencoba:

  • pepes;
  • kukus;
  • rebus;
  • panggang;
  • tumis dengan penggunaan minyak secukupnya.

WHO juga menyarankan metode memasak seperti mengukus atau merebus sebagai cara untuk membantu mengurangi asupan lemak dibanding menggoreng. Yang penting, jangan menganggap satu kali makan gorengan membuat seluruh pola makan menjadi “gagal”.

Apakah Nasi Putih Buruk untuk Jantung?

Tidak.

Nasi putih tidak perlu diperlakukan sebagai makanan yang terlarang. Namun, biji-bijian utuh dan sumber karbohidrat yang lebih kaya serat dapat lebih sering dipilih dalam pola makan sehat.

Jika Anda tetap makan nasi putih, perhatikan:

  • jumlah porsinya;
  • banyaknya sayur;
  • jenis lauk;
  • minuman yang menyertai;
  • variasi sumber serat sepanjang hari.

Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada nasi, tetapi pada keseluruhan piring makan.

Apakah Sambal Masih Boleh?

Boleh.

Rasa pedas bukan penentu apakah makanan tersebut ramah jantung. Yang lebih penting adalah komposisi sambalnya.

Perhatikan:

  • jumlah minyak;
  • garam;
  • tambahan gula;
  • saus atau penyedap tinggi natrium.

Sambal rumahan dengan penggunaan minyak dan garam yang terukur tentu berbeda dari sambal yang sangat banyak minyak atau bumbu tambahan.

Apakah Tempe dan Tahu Baik untuk Jantung?

Tempe dan tahu dapat menjadi bagian dari pola makan sehat sebagai sumber protein nabati.

Selain mudah ditemukan, keduanya juga dapat membantu memberi variasi sehingga lauk tidak selalu berasal dari daging.

Namun demikian, cara memasak tetap berpengaruh. Pepes tempe, tahu kukus, atau tumisan dengan sedikit minyak berbeda dari gorengan yang dikonsumsi berulang kali.

Apakah Harus Makan Salmon?

Tidak.

Salmon sering disebut karena termasuk ikan berlemak yang kaya omega-3, tetapi AHA juga memasukkan makerel dan sarden sebagai contoh ikan berlemak.

Dalam konteks Indonesia, ikan seperti kembung, sarden, dan tongkol dapat menjadi pilihan yang lebih praktis.

Yang terpenting adalah membuat pola makan sehat cukup realistis untuk dijalankan minggu demi minggu.

Pilihan Lokal yang Lebih Praktis

Jika sering memilih Alternatif yang dapat dipertimbangkan
Ikan impor mahal Ikan kembung, sarden, atau tongkol
Lauk digoreng setiap hari Selang-seling dengan pepes, kukus, rebus, atau panggang
Camilan sangat asin Buah atau kacang tanpa banyak tambahan garam
Lauk hewani setiap kali makan Variasikan dengan tahu, tempe, atau kacang
Makan utama tanpa sayur Tambahkan minimal satu pilihan sayuran
Infografik Heartology tentang pilihan makanan yang lebih sehat untuk jantung, membandingkan kebiasaan sehari-hari dengan alternatif seperti ikan kembung atau sarden, pepes atau kukus, buah dan kacang, tahu atau tempe, tambahan sayur, serta air putih.
Gambar: Infografik tentang penggantian makanan sederhana yang dapat membantu membangun pola makan lebih ramah jantung, seperti memilih ikan lokal, mengurangi frekuensi gorengan, menambah sayur, memvariasikan protein nabati, dan lebih sering memilih air putih.

Menu ramah jantung tidak perlu sama pada setiap orang. Kebutuhan energi, aktivitas, usia, kondisi metabolik, dan pengobatan dapat berbeda.

Karena itu, gunakan kerangka memilih makanan, bukan aturan makan yang terlalu kaku.

Sarapan

Bangun sarapan dari dua atau tiga unsur:

  • sumber karbohidrat yang mengandung serat;
  • sumber protein;
  • buah atau sayur.

Contohnya, oat dengan buah dan kacang tanpa banyak tambahan gula; roti gandum utuh dengan telur dan sayuran; nasi dalam porsi sesuai kebutuhan dengan tahu atau tempe dan sayur; atau buah utuh sebagai pelengkap.

Tidak perlu mengejar sarapan “sempurna”. Yang lebih penting adalah menghindari pola yang hampir seluruhnya terdiri dari gula tambahan atau makanan olahan tanpa cukup serat dan protein.

Makan Siang

Saat melihat piring makan siang, tanyakan:

  1. Apakah ada sayur?
  2. Apa sumber proteinnya?
  3. Seberapa besar porsi makanan pokok?
  4. Bagaimana lauk dimasak?
  5. Apakah hidangan menggunakan banyak saus, kuah, atau bumbu tinggi natrium?

Prinsip Isi Piringku dapat membantu sebagai panduan umum untuk menyeimbangkan sayur, buah, makanan pokok, dan lauk.

Makan Malam

Tidak perlu membuat aturan universal seperti “tidak boleh makan setelah jam tertentu”. Sebaliknya, perhatikan jumlah makanan, komposisi, jenis makanan yang paling sering dipilih, apakah makan terlalu dekat dengan waktu tidur menimbulkan keluhan, dan apakah pola makan sepanjang hari sudah seimbang.

Camilan

Camilan tidak wajib. Namun, jika Anda membutuhkannya, pilihannya dapat berupa:

  • buah utuh;
  • kacang tanpa banyak tambahan garam;
  • yoghurt sesuai kebutuhan;
  • makanan minim proses.

Makan Sehat di Luar

Pola makan untuk kesehatan jantung baru benar-benar berguna jika bisa diterapkan dalam kehidupan nyata—termasuk saat Anda tidak memasak sendiri. AHA 2026 menekankan bahwa prinsip pola makan sehat tetap berlaku di mana pun makanan dibeli, dimasak, atau dikonsumsi.

Saat Makan di Warteg atau Kantin

Gunakan urutan sederhana:

  1. Pertama, cari sayur. Tambahkan satu atau dua pilihan sayuran jika tersedia.
  2. Kedua, pilih protein. Ikan, telur, tahu, tempe, ayam, atau lauk lain dapat dipilih sesuai keseluruhan menu.
  3. Selanjutnya, lihat cara memasaknya. Jika lauk sudah digoreng, Anda bisa memilih sayur yang tidak ikut digoreng.
  4. Kemudian, perhatikan kuah dan saus. Kecap, saus, kaldu, dan kuah dapat menambah natrium.
  5. Akhirnya, lihat minumannya. Air putih tetap menjadi pilihan sederhana untuk mengurangi gula tambahan.

Saat Makan di Restoran

Anda tidak perlu menghindari makan bersama keluarga atau rekan kerja. Cobalah:

  • memilih hidangan dengan sayur;
  • memilih ikan atau lauk yang tidak selalu digoreng;
  • meminta saus terpisah bila memungkinkan;
  • berbagi hidangan jika porsinya sangat besar;
  • memilih air putih atau minuman tanpa banyak gula tambahan.

NHLBI juga menyarankan perhatian terhadap makanan yang diasinkan, diasap, atau menggunakan banyak kecap dan kaldu karena dapat meningkatkan asupan natrium.

Saat Pesan Makanan Online

Sebelum menekan tombol pesan, cek lima hal:

  • Lauk: apa sumber proteinnya?
  • Cara masak: goreng, bakar, kukus, atau berkuah?
  • Sayur: apakah ada sayuran?
  • Pelengkap: berapa banyak saus, sambal, atau topping?
  • Minuman: air putih atau minuman dengan tambahan gula?

Makanan pesan-antar tidak selalu menjadi pilihan yang kurang sehat. Tujuannya adalah memilih opsi yang sedikit lebih baik daripada yang biasanya Anda pesan.

Infografik Heartology tentang 5 langkah memilih makanan ramah jantung saat makan di luar: cari sayur, lihat protein, perhatikan cara masak, cek kuah saus dan topping, serta pilih minuman dengan lebih bijak.
Gambar: Infografik tentang 5 langkah praktis memilih makanan yang lebih ramah jantung saat makan di warteg, restoran, atau memesan makanan online.

Cara Membaca Label Makanan

Saat membandingkan produk, perhatikan beberapa informasi berikut:

  • ukuran sajian;
  • jumlah sajian per kemasan;
  • natrium;
  • gula;
  • lemak jenuh.

BPOM telah menetapkan Peraturan Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Aturan tersebut berlaku dan mulai digunakan sebagai acuan registrasi baru pangan olahan pada Agustus 2026.

Satu kesalahan yang sering terjadi adalah melihat angka gizi tanpa memperhatikan ukuran sajian. Jika label menghitung kandungan untuk satu sajian tetapi Anda mengonsumsi dua sajian, jumlah zat gizi yang dikonsumsi tentu ikut bertambah.

Karena itu, gunakan label sebagai alat pembanding, bukan alat untuk membagi makanan menjadi “baik” atau “jahat”.

Infografik Heartology tentang cara membaca label makanan dengan fokus pada ukuran sajian, jumlah sajian per kemasan, natrium, gula, dan lemak jenuh untuk membantu membandingkan produk makanan secara lebih tepat.
Gambar: Infografik tentang cara membaca label makanan dalam 30 detik dengan memperhatikan ukuran sajian, jumlah sajian per kemasan, natrium, gula, dan lemak jenuh.

Jika Ada Kondisi Tertentu

Panduan umum tentang makanan sehat perlu lebih dipersonalisasi jika Anda sudah memiliki kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit kardiovaskular.

PERKI menempatkan diet dan nutrisi sebagai bagian dari modifikasi gaya hidup dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, bersama pengelolaan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia, dan sindrom kardiometabolik.

Jika Kolesterol Tinggi

Fokus tidak cukup pada “menghindari makanan berkolesterol”. Yang lebih penting adalah keseluruhan pola:

  • membatasi lemak jenuh;
  • meningkatkan sumber serat;
  • lebih sering memilih protein nabati;
  • mengganti sebagian lemak jenuh dengan lemak tak jenuh;
  • membatasi daging olahan.

AHA 2026 menegaskan bahwa bagi kebanyakan orang, kolesterol dari makanan bukan lagi target utama untuk menurunkan risiko kardiovaskular. Fokus tetap berada pada kualitas pola makan secara menyeluruh.

Baca juga: Profil Lipid: Manfaat, Hasil, dan Cara Mengelolanya

Jika Tekanan Darah Tinggi

Pada hipertensi, perhatian terhadap natrium menjadi semakin penting. Pola DASH dikembangkan untuk membantu pengelolaan tekanan darah dan menekankan sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, serta makanan rendah natrium dan lemak jenuh.

Namun demikian, pola makan tidak menggantikan obat antihipertensi yang telah diresepkan.

Jika Diabetes atau Gula Darah Tinggi

Pada diabetes, kualitas dan jumlah karbohidrat perlu disesuaikan dengan kondisi individual. Secara umum:

  • prioritaskan sumber karbohidrat tinggi serat;
  • batasi minuman dengan gula tambahan;
  • perbanyak sayur;
  • perhatikan keseluruhan pola makan;
  • sesuaikan waktu dan jumlah makan dengan terapi bila diperlukan.

Karena kebutuhan tiap orang dapat berbeda, artikel umum tidak dapat menggantikan konsultasi medis atau gizi individual.

Jangan Mengubah Obat Sendiri

Pola makan yang lebih baik dapat membantu pengelolaan faktor risiko. Namun, jangan menghentikan, mengurangi, atau mengubah obat sendiri hanya karena merasa pola makan sudah lebih sehat.

Target tekanan darah, LDL, gula darah, dan parameter lainnya dapat berbeda berdasarkan kondisi klinis.

Pola DASH dan Pola Mediterania

DASH dan pola Mediterania sama-sama merupakan pola makan yang banyak digunakan dalam pencegahan kardiovaskular. Keduanya tidak mengharuskan Anda membeli produk khusus.

Pola DASH

DASH adalah singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. NHLBI menjelaskan DASH sebagai pola makan yang menekankan sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan, unggas, kacang-kacangan dan minyak nabati, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh, minuman tinggi gula, dan natrium.

Prinsip tersebut dapat diterapkan menggunakan bahan Indonesia seperti sayur lokal, buah lokal, tempe, tahu, ikan, kacang-kacangan, dan sumber karbohidrat tinggi serat.

Pola Mediterania

Pola Mediterania mengutamakan sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang dan polong-polongan, ikan, serta sumber lemak tak jenuh, sambil membatasi daging merah dan makanan ultra-proses.

Pola Mediterania tidak memiliki satu menu baku karena kebiasaan makan di negara-negara sekitar Laut Mediterania berbeda-beda. Karena itu, yang penting adalah prinsip pola makannya, bukan meniru menu dari satu negara tertentu.

Infografik perbandingan pola makan DASH dan Mediterania untuk kesehatan jantung, menampilkan prinsip yang sama seperti lebih banyak sayur, buah, pangan minim proses, karbohidrat tinggi serat, protein sehat, serta pembatasan gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium berlebih.
Gambar: Infografik yang membandingkan prinsip pola makan DASH dan Mediterania untuk kesehatan jantung, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya dapat diterapkan dengan bahan makanan yang familiar di Indonesia.

Kapan Perlu Konsultasi?

Informasi umum tentang pola makan dapat menjadi titik awal. Namun, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi menjadi lebih penting jika Anda:

  • hasil pemeriksaan kolesterol, tekanan darah, atau gula darah memerlukan tindak lanjut;
  • memiliki beberapa faktor risiko kardiovaskular sekaligus;
  • sudah didiagnosis penyakit jantung atau pembuluh darah;
  • memiliki diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit kronis lain;
  • menggunakan beberapa obat;
  • mengalami perubahan berat badan yang tidak direncanakan;
  • mendapat rekomendasi diet yang berbeda untuk beberapa kondisi sekaligus.

Dalam situasi tersebut, pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi pribadi.

Baca juga: Periksa Jantung Sejak Dini

Infografik Heartology tentang kapan pola makan perlu dipersonalisasi, mencakup faktor seperti kolesterol, tekanan darah, gula darah, penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal, penggunaan beberapa obat, perubahan berat badan, dan perlunya konsultasi dokter.
Gambar: Infografik tentang kapan panduan umum pola makan tidak lagi cukup dan kapan pola makan perlu dipersonalisasi berdasarkan faktor risiko, hasil pemeriksaan, kondisi medis, serta penggunaan obat.

Tanda Darurat Jantung

Pola makan membantu pencegahan dan pengelolaan risiko, tetapi bukan penanganan untuk keadaan darurat.

AHA menyebut beberapa tanda serangan jantung yang perlu mendapat pertolongan segera, antara lain rasa tertekan, penuh, tidak nyaman, atau nyeri di dada; nyeri atau rasa tidak nyaman di lengan, punggung, leher, rahang, atau perut; sesak napas; keringat dingin; mual; serta rasa melayang atau hampir pingsan. Gejala dapat berbeda pada setiap orang.

Mulai dari Perubahan Kecil

Menjaga jantung bukan ujian yang harus selalu mendapat nilai sempurna.

Jika pola makan Anda hari ini masih jauh dari ideal, tidak perlu mengganti semuanya sekaligus. Mulailah dari satu kebiasaan yang bisa dipertahankan:

  • tambahkan satu porsi sayur;
  • ganti satu minuman manis dengan air putih;
  • variasikan protein dengan ikan atau tempe;
  • kurangi frekuensi gorengan;
  • bandingkan natrium pada makanan kemasan;
  • bawa buah sebagai camilan.

Setelah satu perubahan terasa normal, lanjutkan ke kebiasaan berikutnya.

Infografik Heartology Cardiovascular Hospital berjudul “Mulai dari 1 Perubahan Kecil” yang menjelaskan enam kebiasaan sederhana untuk pola makan sehat jantung, seperti menambah satu porsi sayur, mengganti minuman manis dengan air putih, memvariasikan protein, mengurangi gorengan, membandingkan natrium pada makanan kemasan, dan membawa buah sebagai camilan.
Gambar: Infografik tentang langkah kecil yang realistis untuk membangun pola makan sehat jantung, mulai dari menambah sayur, mengganti minuman manis dengan air putih, hingga mengurangi frekuensi gorengan.

Pada akhirnya, makanan sehat untuk jantung adalah pola makan yang bisa Anda jalani secara konsisten, cukup fleksibel untuk kehidupan sehari-hari, dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mulai membuat satu pilihan yang lebih baik hari ini.

Disclaimer Medis

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis, konsultasi, maupun rencana terapi dari dokter atau ahli gizi. Kebutuhan nutrisi dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, obat yang digunakan, aktivitas fisik, dan hasil pemeriksaan masing-masing individu.

Simpan sebagai pengingat

Checklist sebelum Konsultasi

Tandai hal yang sudah Anda siapkan.

0 dari 6 item ditandai

Tanda hanya tersimpan selama halaman ini dibuka.

Langkah berikutnya

Ingin Mengenal Dokter yang Relevan?

Kenali dokter berdasarkan spesialisasi dan fokus klinisnya sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Pertanyaan yang Sering Muncul.

Berikut ini beberapa pertanyaan seputar makanan sehat untuk jantung yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Apa saja makanan yang baik untuk kesehatan jantung?

Tidak ada satu makanan terbaik untuk jantung. Pola makan yang mendukung kesehatan jantung umumnya banyak mengandung sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan, kacang-kacangan, protein nabati, serta sumber lemak tak jenuh. Sebaliknya, natrium, gula tambahan, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses sebaiknya dibatasi.

Buah apa yang baik untuk jantung?

Berbagai jenis buah dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Fokuskan pada variasi buah utuh secara rutin daripada mencari satu buah yang diklaim “paling baik”.

Sayur apa yang baik untuk jantung?

Bayam, kangkung, sawi, wortel, brokoli, tomat, buncis, dan berbagai sayur lokal dapat dikonsumsi bergantian. Yang lebih penting adalah variasi dan konsistensinya.

Ikan apa yang baik selain salmon?

Ikan kembung, sarden, atau tongkol dapat menjadi pilihan lokal. AHA merekomendasikan konsumsi ikan secara teratur sebagai bagian dari pola makan sehat jantung.

Apakah tempe baik untuk kesehatan jantung?

Ya, tempe dapat menjadi bagian dari pola makan sehat karena merupakan sumber protein nabati. Namun, nilainya dalam pola makan sehat tetap dipengaruhi cara memasak dan keseluruhan pola makan.

Apakah santan harus dihindari?

Tidak harus sepenuhnya. Karena santan mengandung lemak jenuh, lebih penting memperhatikan jumlah, frekuensi, dan sumber lemak jenuh lain yang dikonsumsi.

Apakah gorengan harus dihentikan?

Tidak harus. Mengurangi frekuensi dan mengganti sebagian dengan makanan yang dikukus, dipepes, direbus, atau dipanggang merupakan langkah yang lebih realistis.

Apakah nasi putih buruk untuk jantung?

Tidak. Nasi putih tidak perlu dianggap sebagai makanan terlarang. Namun, sumber karbohidrat tinggi serat dapat lebih sering dipilih, sementara porsi dan komposisi seluruh piring tetap diperhatikan.

Apakah sambal aman?

Bisa. Yang perlu diperhatikan bukan hanya rasa pedasnya, tetapi juga jumlah minyak, garam, gula, serta saus atau penyedap yang digunakan.

Apakah makanan sehat untuk jantung harus mahal?

Tidak. Tempe, tahu, sayur lokal, buah musiman, kacang-kacangan, dan ikan lokal dapat membantu membentuk pola makan sehat tanpa harus bergantung pada bahan impor.

Apakah usia 20–30 tahun sudah perlu menjaga pola makan?

Ya. Sangat ditekankan pentingnya membangun kebiasaan makan sehat sejak dini dan mempertahankannya sepanjang kehidupan.

Bagaimana memilih makanan lebih sehat saat pesan online?

Cari menu dengan sayur, sumber protein yang jelas, dan cara masak yang tidak selalu digoreng. Selain itu, perhatikan kuah, saus, topping, serta minuman yang dapat menambah natrium atau gula.

Apa perbedaan DASH dan pola Mediterania?

Keduanya menekankan sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang lebih sehat. DASH secara khusus dikembangkan untuk membantu pengelolaan tekanan darah dan memberi perhatian besar pada natrium, sedangkan pola Mediterania menonjolkan pangan nabati, ikan, dan sumber lemak tak jenuh.

Apakah pola makan tetap penting jika sudah minum obat?

Ya. Pola makan tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan kesehatan, tetapi tidak menggantikan obat atau terapi yang diresepkan dokter.

Sumber dan Transparansi.

Peninjau

Ditinjau secara medis oleh dr. Juweni Joe, Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik pada 29 September 2026.

  1. Lichtenstein AH, Khera A, Anderson CAM, et al. (2026). 2026 Dietary Guidance to Improve Cardiovascular Health: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. Published online March 31, 2026. doi:10.1161/CIR.0000000000001435.
  2. World Health Organization. (2026). Healthy Diet. World Health Organization. Updated January 26, 2026.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan RI.
  4. American Heart Association. (2024). Fish and Omega-3 Fatty Acids. American Heart Association. Last reviewed August 23, 2024.
  5. American Heart Association. (2026). Following 9 Key Steps for a Lifetime of Eating Well Can Support Heart Health. American Heart Association Newsroom. Published March 31, 2026.
  6. National Heart, Lung, and Blood Institute. (n.d.). Living With DASH. National Institutes of Health.
  7. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 394.
  8. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. (2022). Panduan Prevensi Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis. Edisi Pertama. Jakarta: PERKI.
  9. National Heart, Lung, and Blood Institute. (n.d.). DASH Eating Plan. National Institutes of Health.
  10. American Heart Association. (2024). Warning Signs of a Heart Attack. American Heart Association. Last reviewed December 12, 2024.
  11. American Heart Association. (2024). What Is the Mediterranean Diet? American Heart Association. Last reviewed May 15, 2024.

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Bila Anda menemukan informasi yang perlu diklarifikasi, sampaikan melalui halaman Kontak Kami.